Thursday, August 31, 2017

Terpikat Sunset di Pantai Lasiana Kupang


Almost disappear

Senja sudah hampir tenggelam. Kembali pada peraduannya ketika saya masih berkecimpung dengan Gmaps. Sementara motor melaju perlahan namun pasti. Saya masih mencari letak Pantai Lasiana yang konon merupakan tempat asyik untuk mengantar sunset pergi.

Letaknya sebenarnya tak begitu jauh dari penginapan yang ada di Oesapa Selatan. Namun menjadi sangat jauh ketika motor mengukur jalanan dari Pelabuhan Tenau. 15 kilometer. Lumayanlah untuk jalanan yang belum begitu dipahami.

Detak jam menunjuk ke angka 17.20 ketika motor tiba di gerbang Pantai Lasiana. Senja nyaris pergi. Tapi masih bisa dinikmati. Saya pun buru-buru turun dan bergegas memburu senja.

Tenggelam

Lasiana saat weekdays tak cukup ramai meski lokasinya sangat dekat dengan bandara dan keramaian. Lasiana sepi. Hanya ada beberapa anak muda yang bermain bola atau sekadar berswafoto dengan background matahari tenggelam.

Bagi saya, menunggu senja di Pantai Lasiana bisa menjadi pilihan tepat bagi siapa saja pecinta sunset. Pepohonan lontar di sekitar pantai sangat menarik diabadikan sebagai foreground foto. Kondisi ombak yang tenang membuat daya tarik senja di Lasiana menjadi lebih menenangkan.

Kedatangan yang sedikit terlambat membuat saya seketika sibuk mengatur rana kamera. Mencari angle pas yang bisa membawa pepohonan, sunset, mungkin juga siluet masuk dalam satu frame. Banyak gaya juga ya amatiran macam saya begini, wkwk.

Amatiran 

Tapi, menurut saya, sunset Lasiana cukup memikat meski kilat dinikmati. Tidak seperti di beberapa pantai yang pernah saya singgahi. Sunset di Lasiana cepat tenggelam seusai membulat dan menunjukkan rona jingga kemerahannya. Meninggalkan gelap dan sendu yang seketika menyergap.

Saya yakin, sebenarnya, Lasiana adalah pantai yang cantik untuk dinikmati kala pagi atau siang sekalipun. Pasirnya putih, ombaknya tenang, letaknya sangat mudah dijangkau. Perpaduan pas bagi pecinta pantai.

Bulat penuh

Tertarik untuk berkunjung ke Lasiana? Untuk datang ke Pantai Lasiana, kalian bisa menggunakan oto (angkot) dari depan bandara atau pun pusat kota Kupang. Biaya oto 3 ribu rupiah. Minta turun di Lasiana. Atau, kalian bisa sewa motor seharga 75 ribu rupiah perhari dan jalan menuju Kelapa Lima, Lasiana. Atau, kalau mau praktis, panggil aja abang tukang ojek. Tarifnya bervariasi bergantung jarak awal ya.

Harga tiket ke Lasiana hanya 5 ribu rupiah perorang. Fasilitas di Lasiana pun sudah sangat memadai. Toilet umum maupun kedai penjual makanan sudah ada. Makanya, kalau cuma punya waktu  satu-dua jam di Kupang, usahakan datang ke Lasiana. Setidaknya biar nggak cuma mampir aja :D.

Kapal

Monday, August 28, 2017

Sedikit Cerita dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur



Selamat datang di Pulau Rote

Pulau Rote.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika saya pada akhirnya akan menginjakkan kaki di salah satu pulau paling luar Indonesia. Namun, semua rencana yang disusun sebulan setelah menikah mengharuskan saya bertandang ke pulau paling selatan ini.

Kala itu, kami membeli tiket sebelum tahu saya hamil. Kala itu, rencana saya adalah pergi ke Pulau Semau. Namun, setelah membaca referensi jika jalanan di sana rusak parah, saya pun berputar haluan. Takut jabang bayi kenapa-napa. Pilihan lain jatuh ke Atambua, Pulau Kera, atau Pulau Rote. Pada akhirnya, Pulau Rote menjadi pilihan lantaran pulau ini istimewa sesuai letak geografisnya. Menjadi bagian dari pulau paling luar Indonesia, saya jadi penasaran kira-kira seperti apa rupanya.

