Wednesday, February 28, 2018

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu tujuan berwisata ke negara lain adalah mencicipi makan khas yang ada di negara tersebut. Rasanya wisata belum lengkap jika belum mencoba wisata kuliner karena setiap negara pastinya memiliki sesuatu yang khas, meski terkadang hampir mirip dengan negara lainnya.

Jika kamu sedang merencanakan liburan ke negara wilayah ASEAN, makanan berikut wajib kamu coba ya:

1. Nasi Lemak (Malaysia)

sumber : latimes.com

Berkunjung ke Malaysia belum lengkap jika kamu belom mencicicpi nasi lemak yang fenomenal tersebut. Nasi yang sangat populer di seluruh penjuru dunia ini memiliki kombinasi rasa yang gurih sekaligus lauk yang kaya akan rempah. Nasi lemak ini mirip seperti nasi kebuli jika di Indonesia, bahan yang dibuat juga sama yakni campuran beras dengan santan. Yang membuat berbeda adalah lauk pendamping yang lengkap dan sambal yang khas.

2. Tom Yum Goong (Thailand)

sumber : laikatourist.com

Negeri Gajah Putih memiliki begitu banyak makanan khas yang harus kamu coba, salah satu makanan yang wajib kamu coba adalah Tom Yum Goong. Rasanya sudah tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi ya tentang masakan ini, semua orang pasti sudah pernah dengar tentang tom yum. Meski sudah banyak gerai masakan Thailand di Indonesia, namun rasa dari tom yum goong di Thailand benar-benar jauh berbeda dari yang pernah kita coba. Jadi, jangan terlewat untuk mencicipinya ya.

3. Ambuyat (Brunei)

sumber : maksinwee.com

Mungkin belum banyak wisatawan Indonesia yang memilih Brunei sebagai destinasi liburan, padahal jarak negara yang terletak di ujung Kalimantan ini cukup dekat, lho. Dengan maskapai Royal Brunei kamu juga bisa langsung menuju ke sana. Apalagi Royal Brunei juga sering mengadakan promo harga tiket. Jika kamu berkunjung ke sana, sempatkan untuk mencicipi Ambuyat ya. Ambuyat ini adalah sagu yang disajikan dengan lauk lengkap. Cara memakannya pun cukup unik. Yakni menggunakan garpu dan kemudian dicelupkan ke berbagai varian saus khas Brunei. Tertarik? Segera cek tiket Royal Brunei dan langsung berlibur ke sana ya.

4. Lahpet (Myanmar)

sumber : reallygoodwriter.com

Siapa yang tak ngiler jika disuguhi masakan Myanmar yang terkenal akan rasa gurih dan kaya bumbunya? Pastinya kamu juga harus mencoba lahpet, sebuah salad daun teh yang telah difermentasi dan memiliki rasa unik. Biasanya Lahpet disajikan di sebuah wadah dengan berbagai lauk kering nan gurih di sekelilingnya.


5. Banh Mhi (Vietnam)

sumber : vietnamtravel.guide

Banh Mhi adalah roti khas Vietnam yang memiliki rasa luar biasa enak. Meski terkadang penampilannya kurang menggugah selera, namun roti ini adalah makanan terenak yang ada di Vietnam, lho. Memiliki isi kurang lebih sama dengan sandwich lain, yang membedakan Banh Mhi adalah rotinya yang mirip dengan baguette.

6. Adobo (Filipina)

sumber : dunyanews.tv

Kamu dijamin akan langsung lapar jika melihat penampakan makanan satu ini. Terbuat dari daging ayam ataupun sapi, Adobo merupakan makanan khas Filipina yang dimasak dengan cuka, kecap, dan daun salam yang membuat rasanya semakin gurih dan mantap.

Itu dia beberapa makanan khas negara ASEAN yang harus kalian cicipi ketika berlibur ke negaranya. Kalau masakan favoritmu yang mana nih, guys?

Wednesday, February 21, 2018

Traveling Goal: Menjadi Ibu Baru



Masih ingat betul ketika tahun 2015-2016 beberapa teman saya (kalau nggak ingin dibilang sombong :p) menyodorkan temannya untuk dikenalkan. Beragam. Ada yang sepantaran, lebih tua, brondong, bahkan duda beranak satu. Saya ngekek aja waktu itu walaupun memang beberapa di antaranya tetap saya coba. Sebab, saya memang belum begitu tertarik untuk menjalin hubungan yang berujung pada pernikahan.

