Tuesday, November 28, 2017

Jalan-jalan Santai ke Kota Tua Jakarta


Minggu lalu saya berkesempatan datang ke Jakarta dalam rangka mengikuti pelatihan. Ada waktu dua hari yang longgar. Saya pun langsung kontak teman untuk berjumpa di Kota Tua. Alasannya simpel, karena saya belum pernah ke sana dan penasaran:))).

Saya bertemu dengan Pakde dan Iwan dengan meeting point di Museum Bank Indonesia.


Kawasan Kota Tua ternyata tak lain dan tak bukan kawasan lama Batavia. Kalau di Surabaya, sebelas-dua belaslah sama daerah Surabaya Utara. Didominasi bangunan berarsitektur kuno Belanda yang khas dan mudah dikenali. Hanya saja, kawasan ini tersentralisasi. Jadi sepanjang jalan ya bangunan tua aja. Nah, karena sudah menjadi kawasan wisata, jadi banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya. Dominan, sih, penjaja tato temporer dan kafe-kafe dengan dekorasi unik. Tapi yang nggak kalah banyak adalah grup pengamen. Buanyaaak banget anak-anak muda ngamen di sekitar sana.


Karena saya hanya menuntaskan hasrat terpendam yakni, jalan-jalan keliling Kota Tua, maka jadilah kegiatan kami benar-benar cuma jalan kaki sambil ngobrolin hal nggak penting yang bikin ketawa-ketawa.


Jadi, di Kota Tua Jakarta itu ada banyak spot menarik yang bisa diabadikan. Banyak banget museum yang bertebaran di wilayah ini. Ya, bisa dibilang kalau kawasan Kota Tua merupakan komplek museum-museum. Saya nggak hapal ada museum apa saja. Sebab saya hanya kenal satu museum paling tersohor yakni Museum Fatahillah. Yakinlah kalau di antara kalian pasti minimal pernah mendengar museum ini.

Museum Fatahillah merupakan bangunan utama yang ada di Kota Tua. Bangunan bergaya Belanda ini mulai dibangun pada abad ke-17 dan difungsikan sebagai kantor gubernur. Tetapi sejak masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tahun 1974 fungsi gedung dialihkan menjadi Museum Sejarah Jakarta. Museum ini menyimpan banyak cerita tentang sejarah Jakarta sejak masa Batavia.


Saat sore menjelang, kawasan ini ramai mampus. Dan akan semakin mampus kala malam menjelang. Ya, maklum, tempatnya memang cukup enak buat leha-leha... kalau nggak hujan.

Mau agak ngehits? Kalian bisa sewa sepeda dan topi warna-warni yang banyak dijajakan oleh masyarakat lokal. Di daerah situ juga ada manusia patung berbusana kolonial. Tapi untuk mengabadikan momen bersama manusia patung, sebaiknya kalian memberi uang tips ya.



Puas keliling, kami berniat untuk naik KRL dari Stasiun Kota. Nah, di persimpangan jalan saya menemukan gerobak pedagang roti keliling yang sebelumnya sudah menarik perhatian. Namanya Roti Liong. Seingat saya, saya pernah membaca sekilas tentang sejarah roti ini. Makanya, begitu menemukan pedagang Roti Liong kedua, saya langsung menghentikan langkah.


Roti Liong berdiri sejak tahun 1960-an di daerah Jakarta Barat. Resep roti bertekstur tidak terlalu empuk dengan rasa khas membuat roti ini masih awet dan banyak dinikmati oleh masyarakat. Isiannya cukup sederhana, tidak muluk-muluk seperti roti kekinian. Hanya cokelat, kelapa, dan keju, yang kala itu masih tersisa plus roti tawar. Harganya murah, hanya tiga ribu rupiah perbiji. Salah satu pedagang yang saya temui kala itu bercerita, kalau dirinya telah berdagang keliling membawa Roti Liong sejak dua puluh tahunan yang lalu. Modernisasi zaman diakuinya membuat omset penjualan terus menurun. Bagus kalau dalam sehari ada tujuh puluh roti terjual. Itu saja jarang.


Sambil berjalan ke Taman Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Kota, saya menenteng dua roti rasa coklat dan keju yang telah dibeli. Makin penasaran dengan rasanya. Memutuskan untuk berhenti di bawah masjid, saya membuka plastik berisi Roti Liong segera mencobanya. Gigitan pertama saya rasakan enak untuk ukuran roti zaman dulu. Ukuran roti yang cukup besar dengan harga murah membuat sepintas saya berpikiran, "untung berapa perbijinya jika 70 roti jarang terjual?"