Tujuan ke Pulau Rote bisa ditempuh dengan tiga macam kendaraan: pesawat Wings Air, Susi Air, dan Trans Nusa. Kapal ferry dengan lama perjalanan empat jam dari Pelabuhan Bolok. Dan, kapal cepat dengan waktu tempuh dua jam dari Pelabuhan Tenau. Kami memilih kapal cepat seharga 190 ribu rupiah PP (fyi, harga tiket PP lebih murah 30 ribu rupiah dibanding beli tiket satuan). Kapal cepat menjadi pilihan lantaran bersandar di pusat kota Rote yang berada di Ba’a. sedangkan kapal ferry berhenti di pelabuhan Baru yang jaraknya 6 kilometer dari pusat kota Ba’a. 

Kapal cepat Express Bahari 

Pulau Rote pada kenyataannya adalah pulau yang sangat ramah. Sekali menginjak beton pelabuhan, segerombol bocah cilik asli NTT menyapa kami. Wah, sambutan yang menyenangkan. Saya pun yakin, jika saya akan baik-baik saja di tempat ini.

Anak-anak Pulau Rote

Siang itu sudah pukul 11.30 WITA, sekira 25 menit lagi waktu salah Jumat tiba. Kami sengaja menunggu waktu di warung tepat depan masjid yang berada di dekat pelabuhan. Di sana, saya sempat mencuri dengar obrolan anak sekolah. Yang bikin saya merasa aneh, ada dua-tiga anak seusia SMP yang tengah belajar mengeja umpatan Bahasa Jawa. Mereka malafalkan sambil tertawa-tawa. Kok?
Seusai salat Jumatan, masih di warung sederhana depan masjid, kami berbincang dengan tiga tentara penjaga pulau perbatasan, yang tengah belanja bahan pokok. Namanya, Pulau Ndana.

Pertokoan di Ba'a 

Ya, sejatinya bukan Pulau Rote yang menjadi bagian terluar Indonesia bagian selatan. Melainkan Pulau Ndana. Tetapi, pulau tersebut hanya dihuni oleh sekira 20 tentara penjaga. Tidak ada penduduk sama sekali. Karena hal itulah, Pulau Rote yang dinobatkan sebagai pulau paling luar. Kedatangan para TNI di Pulau Rote tidak lain adalah belanja logistik tiap satu minggu sekali. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu untuk bermain bola, snorkeling, diving, dan tentunya menjaga wilayah garis batas NKRI. 

Meski tidak ada penduduk, Pulau Ndana masih bisa menerima kunjungan wisatawan. Namun, harga kapalnya cukup mahal. Yakni 1,5 juta rupiah menggunakan kapal milik TNI. Tidak ada fasilitas apapun di Pulau Ndana. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Ndana bisa mendirikan tenda, membawa logistik lengkap, dan juga alat selam. Salah satu tentara bercerita jika di Pulau Ndana hanya ada patung Jendral Soedirman dan bangunan sederhana yang bisa digunakan untuk tidur bagi mereka. Kabarnya, pers dilarang masuk pulau ini karena para TNI parno dengan pemberitaan yang dianggap kerap diselewengkan. Untungnya saya nggak ngaku sebagai jurnalis...

Tentara penjaga perbatasan di Pulau Ndana

Soal penginapan, di Ba’a juga sudah ada penginapan. Namun jangan mengharapkan hotel berbintang. Sebab kebanyakan penginapan berbentuk menyerupai kos-kosan jika dibandingkan dengan di Jawa. Harganya pun bervariasi mulai 100-300 ribu rupiah permalam. Kalau mau yang lebih bagus, menginap saja di resor milik asing yang dekat dengan Pantai Nembrala. Tentunya bujet minimal di atas satu juta rupiah.

Penginapan di Rote 

Bicara soal transportasi, umumnya transportasi di sana adalah oto (angkot), ojek, dan sewa mobil. Sewa motor perhari bisa dihargai 100 ribu rupiah. Sebaiknya, kalian menyewa motor di persewaan motor karena lebih aman dan terpercaya. Walaupun memang, kebanyakan tukang ojek juga menawarkan jasa sewa motor (dengan harga sama namun waktu kurang dari 24 jam). 

