Thursday, August 30, 2018

Oase itu Bernama Air Terjun Oenesu

Oase oenesu

Minggu pagi di Kupang amat sepi. Banyak jalan dialihkan lantaran hampir di tiap jalan ada peribadatan Minggu. Gereja semua berbenah. Jemaat satu persatu keluar rumah berjalan kaki atau berkendara menuju gereja.

Bagi saya, pemandangan itu amat syahdu. Sesyahdu melihat umat muslim berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan ibadah salat.

Karena tak ikut peribadatan, maka Minggu pagi saya gunakan untuk keliling Kupang. Pagi-pagi sekali sebelum sarapan, saya dan suami sudah tancap gas menuju Air Terjun Oenesu. Letaknya dekat saja dari penginapan kami yang ada di Oesapa Selatan. Sekira 45 menit perjalanan menggunakan motor atau setara 31 kilometer.

Selamat datang di Air Terjun Oenesu

Masalahnya, meskipun jalanan lengang dan lancar, tapi tak semua jalan dibuka. Banyak yang dialihkan dan itu membuat kami cukup semrawut memilih jalan. Estimasi waktu yang semula tampak sebentar jelas molor. Apalagi nggak ada warung makan buka untuk sekadar sarapan sambil bersantai sejenak. Dahlah, Kupang yang panasnya menyengat ditambah perut lapar dan jalan nyasar-nyasar terus bikin saya males ngelanjutin perjalanan.

Tapi dasar emang pikiran liar, masa iya jauh-jauh dari Surabaya udah nyampe Kupang terus mutung tengah jalan gegara nggak nemu jalan?

Jalan setapak di Air Terjun Oenesu

Akhirnya perjalanan pun dilanjutkan. Super sepi. Begitulah kesan sepanjang perjalanan menuju air terjun ini. Papan penunjuk jalan memang seadanya. Itu membuktikan tempat ini memang menjadi jujukan wisata warga lokal maupun pendatang. Syukurlah.

Tapi tapi tapi, begitu sampai di lokasi air terjun, jalanan yang semula halus menjadi tak rata. Ditambah lagi kesan mistis karena, astaga, kami benar-benar sendirian. Orang berlalu-lalang pun tada. Sama kayak di Oesosole, sih, tapi entah kenapa kok kerasanya lebih aneh aja. Apalagi ketika sampai di lokasi air terjun.

Dari sisi lain

Ini beneran, nih? Kok rusak dimana-mana begini. Loket nggak keurus, tulisan selamat datang ala kadarnya. Banyak dedaunan kering berserakan.

Kurang terawat

Asli, saya langsung underestimate sama tempat ini. Memang, sih, gemericiknya bikin penasaran. Tapi kok kesan awalnya gitu? Bukannya semua hal dilihat dari first impression ya? Sama kayak nemu jodoh gitu #hadeh :)))

Ya sudahlah. Toh, saya dan suami pada akhirnya turun ke air terjun juga. Berhubung musim kemarau, debit airnya nggak cukup kencang. Tapi pesonanya paslah untuk memanjakan mata ini. Segerrr.

Seger, kan?

Well, Kupang memang panas, tapi Air Terjun Oenesu bisa menjadi oase di teriknya matahari. Gemericik yang menentramkan hati dipadukan dengan rimbunan pohon cukuplah membuat saya betah berlama-lama di sana.

Aduhai

Sayang, karena kami pengunjung pertama, kami benar-benar kehabisan akal mau ngapain aja. Bayangpun, loket belum buka, lokasi masih pagi, aturan mau turun nyemplungin kaki jadi keder. Boleh nggak, nih, nyemplung sini? Ntar hanyut nggak ada yang nolong :))) eh, ternyata di foto-foto banyak yang renang, di sini. Tapi, kan, rame-rame yaa.

Di loket pembayaran tertera harga tiket hanya dua ribu rupiah perorang. Cukup murah untuk ukuran wisata alam. Mungkin wisata air terjun ini memang populer. Sayang kalau nggak dikelola dengan baik.

Mejeng

Wednesday, August 29, 2018

Pantai Oesosole: Pantai Cantik di Ujung Rote Timur

Oesosole

"Pantai? Masih lurus,"

"Masih jauh?"

"Dekat sa,"

Berbekal percakapan itu, saya dan suami memutuskan untuk berangkat menuju Pantai Oesosole di Faifua dari Danau Laut Mati yang ada di Sotimori. Kami lupa, kalau ukuran dekat bagi warga daerah itu sangat jauh bagi warga kota. Saya yang kala itu hamil empat bulan (meskipun udah nggak separah saat hamil muda) tetep aja kalau perjalanan jauh bikin pinggang patah-patah.