Modernisasi membuat siapapun mau tak mau harus mengalah. Puas menikmati roti, kami langsung menuju stasiun, men-tap kartu, dan memilih KRL sesuai tujuan. Kota Tua cukup membuat sore saya terwarnai. Lumayan juga berkeliling sore hanya sekadar menikmati suasana lain dari Kota Surabaya tanpa melakukan hal apapun.

Jakarta.



Saturday, November 18, 2017

Serunya Liburan Akhir Pekan ke Pantai Tablolong Kupang



Gradasi warna laut di Pantai Tablolong

Singgah sejenak di Kota Kupang tak ada salahnya untuk mampir ke Pantai Tablolong. Tak memakan banyak waktu jika kalian memulai perjalanan dari pusat kota Kupang. Sekira 45 sampai 60 menit saja dengan berkendara motor. Jalanan menuju Pantai Tablolong di Kupang Barat amat mulus dan tidak ramai.

Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan menuju Tablolong. Jalanan sepi karena hampir semua jalan ditutup. Ya, Minggu pagi, gereja di Kupang yang amat banyak itu tengah menggelar peribadatan. Rata. Mulai dari pusat kota sampai daerah pinggiran. Pengendara jalan pun diminta untuk berjalan pelan ketika melewati gereja.

Gazebo di sisi lain Pantai Tablolong 

Maka otomatis, jalanan Kupang tak banyak dipadati wisatawan. Kami yang berkendara sejak pukul tujuh kurang pun enjoy saja menikmati sepinya jalanan. Menuju Pantai Tablolong. Konon, jika punya waktu sebentar di Kupang, nggak ada ruginya memasukkan Pantai Tablolong sebagai salah satu tujuan wisata sehari. Sebab tempatnya telah terkelola dengan baik didukung dengan pemandangan yang apik. Jadi nggak bakal percuma kalau main air di sini. 

Main cebur-cebur asik juga 

Tak semua jalanan mulus tentu saja. Sebab, satu-dua kilometer menuju pantai jalannya rusak parah. Ditandai dengan pos masuk yang sangat sederhana, untuk masuk ke pantai dikenai biaya sekira 10 ribu rupiah. Lumayan mahal ya. Tapi worth it kok pemandangannya. 

  
Bisa main voli pantai di sini

Matahari pagi di Tablolong amat panas menyengat. Tapi jangan khawatir, Pantai Tablolong punya banyak sekali gazebo yang disewakan. Harganya 50 ribu rupiah sepuasnya. Hanya saja, karena saya bertandang di kala hari masih cukup pagi, pengelola pun tidak menarik biaya meskipun saya duduk-duduk santai di sini. 

Gazebo buat leha-leha 

Karena bisa dikatakan masih terlalu pagi, pengunjung di sini pun masih bisa dihitung jari. tak sampai sepuluh orang. Makanya, kalau mau gulung-gulung di pasir pantai masih bisa banget. Pasir pantai yang putih bercampur pecahan koral warna pink sekilas membuat pantai ini tampak berwarna kemerah-mudaan. Kayak di Pulau Komodo. Berjalan-jalan di sepanjang pantai sangat disarankan karena pasirnya halus dan bersih. Bisa jadi sarana relaksasi juga. 

Pink nggak, sih? 

Warna air laut yang bercampur antara hijau toska dan biru turut membuat mata seolah enggan beralih. Angin semilir di tengah teriknya matahari cukuplah membuat ngantuk pagi-pagi. Nggak usah khawatir kalau kelaparan karena belum sarapan. Soalnya di sana sudah tersedia warung dan toilet yang cukup bersih meski beralas pasir dan beratap jerami. 

Kecantikan Pantai Tablolong tidak disertai ancaman buaya yang kerap diceritakan masyarakat di sepanjang Kupang sekalipun perairannya tenang. Di sini justru sangat nyaman dipakai untuk berenang. Bahkan ada beberapa penduduk lokal yang memanfaatkan pantai ini untuk memancing dari tepian. Katanya, di sini juga banyak didominasi oleh koral dan biota laut yang beragam. Sayang, saya tidak membuktikan secara langsung.

Putih, teduh, dan sepi 

Nyamannya Pantai Tablolong memang sangat pas dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Selain aman, pemandangan yang cantik disuguhkan secara cuma-cuma khusus buat kalian yang ingin menghabiskan akhir pekan singkat tanpa pusing dengan biaya perjalanan.

