Monday, April 16, 2018

Mengajak Bayi Naik Bianglala Alun-alun Kota Batu

Alun-alun Kota Batu

Belum ke Batu kalau nggak mampir ke alun-alunnya. Kira-kira begitulah yang dirasakan oleh bayi piyik Elif saat berkunjung ke Batu kemarin #yakali :)). Ini adalah perjalanan kedua Elif ke luar kota. Perjalanan pertama saat umur 36 hari, dia belajar "ngetrip" ke kota Malang.

Bianglala separuh

Perjalanan kedua adalah ke Batu. Tepatnya di alun-alun Batu. Terakhir kali saya ke alun-alun kota Batu saat natal lalu atau sebulan sebelum Elif lahir. Dalam kurun waktu empat bulan ternyata ada perubahan pada wajah alun-alun. Yang paling mencolok adanya penanda tempat yang super besar di depan alun-alun. Makanya saya niat banget foto di sini meskipun hari tengah terik-teriknya. Padahal asline yo nggak penting #duh

Blue sky

Panasnya matahari memang seketika menyurutkan niat saya untuk naik bianglala yang kini dihargai 5 ribu rupiah perorang. Apalagi saat saya ke sana sedang istirahat. Tapi, begitu melihat petugasnya datang, saya dan suami langsung membeli tiket. Elif yang tengah tidur pun seketika melek dan menikmati pemandangan kota Batu dari atas ketinggian (???).

Love you, Babe :*

Memang, nggak ada peraturan khusus bagi bayi umur 2,5 bulan untuk bisa naik bianglala. Tapi gegara naik bianglala, meskipun Elif nggak nangis, Umma-Abanya dong yang protes luar biasa. Katanya, bayi belum bisa "menerima" perbedaan gaya gravitasi nanti takutnya rewel, sakit, dan segalanya.

Melet bahagia

Yaaa, memang, sih, Elif pada akhirnya memang rewel begitu sampai rumah. Tapi itu, kan, masalah klasik bayi piyik setiap diajak kemana-mana. Bayi kecapekan. Emaknya udah hapal jadi siap sedia pasang badan tiap doi ngek.

Panas coy

Sebenarnya bukan masalah naik bianglala atau apalah, cuman prinsip saya dan suami, mengajak Elif jalan-jalan (meskipun receh dan remeh tujuannya) seenggaknya bisa membantu meningkatkan imunitas tubuhnya. Biar nggak gampang sakit, gitu.

Jadi, enaknya Elif diajak ke mana lagi ya?
Mau ke mana lagi?

Wednesday, April 4, 2018

Wisata Bareng Bayi ke Kebun Binatang Surabaya

Akhirnya foto di depan patung juga:))

Kurang beberapa hari lagi waktu cuti melahirkan saya habis. Saking bosannya libur segitu panjangnya nggak kemana-mana, maka saya ajak suami dan baby boss Elif ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Membawa bayi 2,5 bulan yang masih banyak tidur ke KBS memang tampaknya dirasa sia-sia. Plus stroller yang kurang praktis dilipat. Pasti akan lebih banyak waktu kurang berfaedah hanya untuk mengurusi stroller dan bayi digendong atau diletakkan di stroller. Padahal sebelumnya, saya dan suami sering menganggap membawa stroller untuk jalan-jalan itu sebuah kesia-siaan belaka. Bukannya kepake buat bayi, tapi bakalan kepake buat printilan emak-bapaknya.

Baby boss

Ternyata benar adanya.

Elif benar-benar lebih banyak digendong emaknya daripada tiduran di keretanya. Yawislah. Toh, bawa stroller ada manfaatnya juga buat ganti popok *bukan clodi hardcore :))*

KBS menjadi tujuan pertama buat kami untuk jalan-jalan. Terlalu dini memang mengenalkan Elif pada binatang, terlebih pandangannya belum fokus pada apa yang kami tunjuk. Tapi dasar emaknya suka ngomong, dicuekin pun teteup aja ngomong-ngomong sendiri. Prinsipnya  mengenalkan lebih dulu lebih baik ajalah:)).

Pipi over

Ngajak bayi yang belum bisa duduk resikonya adalah nggak boleh jalan-jalan terlalu lama. Pun kami yang baru datang jam 11 siang *iya, kami kesiangan* langsung pulang jam 13 teng. Cuma dua jam jalan aja udah tepar ini emaknya. Apalagi Elif. Udah rewel aja minta minum terus setelah sampai rumah. Resiko lah yah. Jadi ya gapapa.

Versus jerapah

Jalan-jalan begini jujur saja nggak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahwa saya akan melewati fase ini dalam waktu dekat. Ternyata seru juga punya bayi ya! :)))

Traveling goal:))