Resor di Pantai Nembrala, Rote Barat 

Yang menarik, di Rote hanya ada dua SPBU yang tidak setiap hari terisi BBM. Pertamina hanya mengisi setiap minggu pertama dan ketiga. Itu pun setelah diisi hanya bertahan dua hari. Selebihnya SPBU tutup. Dua SPBU tersebut milik pengusaha asal Kupang dan Surabaya. Kuota SPBU milik pengusaha asal Surabaya lebih sedikit dan terbatas, makanya lebih cepat habis. Sedangkan kuota SPBU milik pengusaha Kupang lebih banyak dan setiap pembeli tidak dibatasi.  Nggak heran, jika di sepanjang jalan sangat mudah ditemukan penjaja bensin eceran dengan harga variatif bergantung jarak. Semakin jauh dengan pusat kota, harga bensin eceran akan lebih mahal.

SPBU di Rote tutup 

Rote memang masih didominasi oleh warga beragama Kristen. Namun jangan khawatir, Rote juga didominasi oleh orang Jawa Muslim. Bayangpun, sudah di ujung paling selatan Indonesia, ketemunya orang Jawa juga? Nggak hanya wajahnya yang khas, mereka yang tahu kalau kami orang Jawa pasti mengajak berbicara dengan Bahasa Jawa :))). Umumnya, orang Jawa berjualan makanan khas Jawa serupa Nasi Kuning, Nasi Goreng, dan teman-temannya. Makanya, kami nggak khawatir sama sekali soal makanan. Bahkan yang asyik, mereka menjual makanan dengan harga murah layaknya di Surabaya. Sebungkus Nasi Kuning jumbo plus lauk ayam goring hanya dijual 10 ribu rupiah. Nggak terbayangkan kalau mereka menjual di pulau paling luar Indonesia, kan?

Masjid Tua Rote 

Kebutuhan sehari-hari warga Rote banyak dipasok dari Kupang. Namun, itu tidak menjadikan harga makanan, minuman, sandang, yang dijual harganya setinggi langit. Mereka menjual dengan harga wajar. Seolah tidak berada di luar pulau. Dan, saya tidak pernah menjumpai penduduk yang tidak ramah sekalipun kondisinya jauh berbeda dengan kondisi perkotaan. Mereka masih murah senyum, ramah, dan sangat mudah menolong.

Sehari-harinya, kebanyakan warga Rote di wilayah pesisir bekerja sebagai nelayan dan pembudidaya rumput laut. Sedangkan yang tinggal di perkotaan umumnya bekerja sebagai pedagang. Mereka hidup bersisian meskipun berbeda suku dan agama. Toh, mereka sama-sama mencari hidup di tanah Rote.

Pembudidaya rumput laut di Rote Barat

Bicara soal Rote tak lepas dari pohon lontar yang melegenda. Dari Rotelah alat musik sasando berasal. Alat musik yang kini mulai terbatas pemainnya. Meski pembuat alat musik sasando sudah terbatas, sasando masih kerap dimainkan di berbagai acara pesta. Bukan lagi dikhususkan untuk acara kerajaan. Sayang, di tempat asalnya sendiri, Rote jarang dimainkan. Pohon lontar pun hanya digunakan untuk bahan pembuat gula aren. Padahal dulunya, sasando juga bisa digunakan untuk ember pembawa air dan sebagai topi saat panas atau pun hujan mendera.

Pohon lontar Rote

Soal pendidikan, banyak sekali sekolah tersebar di Rote, mulai perkotaan hingga jauh di pelosok Rote Barat maupun Rote Timur. Kebanyakan sekolah SD Inpres, sedangkan sekolah SMP dan SMA hanya terletak di Kecamatan. Murid-muridnya pun amat ramah. Kami yang melintasi jalanan saat jam pulang sekolah pun disapa sambil berteriak, “Selamat siaaaang…!” kenal juga enggak, tapi mereka menyapa dengan senyuman. Sebuah sapaan yang jarang ditemukan di Surabaya.

