Skip to main content

Traveling Asik dan Nyaman saat Hamil

Traveling makes you happier

Sebenarnya, saya dan suami tidak ada rencana untuk menunda memiliki anak. Tapi, kami juga nggak berharap anak hadir terlalu cepat setelah menikah. Paling nggak, setahun setelah menikahlah. Soalnya, masih pingin jalan-jalan berdua dulu tiap minggu. Makanya, kami woles-woles saja. Toh, ibuk juga nggak keburu-buru buat nimang cucu.

Tapi rencana dan perkiraan manusia memang nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan rencana Allah. Semua berubah sejak saya mendapati hasil test pack bergaris dua. Tiga kali saya cek dengan merek berbeda, ketiganya menunjukkan tanda yang sama. Antara kaget dan kepikiran tiket kereta dan pesawat yang sudah dipesan, saya bergegas membangunkan suami menjelang pukul 3 pagi. Dan, reaksinya sama.

Sama-sama diam sambil ngeliatin test pack, bingung mau ngomong apa. Padahal udah sah ya, tapi tau hamil masih speechless juga, hahaha.

Garis dua

Apa mau dikata, si bocah pingin hadir lebih cepat di tengah-tengah kami. Ya, disyukuri saja. Tapi, apa lantas tiket pesawat dan kereta yang telah kami beli hangus begitu saja?

OH, TENTU TIDAK SEMUA.

Berdasarkan hasil analisis dan baca-baca, kondisi hamil masih sangat boleh untuk melakukan jalan-jalan. Malah sangat disarankan biar nggak stres. Cuma ya kudu tau waktunya saja dan nggak pakai acara maksa jalan kalau memang lagi nggak fit. Seperti saya yang terpaksa membatalkan tiket saat merasa kurang sip badannya. Tapi nggak semua tiket dan rencana jalan dibatalkan. Malah ada yang sengaja dipesan khusus untuk baby moon, walaupun pada akhirnya batal berangkat juga, HAHAHA.

Jadi, selama hamil, saya kemana saja? Nih, listnya. Kebanyakan memang kerja luar kota, sih. Hanya beberapa saja yang traveling:p.

2 minggu: Probolinggo. Sebenarnya saya belum cek test pack di periode ini. Tapi, setelah dua minggu berikutnya (pas 4 minggu) saya cek pakai test pack dan ke SpOG dinyatakan positif, barulah saya dan suami sadar kalau pas main-main ke Probolinggo sudah hamil. Pantesan kok saya sensitif banget kena panas, jalan kaki isinya ngedumel kepanasan campur lapar. Ternyata itu sedikit sign kalau ibu hamil gampang sensitif:))

Gili Ketapang, Probolinggo

7 minggu: Batu. hangover, mual, pusing, tapi teteup pergi ke Batu buat unjung-unjung. Bawaannya pengen tiduran saking mualnya. Untungnya nggak jadi mudik. Kebayang dong gimana pusingnya saya lihat banyak orang di saat badan nggak fit.

Alun-alun Batu

14 minggu: Lawang, Malang. Kerja setengah hari. Kebetulan banget pingin main ke kebun teh pas ada tawaran kerja di sana. Ya wislah ngapain ditolak? Itung-itung ngenalin anak ke alam:p

15 minggu: Jember. Main sehari naik kereta dan sewa motor. Pergi ke Papuma dan Teluk Love yang wajib mendaki meski tipis-tipis. Sebelumnya, di usia kandungan 10 minggu saya sudah dinyatakan kena hipertiroidisme dengan ciri takikardi. Nah,  bumil dengan riwayat penyakit seperti saya ini mestinya menghindari kegiatan ini. Karena memang dilarang capek. Tapi saya teteup jalan. Untungnya, suami siap siaga kalau pas mendaki saya mulai kecapekan dan napas sudah ngos-ngosan parah:')

Pantai Payangan, Jember

16 minggu: Kupang. Tiket dibeli dua minggu setelah menikah. Belum ada tanda-tanda kehamilan sama sekali waktu itu. Karena saya hamil 2 bulan setelah menikah. Kami memutuskan untuk tetap berangkat karena di umur 16w kondisi saya jauh lebih stabil.

Selama di Kupang dan Rote Alhamdulillah cuma nangis sekali pas tidur gegara pinggang remuk habis naik motor seharian di jalan yang hancur parah. Jadinya tengah malam bangunin suami cuma buat ngelus-ngelus pinggang. Kalau tangannya berhenti langsung bangunin lagi :)) :*

Nembrala beach, Rote, NTT

17 minggu: Malang. Naik mobil sekeluarga buat jenguk Tita di pondok. Kondisi sehat, bugar, hati tenang, dan riang.

19 minggu: Malang. Naik bus buat jenguk Tita. Sehat bugar tanpa keluhan.


20 minggu: Pacet. Naik motor sekira 120 km cuma pengen tape ketan trus balik lagi. Cuma nurutin ngidam. Untung naik motornya santai dan banyak berhenti buat istirahat.

