Wednesday, September 27, 2017

Sarapan Pecel Gudeg Lumintu Khas Jember



Menikmati sajian dua menu sekaligus dalam satu piring sejatinya mengingatkan saya pada Rujak Selingkuh di Pamekasan. Bayangkan, dua rasa dalam satu menu? Rasanya ambyar. Hehe, saya nggak bisa menemukan bentuk kenikmatan salah satu dari keduanya dimana. Karena bagi saya Rujak Soto terlalu ngeblend.

Maka, ketika saya menemukan kuliner unik dan khas Jember berupa Pecel Gudeg, saya sudah siap membayangkan rasanya yang ngeblend dan tak bisa dibedakan. Pecel yang cenderung gurih pedas dengan bumbu kacang bercampur gudeg yang identik dengan rasa manis.



Secara terpisah, pecel adalah makanan favorit saya sejak dari zaman kicik dulu. Pun gudeg. Lidah saya memang lidah Suroboyo asli yang lebih menerima makanan pedas. Tapi gudeg, makanan (sangat) manis yang ternyata bisa diterima dengan mudah oleh lidah saya. Sejak saya mengenal gudeg sekira saat duduk di kelas 1 SD.



Nah, berkunjung ke Jember beberapa waktu lalu memaksa saya untuk mencari kira-kira makanan apa yang bisa dicicipi dan nggak ada di tempat lain.

Pecel Gudeg-lah jawabannya.

Terletak di Jalan Kertanegara 33 Jember, Depot Lumintu secara khusus menjual tiga menu makanan utama: Pecel, Gudeg, dan Pecel Gudeg. Depot Lumintu buka setiap hari kecuali Sabtu mulai pukul 6.00-14.00. Kami datang pukul 6 tet dan antrian panjang sudah mengular di depan depot. Saya menjadi semakin penasaran dengan rasanya.



Berbeda dengan antrian panjang mengular disertai pengambilan nomor urut buat yang dibawa pulang. Yang makan di tempat nggak pake antri. Asyik bangetlah ini. Pelayanan cepat di saat antrian panjang di depan mata.

Soal rasa, karena pecel dan gudeg sama-sama makanan favorit saya, tapi ketika makanan ini dicampur baur, saya kok lebih suka pecelnya ya?



Bumbu pecelnya enak, sayurnya segar, dan rempeyeknya wenaaaak! Saya sampai sayang-sayang buat makan rempeyeknya. Beda dengan gudegnya yang biasa aja rasanya. Itu sayur nangkanya udah enak, tapi kok dikasih cecek (kulit sapi) banyak-banyak? Jadi kayak makan lodehan. Nggak rekomen, sih, buat saya kalau gudegnya ini.



Harga perporsi Pecel Gudeg dibanderol 20 ribu rupiah saja. Ya, standarlah untuk rasa yang lumayan. Rate soal rasa sekira 7/10 saja. Tapi kalau ke Jember nggak mampir ke sini, kayaknya kurang lengkap. Jadi, selamat makan...

Wednesday, September 6, 2017

Setengah Mati ke Danau Laut Mati Rote Timur


Kucinta Rote~

Hari itu kami berencana untuk mengeksplorasi semampunya ke Rote Timur. Bagian lain dari Pulau Rote yang lebih jarang dikunjungi daripada Rote Barat. Sebenarnya cukup was-was juga melihat jarak tempuh Ba'a ke Rote Timur. Bayangpun 65 kilometer! Iya kalau jalanannya mulus semulus paha Barbie, kalau hancur?

Ya sudah, akhirnya kami putuskan untuk berangkat saja. Tujuannya ke Bukit Termanu, Danau Laut Mati, dan Pantai Oesosole. Itu saja. Mengingat jarak tempuhnya yang bikin ngos-ngosan, maka akhirnya dipersingkat saja peritem tujuan wisatanya.
Sepi tanpa pengunjung
 
Dari tiga tujuan wisata rancangan di Rote Timur, Danau Laut Mati adalah perjalanan yang setengah mati ditempuh. Seriusan. Jaraknya jauh, papan penunjuk jalan minim, jarang ada orang lewat (which is GPS, Gunakan Penduduk Sekitar, nggak berfungsi. Apalagi GPS beneran), dan jalanannya nggak benar-benar mulus. Saya pun berulang kali ngomel tiap motor kurang halus melewati jalanan bergelombang. Duluuu, sebelum ada jabang bayi gini, jalanan hancur bisalah dilewati pake kecepatam tinggi. Tapi sekarang kerasa bener nyeri dan kakunya perut kalau kena jalan berlubang atau yang hancur gitu. Ya wis, dinikmati aja.

Sejatinya jalanan di sepanjang Rote Barat atau Timur itu muluuus banget. Tapi kalau sudah mendekati tempat wisata, jalanan mulus berubah jadi jalan pengerasan saja. Alias rusak total. Gimana enggak? Pengerasan cuma pakai batuan, nggak pake aspal coy.

Syahdu

Letak Danau Laut Mati ini setengah mati jauhnya. Parahnya, nggak semua warga lokal kenal dengan tempat ini. Beberapa kali saya harus tanya penduduk sekitar untuk memastikan rute yang kami tempuh sudah benar. Wajar kalau belum banyak wisatawan yang kenal dengan Danau Laut Mati. Sebab, kebanyakan wisatawan eksplor ke Rote Barat yang terkenal dengan ombak aduhainya.

