Skip to main content

Sarapan Pecel Gudeg Lumintu Khas Jember



Menikmati sajian dua menu sekaligus dalam satu piring sejatinya mengingatkan saya pada Rujak Selingkuh di Pamekasan. Bayangkan, dua rasa dalam satu menu? Rasanya ambyar. Hehe, saya nggak bisa menemukan bentuk kenikmatan salah satu dari keduanya dimana. Karena bagi saya Rujak Soto terlalu ngeblend.

Maka, ketika saya menemukan kuliner unik dan khas Jember berupa Pecel Gudeg, saya sudah siap membayangkan rasanya yang ngeblend dan tak bisa dibedakan. Pecel yang cenderung gurih pedas dengan bumbu kacang bercampur gudeg yang identik dengan rasa manis.



Secara terpisah, pecel adalah makanan favorit saya sejak dari zaman kicik dulu. Pun gudeg. Lidah saya memang lidah Suroboyo asli yang lebih menerima makanan pedas. Tapi gudeg, makanan (sangat) manis yang ternyata bisa diterima dengan mudah oleh lidah saya. Sejak saya mengenal gudeg sekira saat duduk di kelas 1 SD.



Nah, berkunjung ke Jember beberapa waktu lalu memaksa saya untuk mencari kira-kira makanan apa yang bisa dicicipi dan nggak ada di tempat lain.

Pecel Gudeg-lah jawabannya.

Terletak di Jalan Kertanegara 33 Jember, Depot Lumintu secara khusus menjual tiga menu makanan utama: Pecel, Gudeg, dan Pecel Gudeg. Depot Lumintu buka setiap hari kecuali Sabtu mulai pukul 6.00-14.00. Kami datang pukul 6 tet dan antrian panjang sudah mengular di depan depot. Saya menjadi semakin penasaran dengan rasanya.



Berbeda dengan antrian panjang mengular disertai pengambilan nomor urut buat yang dibawa pulang. Yang makan di tempat nggak pake antri. Asyik bangetlah ini. Pelayanan cepat di saat antrian panjang di depan mata.

Soal rasa, karena pecel dan gudeg sama-sama makanan favorit saya, tapi ketika makanan ini dicampur baur, saya kok lebih suka pecelnya ya?



Bumbu pecelnya enak, sayurnya segar, dan rempeyeknya wenaaaak! Saya sampai sayang-sayang buat makan rempeyeknya. Beda dengan gudegnya yang biasa aja rasanya. Itu sayur nangkanya udah enak, tapi kok dikasih cecek (kulit sapi) banyak-banyak? Jadi kayak makan lodehan. Nggak rekomen, sih, buat saya kalau gudegnya ini.



Harga perporsi Pecel Gudeg dibanderol 20 ribu rupiah saja. Ya, standarlah untuk rasa yang lumayan. Rate soal rasa sekira 7/10 saja. Tapi kalau ke Jember nggak mampir ke sini, kayaknya kurang lengkap. Jadi, selamat makan...

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…