Oh ya, di sepanjang jalan menuju Pantai Tablolong, juga ada beberapa pantai yang terletak dalam satu garis lurus. Kalau kalian mau mampir, bisa banget. Tertarik mencoba? Selamat liburan akhir pekan!

Koral

Thursday, November 16, 2017

Pantai Kelingking yang Mirip Jari Kelingking




Pantai Klingking

Di wilayah barat Nusa Penida, ada sebuah pantai unik dan sangat iconic buanget. Kalau kalian aktif main Instagram, kalian akan tahu kalau pantai yang satu ini memang sulit dilewatkan gegara saking hitsnya. Konon, pantainya mirip jari kelingking. Makanya, namanya pun disetarakan dengan jari paling mungil, Kelingking Beach.

Saat saya main ke Nusa Penida, tempat yang satu ini sulit untuk tidak disinggahi. Sebab, saya dan ketiga teman jelas juga pingin hits :)))). Maka, setelah menerjang hujan yang tiba-tiba menderas, kami berempat menyusuri jalanan Pantai Klingking yang lebih manusiawi dibandingkan jalan menuju Angel’s Billabong. Untungnya kami benar-benar siaga membawa jas hujan dan helm dari Surabaya. Jadi, saat hujan turun, nggak ada ceritanya pakaian basah karena kehujanan.

Sisi lain Pantai Klingking 

Saya sebenarnya bawa payung juga. Tapi kok nggak cantik banget ya, berteduh di bawah payung sambil ngeliatin pantai di ujung nun jauh di mata. Mending juga berteduh di warung sambil makan mie instan dan teh hangat. Hujan yang lumayan deras pun seketika reda selepas kami menuntaskan makan dan minum sekadar menghangatkan badan. Alhamdulillah…

Pantai Klingking selepas hujan lebih sepi dibandingkan saat cerah. Ya iyalah, yang ada orang malas buat becek-becek di tanah berumput. Begitu pun kami. Kami tak serta merta datang ke sisi pantai karena menunggu jalanan yang didominasi tanah sedikit mongering. Kami lebih memilih untuk berfoto di pohon-pohon.

  
Sendirian aja, Mbak...

Puas foto di pohon, kami bergegas ke sisi barat pantai. Sisi ini paling banyak dipenuhi wisatawan karena sisi inilah yang membuat daya tarik Pantai Klingking melambung. 

Sejatinya, apa yang disebut dengan Pantai Klingking ini nggak bisa ditapaki layaknya Cristal Bay atau Pantai Atuh. Sebab, letaknya tidak memungkinkan. Jadi, wisatawan yang datang ke sini hanya disuguhi pemandangan pulau kecil di tengah laut yang bisa didaki. Bentuk pulau ini katanya mirip jari kelingking. Tapi kalau saya lihat, justru lebih mirip dengan kepala dinosaurus. Bebas.

Mirip apa sebenarnya? 

Karena saya dan ketiga teman nggak tertarik buat trekking ke pulau, maka kami hanya duduk-duduk di tepian spot untuk ambil foto. Di situ sebenarnya sudah cukup bikin deg-degan kok. Wong bawahnya langsung jurang yang menjorok ke pantai. 

Leha-leha sejenak 

Untuk masuk ke Pantai Klingking seingat saya nggak ada biaya sama sekali kecuali parkir. Nah, karena Pantai Klingking ini nggak bisa dinikmati lamat-lamat maka kami juga memutuskan untuk nggak menghabiskan waktu panjang-panjang di sini. 

Tapi, untuk sekadar mencoret tempat yang hits di Instagram, saya sudah lulus di sini. Kalau kamu?

Sudah sah jadi anak hits? 

Treking Seru ke Pantai Atuh Nusa Penida



Pantai Atuh dari ketinggian

Sejenak mari kita lupakan tentang ingar bingar Bali. Tentang musik yang berdentum selaras dengan gerak panggul pengunjungnya. Lupakan heaven on earth yang semu. Jika kalian bertandang ke sisi lain Pulau Dewata. 

Saya menemukannya ketika bertandang ke Nusa Penida, Bali. Pulau paling luas yang terpisah jarak waktu satu jam perjalanan dari bagian utama Pulau Bali. Coba datang dan rasakan sejenak keheningan Pulau Dewata yang lain selama bermalam di sana. Sebab, Nusa Penida disebut-sebut sebagai Bali zaman dulu. Zaman belum seramai sekarang. Belum setamak hotel berbintang, pub, atau pun resto dan spa kelas dunia. 


Pantai Atuh, akhirnya...