Namun, patut diakui jika jalanan yang berliku menuju Danau Laut Mati memang mengesankan. Sepanjang mata memandang saya disuguhi pemandangan langit biru berarak awan dan dedaunan yang menguning gersang. Ew, kombinasinya cantik! Teriknya matahari sedikit menguap digantikan dengan semilir angin dan pemandangan yang menggoda mata. NTT memang genit.

SDN Sotimori sebagai penanda

Letak Danau Laut Mati memang tersembunyi. Saking tersembunyinya, tak semua warga lokal paham letak persis danau berada. Saat memasuki Desa Sotimori, Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao (tepatnya di SDN Sotimori), desa tempat Danau Laut Mati berada, penduduk menyarankan kami untuk jalan luruuuuus mentok dengan jalanan jelek. Kami jelas nurut toh. Nah, sudah di tempat danau yang dituju, kami sama-sama speechless.

"Masa, sih, kayak gini? Apa udah berubah bentuknya? Masa kalau mau nyemplung kudu sama kebo, sih?"

Ngeliatin kebo lagi mandi

Saya membatin tapi juga tidak bisa menyalahkan si penunjuk jalan. Tapi suami ngotot nggak percaya, kalau danau lebar di depan mata kami dengan belasan ekor kerbau mandi pagi, bukan danau yang kami tuju. Doi nanya ke penduduk sekitar yang kebetulan lagi panen daun bawang.

Dan ternyata benar! Danau yang di depan kami bukanlah Danau Laut Mati! Jeng jeng jeng! Saya langsung lemas membayangkan jalanan rusak yang harus ditempuh kembali. Padahal belum ada 10 menit turun dari motor. Tapi toh saya akhirnya kembali ke motor dan mencari letak si danau yang bener-bener bikin nyaris mati.

Penunjuk terhandal

Letak Danau Laut Mati ternyata sangat mudah ditemukan. Ancer-ancernya, jika kalian sudah menemukan SDN Sotimori, yang diperlukan hanya belok ke kanan. Belokan persis di depan tandon air yang ada di sebelah SDN itu. Kesalahan awal kami, dari SDN ini kami jalan luruuuus sampai jelek. Nah, lalu dari belokan kanan tandon air itu tinggal lurus saja sampai mentok, yang tentunya dengan jalanan yang enggak manusiawi banget.

Dan, Danau Laut Mati benar-benar mati. Hening. Sepi. Sunyi. Nyaris tidak ada kehidupan sama sekali setiba kami sampai sana. Perasaan dongkol langsung hilang begitu melihat cantiknya si danau yang bikin napas tinggal satu-dua ini. Emang cantik banget!

Danau Laut Mati yang bikin setengah mati

Suami langsung nyemplung begitu tahu bahwa inilah danau yang kami cari. Sementara suami nyemplung, saya lebih senang main jepret sana-sini. Ih, tenang banget rasanya. Meskipun sebenarnya dongkol juga begitu pengen foto dengan background cakep tapi suami nggak bisa motret blas :'((

Berdasarkan referensi yang saya baca, dari Danau Laut Mati wisatawan bisa berkeliling danau menggunakan jet ski. Ah, masa? Saya, sih, nggak percaya. Lah wong itu danau nggak ada orang sama sekali. Boro-boro jet ski, yang ada cuma perahu nelayan bersandar dan ditinggalkan pemiliknya. Jadi, sebaiknya begitu sampai di sini, main-main air aja. Soalnya, danau ini memang istimewa.

  
Nyemplung di Danau Laut Mati

Dikatakan laut mati tapi danau. Air di danau ini asin karena bermuara ke laut. Tapi tidak terlalu asin laiknya air laut. Sementara jarak danau ke laut sekira satu kilometer. Pasir di Danau Laut Mati juga mengandung pecahan kerang seperti yang ada di laut. Karena letaknya yang istimewa, penduduk setempat dikabarkan pernah menjumpai ikan air tawar berenang di sini. Bahkan, Trinity pernah menemukan ubur-ubur di sini. Katanya, ekosistemnya masih terpelihara.

Sebenarnya, saya masih sangat betah buat sekadar duduk-duduk di sini. Menikmati keheningan alam. Tapi karena saya butuh pantai banget *sakaw* maka harus rela meninggalkan danau yang dicapai dengan perjuangan setengah mati ini.

Hening sehening-heningnya

Well, kalau mau ke Danau Laut Mati, setidaknya siapkan fisik yang tangguh ya. Soalnya jarak 65 kilometer itu jauh banget kalau ditempuh menggunakan motor. Apalagi dalam kondisi hamil. Antara payah tapi pengen.

Butuh waktu maksimal dua jam untuk sampai di Danau Laut Mati jika ditempuh dari pusat kota Ba'a. Beda lagi kalau ditempuh dari Rote Barat yaaa. Pasti jauuuuuh buanget. Membayangkan saja saya sulit. Siapkan bekal makanan dan minuman karena di sini nggak ada pedagang sama sekali. Boro-boro jualan, warga lokal nongkrong aja juarang!

Oh yaaa, biar nggak dongkol, jangan minta fotoin partner yang nggak bisa motret ya. Karena itu bisa seketika meruntuhkan mood bagus kalian saat berwisata. Kalau bumil yang satu ini, sih, gitu :))).

Sooo, ditunggu di Pulau Rote!

Kekuatan timer memang perlu :))