Tuesday, August 15, 2017

Menyusuri Jejak Kambing di Teluk Love Jember


Judulnya aneh? Tapi begitulah adanya.

Alkisah Teluk Love di Jember adalah satu tempat yang ditemukan secara tidak sengaja. Teluk Love yang berada tujuh kilometer dari Pantai Pasir Putih Malikan alias Papuma ini dulunya adalah kawasan pemukiman para nelayan--sampai sekarang pun masih. Tepatnya, di Bukit Suroyo atau Bukit Domba. Penamaan bukit tentu ada alasannya. Yaitu, adanya kebiasaan para nelayan yang membiarkan hewan peliharannya berupa kambing untuk mencari makan di bukit. Bukit yang tak begitu tinggi ini adalah tempat favorit para kambing untuk merumput. Pemiliknya amat jarang memantau bagaimana dan ngapain aja para kambing ini di bukit. Mereka percaya para kambing akan baik-baik saja sekalipun bunting dan melahirkan di sana.


Lalu datanglah Mas Budi dan ayahnya yang ketika itu tengah naik ke bukit melihat aktivitas para kambing. Tak sengaja, mereka menemukan sebuah pemandangan, yang jika dilihat dari atas bukit, menyerupai tanda cinta alias hati alias love. Memang tidak utuh, hanya benjolan simbol hati tak berujung. Tapi cukuplah untuk mengisyaratkan bahwa itu simbol cinta.


Mas Budi dan ayahnya kemudian mengajak satu orang rekannya bernama Mas Itu untuk menginisiasi Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) di sana. Sekira Maret 2015 terbentuklah pokdarwis Desa Payangan. Kelompok tersebut melakukan langkah swadaya pemberdayaan daerah setempat yang sebelumnya hanya jadi tempat makan jamaah kambing. Bukit Suroyo dengan jejak langkah jam'iyah kambing pun seketika disulap secara gotong royong menjadi jalan setapak untuk wisatawan. Memang belum total, tapi cukuplah untuk membuat treking santai di perbukitan lebih aman.


Secara teritori, Desa Payangan masuk dalam Kabupaten Jember. Tepatnya di Desa Payangan, Kecamatan Ambulu. Namun, pengelolaan tempat wisata yang diberi nama Teluk Love ini ternyata masuk dalam perizinan hak guna bangunan ke pusat. Makanya, hingga saat ini pengelolaannya tidak dikelola oleh Pemda seperti Papuma--yang dikelola Perhutani dan Pemda. Karena masuk dalam kepemilikan negara, itu berarti jika sewaktu-waktu pengelolaan Teluk Love diminta pusat, warga hanya tinggal melongo. Namun, saat ini, Mas Budi tengah berupaya agar pengelolaan Teluk Love yang diinisiasi olehnya ini bisa dikelola swadaya seperti sekarang. Sebab keberadaannya bisa menghidupi masyarakat sekitar yang dulunya hanya bermatapencaharian sebagai nelayan.


Dikelola swasta atau pribadi bukan berarti untuk masuk ke Teluk Love terbilang mahal. Malah cukup murah. Hanya lima ribu rupiah perorang, tanpa karcis, pengunjung bisa menikmati pemandangan Pantai Payangan, Pulau Klakah, dan Desa Payangan sekaligus dari puncak bukit. Ada banyak gazebo--yang dibangun swadayaditemani angin semilir yang membuat wisatawan bisa melepas lelah sejenak setelah treking 1 kilometer.


Menyusuri jejak para kambing yang kini digunakan untuk para wisatawan, bukan berarti kambing terusir begitu saja. Sebab, di sebelah selatan, mereka masih bisa merumput dan beranak pinak sesukanya. Di selatan, keberadaan mereka tidak akan terganggu manusia meski jalan setapak menuju ke sana cukup jelas untuk disusuri.


Keberadaan Teluk Love memang mengubah kebiasaan dan penghasilan penduduk setempat. Dulunya yang hanya nelayan, melaut bergantung angin, kini bisa membuka warung untuk wisatawan. Bisa membuka jasa penitipan kendaraan. Juga bisa ikut dalam keanggotaan pokdarwis. Mereka juga perlahan mulai sadar akan pentingnya memberikan pelayanan bagi wisatawan. Boleh dibandingkan dengan pengelolaan Papuma yang begitu-begitu saja sejak dari zaman alif. Padahal biaya masuk Papuma cukup mahal untuk ukuran wisata bahari. Ternyata, Mas Budi bercerita, ada target dalam pengelolaan itu. Dia, yang sempat mengelola Pantai Watu Ulo-Papuma, pernah ditarget untuk mendapatkan penghasilan 100 juta rupiah dalam 10 hari kerja. Seekstrem itu tidak banyak membuat perubahan bagi kawasan wisata yang tenar dengan tanjung di tengah lautnya.


Mas Budi kala itu pernah berjanji dan memastikan pada saya bahwa dalam waktu singkat Teluk Love, yang mulai banyak dikenal setelah diliput MTMA, akan terjadi banyak perubahan. Uang tiket lima ribu rupiah dibagi 70:30. Satu bagian untuk pengelolaan wisata, satu bagian lebih kecil untuk pengelola wisata. Cukup adil jika dilihat bagaimana perjuangannya.

NKRI sampai mati

Meski baru tenar dua tahun terakhir, nyatanya pesona Teluk Love amat memikat. Khususnya bagi pasangan muda-mudi yang menghabiskan akhir pekan di sini. Buanyak sekali piyik-piyik berkeliaran pacaran. Nggak cuma pacaran, mereka udah berani main lebih dari "sekadar" pegang tangan. Di depan umum. Di daerah agak pelosok. Wow, kan?


Whatever it is, semoga Teluk Love makin banyak dikenal seantero jagad raya. Dengan pengelolaan yang semakin maksimal.

5 comments:

Anggara W. Prasetya said...

Wow.. Kayak bukan di Indonesia..
Semoga bisa main ke sini suatu saat.. Aamiin

Salam dari menggapaiangkasa.com

Atiqoh Hasan said...

amin. segera saja, mas. mumpung belum begitu ramai:))

hari wahyu nugroho said...

wah pasti kalau sunset kece banget ya mbak disini, renyah buat para pemburu sunset ngomong2 itu bentuknya memang mirip love ya ? unik banget

Atiqoh Hasan said...

Iya, mas hari. Tapi ujung dr bentuk lovenya gak ada. Sunsetan belum nyoba, sih. Keburu malem males turunnya :)))

Laila Fitria said...

Pantai ini terletak dibalik bukit dan dibawah karena merupakan pertemuan muara sungai dengan laut. Pantai cocok untuk anak Muda yang ingin menikmati suasana pantai yang beda dari pantai pada umumnya. Namun untuk mencapai titik (Love) nya, anda harus berjalan menaiki bukit selama kurang lebih 20-30 menit dari pintu masuk. Saran saya siapkan energi yang prima dan gunakan sandal atau sepatu gunung karena ketika hujan, sangat licin sekali.

Travel Jember Malang