Masih ingat juga ketika saya pada akhirnya mau mencoba berkenalan dengan laki-laki yang saat ini jadi suami. Padahal niat menikah masih jauuuuh di atas angan-angan. Tapi toh laki-laki ini teteup aja ngajak nikah di saat saya benar-benar enggan menikah dalam waktu dekat (1-2 tahun ke depan). Memangnya semua hubungan harus ada muaranya, yakni pernikahan?

Tapi toh, kami nikah juga di awal 2017. Setelah menjalani proses lumayan melelahkan dan menyebalkan (karena saya enggak mau nikah kok ujug-ujug jadi nikah :"))) selama sepuluh bulan.

Pascamenikah, kami tidak ada keinginan untuk menunda kehamilan. Tapi, berharap semoga tidak diberi dalam waktu dekat. Maunya, saya kenalan dulu sama suami biar lebih akrab. Pingin jalan-jalan berdua dulu dengan bujet pas-pasan.

Tapi toh, pada bulan ketiga pernikahan ternyata saya hamil juga. Masa iya sudah diberi amanah harus dihindari?

Awal kehamilan bagi saya adalah momen paling menyedihkan. Saya jadi malas apa-apa. Bau apa sedikit, mual. Apalagi bau suami. Sudah tak terhitung jumlahnya saya harus tidur di ruang tamu demi tidak mencium bau suami--yang saat itu terasa amat menyengat. Saya yang sudah gampang emosi semakin emosional. Gampang sakit kepala, mual, dan sensitifnya masyaallah. Kesentil dikit udah berasap kepala ini.

Belum lagi ketika di usia kehamilan 10 minggu saya divonis terkena hipertiroidisme kehamilan dan percepatan detak jantung di atas 120 kali/detik. Sudah makin emosional lah kondisi saya. Setiap bulan, saya wajib kontrol ke obgyn, internis, dan dokter jantung plus cek lab (TSH-s, FT-4, dan FT-3). Rutin setiap bulan selama delapan bulan.

Ada kondisi dimana saya bosan melihat dokter, benci dengan penyakit yang tiba-tiba datang ini, stres melihat laboratorium untuk ambil darah, makin stres setiap melihat hasil uji laboratorium yang tidak pernah menyenangkan. Kenapa kehamilan pertama ini tidak indah seperti kebanyakan orang?

Menginjak 28 minggu, hasil lab cukup menggembirakan sebab semuanya ada dalam kategori normal. Tapi semua kembali lagi ketika ada di minggu ke-32. Bahkan, saya harus opname dua hari. Minggu ke-33 saya mengalami rembesan ketuban yang membuat obgyn harus lebih intens dalam mengobservasi. Sebab, ada kemungkinan janin akan terpaksa dilahirkan prematur dalam usia 34-35 minggu.

Stres? Jelas. Harus ya bayi saya yang begini? Kelahiran prematur otomatis menyebabkan bayi harus dirawat intensif karena sejumlah organ ada yang belum matang. Perawatannya jelas lebih rumit. Pertanyaannya, sudah siapkah saya?

Enggak.

Di minggu-minggu itu saya konsen menaikkan berat badan janin agar minimal 2,5 kg atau tidak termasuk dalam kategori bayi berat lahir rendah (BBLR). Kalau pun prematur, saya harus mau negosiasi dengan dokter agar dilahirkan di minggu ke-35 agar kemungkinan-kemungkinan tak terduga semakin kecil untuk terjadi.



Tapi Allah berkehendak lain. Janin ternyata masih mampu untuk hidup di rahim hingga minggu ke-37. Dan, di sinilah saya merasa amat lelah. Jantung saya merasa kian berdegup kencang, ndrodog, dan makin mudah lelah.

Akhirnya, dengan konsultasi ke obgyn, internis, dan dokter jantung, saya diizinkan untuk caesar di usia kehamilan 37 minggu 4 hari.

Setelah menentukan hari untuk tindakan, rasanya saya tidak perlu menyesali mengapa saya dan bayi diberi 'keistimewaan' kehamilan. Melihat Aleefah tumbuh sehat dan tidak terkena hipertiroidisme atau hipotiroidisme saja saya sudah amat bersyukur betapa kehamilan kemarin adalah sebuah perjalanan yang tak cukup melelahkan dibandingkan membesarkannya kelak.

Semoga saya sanggup menjadi ibu. Hamasah!