Nyiur melambai

Meski jarak terbilang amat sangat jauh untuk ukuran orang hamil, saya tetap memaksa suami untuk berangkat. Nggak peduli kami harus menyesuaikan waktu keberangkatan kapal untuk kembali ke Kupang. Pokoknya kudu sampai ke Pantai Oesosole.

Kudu!

Ya, namanya juga orang hamil yaa:)))

Rumah penduduk beratap jerami

Dan, Subhanallah, jarak itu beneran jauh. Berulang kali kami bertanya pada orang, berkali-kali pula kami harus melaju luruuuus sesuai petunjuk warga. Nggak ada papan petunjuk sama sekali. Jangan harap!

Lalu, ketika kami sampai pada jalan terakhir yang beraspal mulus, kami bertanya pada dua orang wanita berjilbab yang amat ramah. Sama dengan sebelumnya, keduanya menyarankan kami untuk tetap tabah jalan lurus sekalipun jalannya hancur parah. Subhanallah...

Paduannya oke ya?

Dalam hati sebenarnya saya khawatir, bener nggak, sih, ini jalannya? Dibanding yakin, lebih banyak nggak yakinnya. Masyaallah. Terakhir, dengan segenap hati, saya kembali turun, bertanya. Dan, di sanalah oase muncul.

"Itu, dekat sa. Sudah terlihat,"

Alhamdulillah.

Tapi kata dekat itu yang bikin saya kembali keder. Karena memang nggak keliatan sama sekali. Secara ini pantai ternyata berada di balik bukit, Ya Allah. Suami sempat balik badan karena nggak jelas beneeer jalannya. Tapi karena kembali ketemu orang yang kami tanyai sebelumnya dan beliau bilang, "kenapa balik? Pantainya su dekat,"

Maka kami putar balik lagi.

Ini pantai dimana, Tuhaaaan? :)))))

Ternyata ini pantainya

Namun, ketika sampai di pantai yang memang super sepi, tanpa pengunjung, dan hanya ada beberapa rumah beratap jerami, saya langsung takjub. Masyaallah. Ini cantiiik banget. Pasirnya haluuus, putih bersih, gradasi warna airnya bagus. Beberapa pohon kelapa rindang cukup meneduhkan hati dan pikiran. Duh, enggak nyesel sama sekali. Kecuali ketika tengah-tengah saya mengagumi pantai, tiba-tiba suami bilang,

"Udah? Yuk, balik,"

Ya Allah, tega!

Ibu hamil empat bulan:))

Oh ya, Oesosole ini memang cantik. Debur ombaknya juga enggak besar kok. Tapi hati-hati, air yang tenang biasanya lebih mematikan. Selain itu, yang patut disayangkan adalah kondisi pantai ini penuh dengan sampah ranting pohon. Jadi, dominan tampak kotor. Sediiih.

Kotor :((

Btw, catet ya, ternyata dalam kondisi hamil sebaiknya nggak usah nekat naik motor perjalanan jauh.

Bayangkan, rute yang kami tempuh dengan motor yang beberapa kilometer medan di antaranya jalannya hancur:
Ba'a-Danau Laut Mati 49 km
Danau Laut Mati-Pantai Oesosole 31 km
Pantai Oesosole-Ba'a 57 km

Mayan ya? Mau coba? :))))

Pasir selembut kapas

Tuesday, August 14, 2018

Jangan Cari Penyu di Pantai Teluk Penyu Cilacap

Teluk Penyu

Tersebutlah Pantai Teluk Penyu, salah satu pantai jujukan wisatawan tiap berkunjung ke Cilacap. Tidak terkecuali saya. Walaupun niat maju mundur, toh, saya ke sana juga. Untuk kali kedua pula. Maruk? Suka? Ngefans?

Ya tentu tidak.

Gara-garanya cuma satu; enggak ada wisata lain di Cilacap. Hvft banget, kan? Makanya biar kesannya kayak liburan, ke pantai juga lah pada akhirnya. Yaa, maksud hati mau ngenalin pantai ke Elif, apa daya yang digendong nemplok tidur lelap sekali.

Mercusuar di Teluk Penyu

Masuk ke kawasan Teluk Penyu pengunjung dikenai biaya 7,500 rupiah perorang. Saran saya, datanglah sebelum jam 10 pagi saat weekdays. Niscaya kalian bebas dari biaya masuk. Caya, deh.

Sebagai arek Suroboyo yang juga punya pantai *standing applause* Teluk Penyu nggak jauh beda sama Kenjeran, wkwkwk. Sumpah, mirip. Cuma arusnya lebih kencang sikiklah. Untuk gradasi warnanya mirip-mirip gitu. Antara coklat, butek, dan nggak ada manis-manisnya. Hanya saja, di Teluk Penyu pengunjung bisa naik kapal penyeberangan buat ke Nusa Kambangan. Bukan ke penjara yang terkenal itu. Tapi ke kawasan pantai pasir putih yang memang dibuka untuk umum. Sayang, ombak tidak cukup aman di musim-musim penuh bencana begini.