Pemandian Padusan, Pacet

Lalu lanjut esok paginya saya ke Banyuwangi naik bus 2 hari semalam. Selama perjalanan ke Banyuwangi sama sekali nggak ada keluhan. Saya masih bisa tidur nyenyak dan makan enak selama kerja. Tapi mulai mikir untuk menghanguskan tiket kereta promo ke Jogjakarta keesokan harinya. Kebayang, sih, perasaan suami kayak apa. Sudah merancang jauh-jauh hari buat ke Jogja, dapat tiket ekskutif murah, pas hari H kok saya malah kerja ke luar kota.

Banyuwangi

Pada akhirnya, tiket ke Jogja dibiarkan hangus karena saya lebih sayang badan. Daripada maraton di jalan empat hari berturut-turut dalam kondisi hamil, mending tidur di rumah seharian:))

22 minggu: Pasuruan. Badan segar bugar tapi liputannya outdoor. Pulang langsung tepar:))

23 minggu: Malang. Dinas kerjaan karena kebetulan lagi pengen banget nginep hotel. Jadi usaha ke korlip minta biar berangkat ke Malang:))

Malang

25 minggu: Gresik. Liputan otomotif. Nggak enak sama yang undang karena kenal banget. Jadinya berangkat naik motor diantar suami:))

28 minggu: Jakarta. Dinas kerjaan karena batal ke Labuan Bajo tapi ngebet naik pesawat. Alhamdulillah kesampaian. Awal naik pesawat si bocah sudah saya ajak ngobrol biar selama di perjalanan dia anteng. Nggak taunya dari take off sampai landing dia nendaaaang terus. Saya jadi antara serbasalah dan geli ditendang-tendang. Tapi, Alhamdulillah pas pulang dia sudah paham kalau naik pesawat itu enak. Apalagi kalau naiknya Garuda:p.

Selama di Jakarta, saya nggak ada keluhan sama sekali. Doyan makan dan tidur nyenyak. Malah banyak jalan-jalan keliling Kota Tua plus beberapa mal buat hang out dan belanja. Hati senang, riang, dan gembira. Sehat sentosa Alhamdulillah:))

Jakarta

Sebenarnya di minggu ke-29 saya dan suami akan berangkat ke Labuan Bajo. Tapi berita erupsi Gunung Agung bikin saya feeling buat membatalkan kepergian dalam rangka baby moon ini. Dan, ternyata benar! Dalam kurun waktu sesuai dengan tiket yang kami beli, penerbangan dari dan ke Labuan Bajo ditutup. Alhamdulillah. Nggak kebayang kalau kami jadi berangkat dan nggak bisa pulang.

Gunung Agung Karang Asem, Bali

Di minggu ke-32 saya mau ke Sumenep buat liputan. Tapi ternyata sore sebelumnya saya malah masuk IGD dan opname dua hari. Si bocah pingin emaknya istirahat aja:))

33 minggu: Batu. Jalan-jalan dalam rangka liburan natal sekeluarga. Jarang banget ada momen bareng anggota keluarga lengkap begini. Agak was-was awalnya karena seminggu sebelumnya saya opname gegara kandungan bermasalah dan rencananya si bocah dilahirkan prematur. Nah, pas hari H Alhamdulillah sehat:))

The Roudh 78, Pujon, Batu

Setelah minggu ke-33 kondisi saya makin payah meskipun masih teteup nggak betah duduk anteng di rumah. Maunya jalan-jalan teruuus. Entah ke mal, pasar, atau ke mana sajalah, pokoknya nggak di rumah. Memang teteup jalan-jalan, tapi dibatasi. Karena sejak ketuban merembes, dapat warning dokter buat banyak istirahat dan minum air, jadinya nggak ngoyo buat kerja atau sekadar jalan-jalan lagi.

Transmart, Surabaya

TIPS traveling nyaman saat hamil:

1. Bawa cemilan. Ini wajib. Karena ibu hamil sangat mudah lapar. Contohnya saya yang ke mana-mana bawa cemilan sebagai obat penangkal lapar sewaktu-waktu. Apalagi kalau medan yang dituju sangat jarang bertemu masyarakat setempat.

2. Gunakan baju nyaman. Hawa panas sering kali jadi masalah untuk ibu hamil. Nggak heran, memilih baju berbahan nyaman seperti katun sangat dianjurkan karena mudah menyerap keringat.

3. Obat-obatan. It's a must. Meskipun jalan-jalan jangan sampai lupa asupan yang wajib dikonsumsi selama masa kehamilan. Ingat, di perut ibu hamil ada janin yang butuh asupan.

4. Nggak perlu ngoyo. Namanya saja traveling saat hamil jelas berbeda dengan traveling saat nggak hamil. Diakui atau enggak, saya yang dulunya  cukup tahan banting dengan segala medan, ketika hamil jadi lempeng:)). Perubahan hormon itu terjadi. Makanya jalan-jalan biar santai dan kalem asal nyaman. Nggak perlu medan berat, yang penting dinikmati. Dan, yang terpenting, traveling santai dan kalem saat hamil bisa membantu untuk melupakan rasa sakit:D.

Taman Flora, Surabaya

Sekarang, kandungan saya menjelang 36 minggu, doakan semuanya lancar yaa. Semoga saya kuat ngeden kalau lahiran normal. Atau masa pemulihan lebih cepat kalau lahiran SC. Apapun, doakan si bocah sehat walafiat tanpa kekurangan apapun:D

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…