SDN Sotimori di Rote Timur 

Berada di perbatasan Indonesia memang kadang membuat hati miris. Apalagi jika pemerintah mengabaikan penduduknya. Namun di Rote, saya pikir semua prasangka akan pemerintah menelantarkan penduduk perbatasan rasanya tidak terjadi. Di bulan kemerdekaan Indonesia ini bahkan saya menjumpai seluruh rumah dan bangunan menancapkan tiang bendera merah putih di halaman masing-masing. Keberadaan bandara, pelabuhan, tiang pemancar telekomunikasi, tidak membuat warga serta-merta terisolir. Mereka nyatanya masih mengakui jika Indonesia adalah tanah airnya.

Jangan gadaikan NKRI kami

Tuesday, August 15, 2017

Menyusuri Jejak Kambing di Teluk Love Jember


Judulnya aneh? Tapi begitulah adanya.

Alkisah Teluk Love di Jember adalah satu tempat yang ditemukan secara tidak sengaja. Teluk Love yang berada tujuh kilometer dari Pantai Pasir Putih Malikan alias Papuma ini dulunya adalah kawasan pemukiman para nelayan--sampai sekarang pun masih. Tepatnya, di Bukit Suroyo atau Bukit Domba. Penamaan bukit tentu ada alasannya. Yaitu, adanya kebiasaan para nelayan yang membiarkan hewan peliharannya berupa kambing untuk mencari makan di bukit. Bukit yang tak begitu tinggi ini adalah tempat favorit para kambing untuk merumput. Pemiliknya amat jarang memantau bagaimana dan ngapain aja para kambing ini di bukit. Mereka percaya para kambing akan baik-baik saja sekalipun bunting dan melahirkan di sana.


Lalu datanglah Mas Budi dan ayahnya yang ketika itu tengah naik ke bukit melihat aktivitas para kambing. Tak sengaja, mereka menemukan sebuah pemandangan, yang jika dilihat dari atas bukit, menyerupai tanda cinta alias hati alias love. Memang tidak utuh, hanya benjolan simbol hati tak berujung. Tapi cukuplah untuk mengisyaratkan bahwa itu simbol cinta.


Mas Budi dan ayahnya kemudian mengajak satu orang rekannya bernama Mas Itu untuk menginisiasi Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) di sana. Sekira Maret 2015 terbentuklah pokdarwis Desa Payangan. Kelompok tersebut melakukan langkah swadaya pemberdayaan daerah setempat yang sebelumnya hanya jadi tempat makan jamaah kambing. Bukit Suroyo dengan jejak langkah jam'iyah kambing pun seketika disulap secara gotong royong menjadi jalan setapak untuk wisatawan. Memang belum total, tapi cukuplah untuk membuat treking santai di perbukitan lebih aman.


Secara teritori, Desa Payangan masuk dalam Kabupaten Jember. Tepatnya di Desa Payangan, Kecamatan Ambulu. Namun, pengelolaan tempat wisata yang diberi nama Teluk Love ini ternyata masuk dalam perizinan hak guna bangunan ke pusat. Makanya, hingga saat ini pengelolaannya tidak dikelola oleh Pemda seperti Papuma--yang dikelola Perhutani dan Pemda. Karena masuk dalam kepemilikan negara, itu berarti jika sewaktu-waktu pengelolaan Teluk Love diminta pusat, warga hanya tinggal melongo. Namun, saat ini, Mas Budi tengah berupaya agar pengelolaan Teluk Love yang diinisiasi olehnya ini bisa dikelola swadaya seperti sekarang. Sebab keberadaannya bisa menghidupi masyarakat sekitar yang dulunya hanya bermatapencaharian sebagai nelayan.


Dikelola swasta atau pribadi bukan berarti untuk masuk ke Teluk Love terbilang mahal. Malah cukup murah. Hanya lima ribu rupiah perorang, tanpa karcis, pengunjung bisa menikmati pemandangan Pantai Payangan, Pulau Klakah, dan Desa Payangan sekaligus dari puncak bukit. Ada banyak gazebo--yang dibangun swadayaditemani angin semilir yang membuat wisatawan bisa melepas lelah sejenak setelah treking 1 kilometer.


Menyusuri jejak para kambing yang kini digunakan untuk para wisatawan, bukan berarti kambing terusir begitu saja. Sebab, di sebelah selatan, mereka masih bisa merumput dan beranak pinak sesukanya. Di selatan, keberadaan mereka tidak akan terganggu manusia meski jalan setapak menuju ke sana cukup jelas untuk disusuri.