Butek-butek gimana gitu airnya, wkwk

Kata suami, di Teluk Penyu dulunya sangat banyak yang melakukan jual beli penyu. Doi bahkan sempat mau beli penyu buat dipelihara. Ya elah, demi apa coba?

Sesuai namanya, nama Teluk Penyu mungkin diambil karena tempat itu dulunya jadi tempat favorit penyu untuk bertelur, karena menghadap langsung ke Samudera Hindia, sehingga populasinya banyak. Makanya penduduk sekitar yang kurang paham menjaga keberadaan penyu sebagai hewan langka, main jual aja.

Tapi sekarang udah nggak ada yang jual beli penyu. Penduduk sekitar antara sadar kalau penyu adalah hewan dilindungi atau memang populasinya sudah sangat jauuuuh berkurang karena perburuan liar kapan tahun.

Mayan teduh ya di sini

Well, karena termasuk pantai selatan, Teluk Penyu nggak bagus buat dipakai berenang. Ombaknya lumayan bisa bikin pengunjung datang tak kembali. Jadi, kalau ke Teluk Penyu mending nggak usah berenang lah ya. Foto-foto hore aja kayak saya sambil ngadem di bawah pohon.

Kalau udah capek, boleh bangeeet mampir ke Benteng Pendem yang ada di depan Teluk Penyu persis. Yaa, buat sekadar iseng aja, nggak masalah kok:))

Begini doang...

Monday, August 13, 2018

Benteng Pendem, Saksi Sejarah yang Miskin Informasi

Benteng pendem dari Teluk Penyu

Akhir pekan kemarin, saya dan keluarga iseng jalan-jalan ke Benteng Pendem. Mumpung lagi nganterin suami pulang, sekali dayunglah ya.

Sebenarnya, saya enggak niat-niat banget buat masuk ke sini. Tapi, karena sekali jalan dari Teluk Penyu (yang juga enggak niat-niat banget didatengin) yawislah sekalian aja.

Anaknya pulang kampung...

Benteng Pendem sesuai namanya adalah benteng yang dulunya terpendam. Namun, Pemkab Cilacap menemukan keberadaannya tahun 1986 dan memutuskan untuk membuat lokasi tersebut sebagai wisata sejarah.

Benteng dikelilingi parit

Berdasarkan hasil skimming, saya menemukan fakta bahwa benteng ini dulunya adalah peninggalan Belanda. Dibangun pada tahun 1861 hingga 1879 dan difungsikan sebagai benteng pertahanan tentara Hindia Belanda. Namun, ketika perang melawan Jepang pada 1942 benteng tersebut jatuh ke tangan Jepang dan ditinggalkan tiga tahun setelahnya. Lantaran kala itu Nagasaki dan Hiroshima dibom oleh sekutu membuat Jepang menarik seluruh pasukannya untuk pulang.

Ruang senjata

Sangat logis kenapa Benteng Pendem menjadi benteng pertahanan. Karena letaknya yang strategis dekat dengan laut maka memungkinkan bagi tentara untuk mengintai dan melakukan penyerangan terhadap musuh dari ruang pengintai.

Ruang administrasi

Ruang klinik

Sayang seribu sayang, ketika saya datang, tidak ada informasi sama sekali di benteng itu.

Bayangkan, wisata sejarah tanpa secuil informasi apa gunanya? Nggak ada. Paling juga jadi ajang foto-foto aja.

Jadi foto-foto aja kek begini

Di depan loket, hanya terpampang biaya masuk perorang sebesar 7,500 rupiah. Lalu mengikuti arah panah jalan masuk, saya hanya menemukan sisa bangunan dengan tulisan Ruang Barak, Ruang Penjara, Ruang Senjata, Ruang Administrasi, Ruang Klinik, dan sebagainya. Hanya penanda jika bangunan tersebut dulunya difungsikan sebagai tempat yang demikian. Tidak ada detail informasi apapun yang bisa mencerdaskan pemahaman pengunjung seperti saya.

Well, di lokasi benteng selain terkesan nggak terawat tanpa informasi apapun, juga ada permainan anak-anak yang... sama-sama nggak terawatnya. Jadi mikir, ini uang masuk apa cuma dipakai buat bayar karyawan aja?

Ruang penjara jongkok

Ruang senjata

Jadi ya, monmaap, pengetahuan saya receh banget soal benteng ini:))).

Tapi, kalau kalian mau wisata sejarah dengan pemahaman yang sama recehnya dengan saya, yaa monggo datang ke Benteng Pendem kalau mampir ke Cilacap. Saya, sih, ogah mampir lagi:)).

Meskipun langitnya bagus, ogah kembali ke sini lagi:))