But, whatever it is, jangan lupa, ketika mampir ke Nusa Penida, tak ada salahnya untuk ikut menyisir destinasi wisata yang ada. Salah satunya adalah Pantai Atuh. Pantai yang berada di Penida bagian timur ini termasuk pantai yang cukup menantang bagi saya. Sebab, dengan badan yang nggak enteng-enteng banget, saya harus trekking cukup panjang. Jangan dikira jalur trekingnya mulus semulus paha Barbie, NGGAK SAMA SEKALI!

Saya sampai stress.

Bayangpun, kala itu kami berempat datang dengan sebongkah senyuman karena setiba di Nusa Penida, Pantai Atuh adalah tujuan pertama kami. Kami datang dengan semangat menggebu. Namun langsung drop begitu tahu bahwa Pantai Atuh tak semudah di angan. Letaknya jauh di bawah bukit, yang mencapainya harus naik turun jalur trekking yang hancur parah. Lalu, apakah kami mundur?

Ya, dua dari kami berempat memilih untuk mundur dan menunggu dengan anteng di perbukitan dekat tempat parkir. Pilihan yang cerdas, Kisanak!

Tampang masih bahagia dengan semangat 45! 

Tapi yaa, masa iya, sudah jauh-jauh datang ke sini kok nggak sekalian turun? Makanya, saya pilih hajar saja. Dengan asumsi, kalau balungan (nggak seberapa) tuwo masih bisa bertahan dengan jalur trekking yang bercampur antara tanah basah dan bebatuan. Bismillah, semangat!

Namanya juga orang usaha ya, di tengah-tengah usaha menyerah, kan, biasa banget. Tapi untungnya saya nggak menyerah. Gimana lagi? Mau naik nanggung, mau turun kok masih jauh. Jadi, saya hanya meratapi nasib, kenapa jalurnya nggak kelar-kelar. Sedih…

Pantai Atuh dari jalur treking sebelah kiri 

Saya dan Binti memang memilih turun. Bedanya, Binti bisa cepet banget turun dengan santainya. Sementara saya ngos-ngosan merasakan antara lutut gemetar dan dada berdebar. Sesekali misuh dicampur istighfar. Duh, nyesel tenan turun dengan kondisi yang masih on fire begini. Jadi rasa penasarannya, kan, gede banget.

Setelah beberapa saat merutuki nasib, akhirnya saya berhasil menyusul Binti yang lebih dulu sampai. Seperti dugaan semula, kami satu-satunya pengunjung di sore menjelang senja kala itu. Hanya ada satu-dua penduduk lokal yang menggelar lapak dagangan mereka. Itu pun sudah bersiap-siap untuk tutup. 


Sepinya sore di Pantai Atuh


Ikon Pantai Atuh adalah batu karang yang menyerupai sepatu berhak tinggi. Maka, berpuas-puaslah kalian jika sudah menginjak pasir di sini. Berlama-lamalah mendengarkan deburan ombak yang menenangkan. Saya, sih, antara pegal dan senang sudah membaur. Apalagi pantainya sepi, sudah lupa bagaimana keringat mengucur deras sepanjang perjalanan #pret

Pantai Atuh ini bisa banget digunakan untuk mendirikan tenda. Penduduk lokal pun akan dengan senang hati menunggu kalian ketika malam menjelang. Jadi, nggak usah khawatir kalau perut keroncongan di tengah malam. 

Bisa leha-leha sampai jelek di sini 

Puas berlama-lama di waktu yang terbatas, kalian bisa kembali pulang melewati jalur yang berbeda. Sebab, untuk menuju Pantai Atuh ada dua jalur yang bisa ditempuh. Letaknya persis di kanan-kiri pantai. Kata salah satu pedagang, melewati sisi kanan memiliki pemandangan yang lebih bagus dan jalur trekking yang lebih masuk akal. Beda dengan yang saya lewati sebelumnya. Jalur sisi kanan melewati rumah penduduk, sedangkan jalur kiri cuma semak-semak, tanah lumpur yang becek karena habis hujan, dan bebatuan terjal. 

Mau pijat? Sayang banget kalau naiknya capek lagi... 

Kalian bisa pilih mana yang kalian suka. Tapi karena kala itu kami nggak punya pilihan, jadilah terpaksa memilih jalur kiri yang nggak sopan banget treknya. So, tertarik buat trekking ke Pantai Atuh? Nggak ada salahnya kok merasakan sensasi badan cenut-cenut saat malam selepas tiba di penginapan. Nggak percaya? 

Selamat mencoba!

Tampang pura-pura bahagia padahal pegel mampus :))