Keberadaan Teluk Love memang mengubah kebiasaan dan penghasilan penduduk setempat. Dulunya yang hanya nelayan, melaut bergantung angin, kini bisa membuka warung untuk wisatawan. Bisa membuka jasa penitipan kendaraan. Juga bisa ikut dalam keanggotaan pokdarwis. Mereka juga perlahan mulai sadar akan pentingnya memberikan pelayanan bagi wisatawan. Boleh dibandingkan dengan pengelolaan Papuma yang begitu-begitu saja sejak dari zaman alif. Padahal biaya masuk Papuma cukup mahal untuk ukuran wisata bahari. Ternyata, Mas Budi bercerita, ada target dalam pengelolaan itu. Dia, yang sempat mengelola Pantai Watu Ulo-Papuma, pernah ditarget untuk mendapatkan penghasilan 100 juta rupiah dalam 10 hari kerja. Seekstrem itu tidak banyak membuat perubahan bagi kawasan wisata yang tenar dengan tanjung di tengah lautnya.


Mas Budi kala itu pernah berjanji dan memastikan pada saya bahwa dalam waktu singkat Teluk Love, yang mulai banyak dikenal setelah diliput MTMA, akan terjadi banyak perubahan. Uang tiket lima ribu rupiah dibagi 70:30. Satu bagian untuk pengelolaan wisata, satu bagian lebih kecil untuk pengelola wisata. Cukup adil jika dilihat bagaimana perjuangannya.

NKRI sampai mati

Meski baru tenar dua tahun terakhir, nyatanya pesona Teluk Love amat memikat. Khususnya bagi pasangan muda-mudi yang menghabiskan akhir pekan di sini. Buanyak sekali piyik-piyik berkeliaran pacaran. Nggak cuma pacaran, mereka udah berani main lebih dari "sekadar" pegang tangan. Di depan umum. Di daerah agak pelosok. Wow, kan?


Whatever it is, semoga Teluk Love makin banyak dikenal seantero jagad raya. Dengan pengelolaan yang semakin maksimal.

Wednesday, August 9, 2017

Mengenal Sejarah Pulau Penyengat di Kepulauan Riau


Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat 

Kepulauan Riau menyimpan banyak sekali pulau-pulau kecil yang terserak di sekitar perairan yang mengelilingi. Salah satu pulau di Kepulauan Riau adalah Pulau Penyengat. Mendengar namanya, mungkin di antara kalian sudah tak asing lagi. Sebab, pulau ini sudah amat tenar sejak berabad-abad lalu. Dari namanya, Pulau Penyengat memiliki history yang menarik untuk dicermati.

Selamat datang di Pulau Penyengat 

Nama Penyengat diambil dari sebuah kejadian yang ada sebelum abad ke-18. Kala itu, pulau yang berada di muara Sungai Riau ini menjadi persinggahan bagi pelaut yang ingin mengambil air tawar. Keberadaan air tawar di pulau ini amat melimpah. Padahal, jika dilogika, posisi pulau yang amat dekat dengan laut sangat tidak mungkin jika air yang terkandung di dalamnya berasa tawar. Namun, begitulah Pulau Penyengat. 

 
Selasar Pulau Penyengat


Lain daripada itu, satu masa, seorang pelaut tengah beristirahat di pulau yang hanya sepelemparan batu dengan ibukota Kepulauan Riau, Tanjung Pinang ini disengat serangga sejenis tawon. Sengatan tersebut memakan korban. Oleh karenanya, pulau ini dinamakan Pulau Penyengat yang dikenal hingga kini. 

 
Jalanan di Pulau Penyengat
 
Sejarah berkembang, saat pusat pemerintahan Kerajaan Riau dialihkan di pulau ini, nama Pulau Penyengat diubah menjadi Pulau Penyengat Indera Sakti. Kemudian pada tahun 1803, Pulau Penyengat yang semula berfungsi sebagai pusat pertahanan kala itu berubah menjadi negeri yang berkedudukan Yang Dipertuan Muda. Dan sejak tahun 1900, Pulau Penyengat dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam dan kebudayaan Melayu.

