Saturday, October 14, 2017

Bersantai Kala Weekend di Harris Hotel Malang



Ini kali kedua saya menginap di Harris Hotel Malang. Tahun lalu, saya juga menginap di sini tepat seusai sidang tesis dilakukan. Kebetulan, ada undangan dari instansi yang mengharuskan saya hadir di hari yang sama pascasidang. Ya, sekalian refreshing, kan?



Lalu, tahun ini, di saat saya butuh jalan-jalan ke luar kota, mendadak ada undangan dari instansi yang sama. Menginap di hotel yang sama. Dan, materi yang diberikan 11-12 dengan materi tahun lalu. Alhamdulillah, rezeki bayi yang lagi pengen sarapan di hotel, wkwk.



Harris Hotel Malang terletak tak jauh dari Terminal Arjosari. Tepatnya di Riverside alias di tepi sungai. Bukan di pusat kota Malang. Dari sisi jalan raya, bangunan Harris Hotel tak tampak. Sebab, setiap pengunjung harus melewati pepohonan teduh untuk masuk ke bangunan inti hotel. Ya, sekira 300 meter dari jalan raya gitu. Letaknya jadi seperti tersembunyi. Tapi nggak usah khawatir, ada shuttle car yang bisa digunakan jika pengunjung terpaksa harus berhenti di tepi jalan.



Sama seperti tahun lalu, kondisi Harris Hotel Malang masih menyenangkan. Menyegarkan mata dan nuansa santai langsung menyergap begitu sampai. This is what I want!



Fasilitas Harris Hotel Malang terbilang lengkap untuk sekelas hotel berbintang empat (ya iyalah!). Tapi interior yang didominasi dengan warna orange dan hijau membuat saya merasa senang sekali di sini. Dua warna favorit saya yang seketika membuat mood menjadi baik.



Saya mendapatkan kamar di lantai 3. Berbeda dengan tahun lalu, kamar saya saat ini tidak tampak pemandangan gunung. Gak masalah yang penting tidur hotel *norak*.







Nah, karena saya datang untuk sebuah acara yang mengharuskan duduk lebih lama di ruang meeting, otomatis nggak terlalu lama di kamar. Kebanyakan waktu saya habis di ruang meeting dan toilet. Kok? Yalah, sebagai bumil, wajar dong kalau saya bolak-balik ke toilet. Sayangnya, toilet segambreng yang disiapkan hotel di sebelah ruang meeting nggak disediakan cleaning service. Akibatnya, toiletnya kotor dan becek saat banyak peserta rapat menggunakan toilet. Bahkan ada yang selangnya macet. Iyuh.



Memang, sih, dari segi toilet, saya merasa kurang terfasilitasi. Tapi masih banyak fasilitas yang patut diacungi jempol. Apalagi kalau soal makanan. Waaaah, enak semua! Mulai makan malam, makan siang, terkhusus sarapan yang menunya segambreng. Saya suka, saya suka! Di sekitar resto, ada boneka raksasa Harris yang siap berkeliaran menghibur pengunjung cilik. Jadi mendadak wondering suatu saat mengajak anak ke sini #eaaa.









Restoran di Harris Hotel didesain dengan view kolam renang. Kebayanglah gimana segernya nyemplung di kolam, lalu lapar tinggal makan di seberang. Ada tiga kolam renang di Harris Hotel. Mulai ukuran 0,3 meter, 1 meter, sampai kolam renang khusus dewasa. Semuanya bersih dan tampak menyegarkan. Tak jauh dari restoran dan kolam renang, ada fitness centre yang free digunakan bagi pengunjung. Fasilitasnya lumayan lengkap.







Well, overall, Harris Hotel Malang bagi saya adalah hotel yang menyenangkan. Bisa banget dipakai buat leha-leha santai di akhir pekan bareng kerabat atau pun keluarga. Harganya juga cukup terjangkau. Coba cek Agoda, Hotel.com, atau situs-situs pemesanan hotel serupa. So, selamat mencoba menginap di Harris Hotel Malang!

Wednesday, October 11, 2017

Bertemu Jeremias Pah Maestro Sasando dari Rote



Rote terkenal dengan pohon lontar yang tumbuh berserak tanpa harus dibudidaya. Keberadaannya dimana-mana. Tak perlu jauh untuk mencari di mana lontar berada. Karena di mana kaki menapak, di situ lontar berdiri tegak.

Kedatangan saya ke Rote tentu punya misi khusus (((misi))). Salah satunya adalah menengok asal usul alat musik sasando berada. Sayangnya, Rote tinggallah nama. Tak ada musisi sasando di sana. Meski sasando masih diproduksi dalam jumlah sedikit. Lalu ke mana musisi sekaligus maestro sasando berada?