 
Peta sejarah Pulau Penyengat

Well, melihat sejarahnya, Pulau Penyengat sangat layak menjadi salah satu destinasi wajib jika kalian tengah berkunjung ke Tanjung Pinang. Berkunjung ke Pulau Penyengat sangatlah mudah. Hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 10 menit berkendara menggunakan kapal kecil yang disebut pompong. Harga tiket pompong hanya 7 ribu rupiah perorang. Kecelakaan yang sempat menewaskan 15 penumpang pompong beberapa bulan lalu pada kenyataannya tidak membuat surut jumlah kunjungan di Pulau Penyengat. Tidak usah khawatir karena pompong saat ini telah dilengkapi dengan pelampung. 

Pompong 
  
Begitu tiba di pulau Penyengat, kalian akan disuguhi pemandangan bangunan masjid berarsitektur khas Melayu. Warnanya kuning mentereng khas kerajaan. Jika waktu salat tiba, masjid ini akan ramai sekali. Seperti kedatangan saya kala itu bertepatan dengan azan Zuhur.

  
Masjid Sultan Riau 

Berkendara dengan waktu yang begitu singkat, membuat perjalanan ke Pulau Penyengat semakin mendebarkan. Bukan karena kisah sejarah yang melatarbelakangi. Tapi karena banyaknya wisatawan yang memang sengaja datang untuk ngalap berkah, berziarah ke makam raja-raja Kerajaan Riau. Secara khusus. 

Rumah panggung  

Konon, tidak sembarang orang bisa datang ke sini. Misalkan saja, pemuda yang datang bersama kekasih akan membuat jalinan asmara keduanya kandas. Berbeda dengan pasangan suami istri, malah bikin lengket. Namanya juga mitos, boleh percaya atau tidak. Tapi pengalaman pacarnya Abil (yang sempat nemenin saya berkeliling Bintan) dia putus dengan pacarnya sampai tiga kali gara-gara jalan ke Pulau Penyengat (((tiga kali))).

Istana Kantor 

Pulau Penyengat memang dikenal dengan makam para raja Kerajaan Riau. Namun tidak semua makam raja dikebumikan di sini. Berdasarkan sejarah yang lain, Pulau ini merupakan mas kawin bagi makam Raja Hamidah. Selain makam para raja, di Pulau Penyengat juga dimakamkan pencipta gurindam 12 yang amat terkenal, Raja Ali Haji. Ada sebagian gurindam karya Raja Ali Haji disematkan di kompleks makam ini.

Makam Raja Hamidah 

Ada dua alternatif yang bisa kalian lakukan ketika tiba di Pulau Penyengat. Satu, berkendara mengenakan becak motor seharga 25 ribu rupiah bonus diantar keliling pulau—terserah pilih mana saja tujuannya. Dua, berjalan kaki. Saya dan rombongan tentu saja memilih untuk berjalan kaki. Selain hemat di kantong, juga bikin sehat *pret*. 

 
Becak motor

Pulau Penyengat tidak begitu luas. Kalian bisa mengelilingi pulau sambil berjalan santai tak sampai dua jam. Itu pun sudah disambi dengan istirahat dan mengurut kaki yang cenut-cenut.
Bicara tentang Pulau Penyengat, bukan berarti bicara tentang makam para raja saja. Tapi juga bicara tentang peninggalan kebudayaan di zaman itu. Ada banyak bangunan bersejarah yang masih berdiri di sana. Mulai dari Istana Kantor, Balai Adat, benteng pertahanan, dan Gedung Hakim yang hanya tersisa reruntuhan. 

Gedung hakim 

Jika mampir di Balai Adat, kalian akan menemukan pemain biola klasik yang tengah memainkan lagu-lagu Melayu. Amboi, asik nian suaranya! Jangan lupa, cicipi sumur air tawar yang berada di bawah rumah panggung Balai Adat. Rasanya tawar dan segar. Konon, jika meminumnya bisa membuat awet muda dan terbebas dari penyakit. 

 
Balai Adat

Banyak hal yang menarik bisa dikupas di Pulau Penyengat jika kalian memang sengaja memburu sejarah. Niscaya tidak akan kecewa dengan suguhan yang diberikan. Selamat pelesir di Pulau Penyengat!
 


Deram-deram, makanan khas Pulau Penyengat yang manis banget