Tepatnya di Desa Belo, Kupang Tengah, ada seorang maestro sasando yang masih mempertahankan kebudayaan leluhur. Jeremias Pah, begitu namanya kerap disapa. Adalah seorang musisi sasando yang namanya banyak digaungkan karena kepiawaiannya dalam memetik alat musik sasando. Pria berusia 78 tahun itu adalah generasi kedua dari keluarganya yang biasa memainkan sasando untuk kerajaan. Ayahnya, Augost Pah, adalah pemain sasando yang mengajarkan permainan alat musik petik asli Rote itu pada Jeremias. Tak ayal, usia lima tahun pun, Jeremias mulai belajar memainkan sasando.



Sejatinya alat musik sasando sudah dikenal mulai abad ke-17. Kala itu, banyak penduduk Rote yang bisa memainkan sasando. Gimana enggak? Wong sasando itu seperti makanan sehari-hari bagi mereka.

Maksudnya, sasando ditemukan secara tidak sengaja. Berawal dari warga yang iseng membuat alat penimba air dari daun lontar. Lalu pada gagang yang berbahan bambu disematkan pinggiran daun serupa senar. Begitu tersemat, mereka iseng memetiknya. Keluarlah bunyi-bunyian. Dari situ, sasando banyak dibuat hanya sekadar untuk mengisi sepi. Menemani hari-hari penduduk Rote kala bosan menghadang. Lalu, permainan sasando menjelma menjadi musik khusus kerajaan mengiringi nyanyian daerah dan puji-pujian. Menarik, kan?



Rumah Jeremias berukuran sekira 12x20 meter. Di bagian depan, sengaja dibuat sebagai galeri sasando beragam ukuran. Namun yang pasti, ukuran sasando yang bisa dimainkan dibanderol minimal mulai 3,5 juta rupiah.

Dan, siang itu, John Pah, anak Jeremias, yang menyambut kedatangan kami di rumahnya. Oh ya, rumahnya amat mencolok dan terletak di tepi jalan raya. Jadi, mudah bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke sana.

Sebagai tradisi, setiap tamu, berapapun jumlahnya, selalu disambut hangat dengan petikan sasando elektro. Ya, sasando yang tradisional kini telah menjelma selaksa alat musik modern. John berujar, itu akibat pengaruh dari Portugis yang mengajarkan penduduk Rote untuk bermain alat musik elektro. Jadi, kalau kalian datang ke sana, jangan heran kalau sasando sudah tampil modern dan tersambung dengan sound system.



Nyanyian lagu wajib Tanah Airku mengalun di telinga. Tak lupa John menggunakan topi ti'i langga yang dibuat juga dari daun lontar. Itu adalah ciri khas bagi pemain musik sasando. Katanya, biar saat memainkannya bisa lebih meresap di kalbu #tsah.

Meski telah dikenal sejak bertahun lalu, nyatanya pemain sasando tak sebanyak dulu. Bahkan cenderung habis. Makanya, Jeremias bertekad melatih anak-anaknya untuk memainkan sasando. Salah satu dari anaknya, Berto Pah, kakak John, adalah musisi sasando yang mengikuti ajang pencarian bakat IMB beberapa waktu lalu. Berto dan John juga kerap diundang ke berbagai perhelatan musik dunia untuk memainkan sasando. Keren ya?



Puas ngobrol dan mendengarkan sasando, kalian bisa melihat bengkel pembuatan sasando yang berada di sisi rumah Jeremi. Sayang, aktivitas bengkel sedang istirahat. Tak hanya bengkel sasando, di tempat yang sama, Dorce Pah, istri kedua Jeremias menghabiskan waktu dengan menenun kain. Khas Rote, tentunya. Harga yang dibanderol sekira 300 ribu ke atas.

Nggak bisa memainkan sasando tapi ingin punya cinderamata yang khas banget? Kalian bisa membeli miniatur sasando dalam bentuk gantungan kunci yang dibanderol 25 ribu rupiah perbiji. Meski judulnya miniatur, pembuatannya juga menggunakan daun lontar, loh.



Sebelum pulang, Jeremias yang tengah istirahat akhirnya meluangkan waktu untuk berbincang dengan kami. Beliau juga menyempatkan bermain sasando klasik yang telah diupgrade dengan 48-54 senar melingkari bambu. Bunyi yang dikeluarkan jelas berbeda dengan sasando elektro. Lebih syahdu. Mendengarnya sepintas lalu saja, rasanya menyenangkan. Memikirkan sebuah alat musik yang berasal dari tanaman dengan bunyi-bunyian yang merdu didengar. Oh ya, sasando yang dibuat Jeremias tak sama dengan sasando masa lalu ya. Kini, sasando buatannya dibuat lebih modern dengan daun yang bisa dibuka-tutup. Jadi, tidak bisa digunakan sebagai alat penampung air.

Jadi, kalau main-main ke Kupang, pastikan berkunjung ke bengkel pembuatan sasando ya! Sekadar mengetahui sejarahnya tentu bukan satu masalah, kan?