Skip to main content

Benteng Pendem, Saksi Sejarah yang Miskin Informasi

Benteng pendem dari Teluk Penyu

Akhir pekan kemarin, saya dan keluarga iseng jalan-jalan ke Benteng Pendem. Mumpung lagi nganterin suami pulang, sekali dayunglah ya.

Sebenarnya, saya enggak niat-niat banget buat masuk ke sini. Tapi, karena sekali jalan dari Teluk Penyu (yang juga enggak niat-niat banget didatengin) yawislah sekalian aja.

Anaknya pulang kampung...

Benteng Pendem sesuai namanya adalah benteng yang dulunya terpendam. Namun, Pemkab Cilacap menemukan keberadaannya tahun 1986 dan memutuskan untuk membuat lokasi tersebut sebagai wisata sejarah.

Benteng dikelilingi parit

Berdasarkan hasil skimming, saya menemukan fakta bahwa benteng ini dulunya adalah peninggalan Belanda. Dibangun pada tahun 1861 hingga 1879 dan difungsikan sebagai benteng pertahanan tentara Hindia Belanda. Namun, ketika perang melawan Jepang pada 1942 benteng tersebut jatuh ke tangan Jepang dan ditinggalkan tiga tahun setelahnya. Lantaran kala itu Nagasaki dan Hiroshima dibom oleh sekutu membuat Jepang menarik seluruh pasukannya untuk pulang.

Ruang senjata

Sangat logis kenapa Benteng Pendem menjadi benteng pertahanan. Karena letaknya yang strategis dekat dengan laut maka memungkinkan bagi tentara untuk mengintai dan melakukan penyerangan terhadap musuh dari ruang pengintai.

Ruang administrasi

Ruang klinik

Sayang seribu sayang, ketika saya datang, tidak ada informasi sama sekali di benteng itu.

Bayangkan, wisata sejarah tanpa secuil informasi apa gunanya? Nggak ada. Paling juga jadi ajang foto-foto aja.

Jadi foto-foto aja kek begini

Di depan loket, hanya terpampang biaya masuk perorang sebesar 7,500 rupiah. Lalu mengikuti arah panah jalan masuk, saya hanya menemukan sisa bangunan dengan tulisan Ruang Barak, Ruang Penjara, Ruang Senjata, Ruang Administrasi, Ruang Klinik, dan sebagainya. Hanya penanda jika bangunan tersebut dulunya difungsikan sebagai tempat yang demikian. Tidak ada detail informasi apapun yang bisa mencerdaskan pemahaman pengunjung seperti saya.

Well, di lokasi benteng selain terkesan nggak terawat tanpa informasi apapun, juga ada permainan anak-anak yang... sama-sama nggak terawatnya. Jadi mikir, ini uang masuk apa cuma dipakai buat bayar karyawan aja?

Ruang penjara jongkok

Ruang senjata

Jadi ya, monmaap, pengetahuan saya receh banget soal benteng ini:))).

Tapi, kalau kalian mau wisata sejarah dengan pemahaman yang sama recehnya dengan saya, yaa monggo datang ke Benteng Pendem kalau mampir ke Cilacap. Saya, sih, ogah mampir lagi:)).

Meskipun langitnya bagus, ogah kembali ke sini lagi:))

Comments

Popular posts from this blog

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Sebagai bandara terbaik selama tiga tahun berturut-turut, Bandara Changi di Singapura bisa banget masuk list buat tempat menginap. Karena hal itulah saya memutuskan untuk membeli tiket pesawat murah CGK-SIN dengan jadwal penerbangan jam 21.30 dan sampai Changi 00.30 pagi. Artinya, saya bisa menginap di Changi sebelum jalan-jalan iseng dan nggak penting di Singapura esok pagi.

Penerbangan ke Singapura bagi saya adalah penerbangan paling melelahkan. Soalnya, jam 15 sore saya harus menyudahi pekerjaan, pulang ke rumah buat mandi, ngebut buat ngejar pesawat ke Jakarta jam 17.25 (jalanan macet gila!), lanjut pindah terminal, dan baru bisa buka puasa pukul 20.30 setelah nemu tempat selonjor. Apa kabar naskah kerjaan? Kerjaan baru bisa saya selesaikan pas sudah landing di Singapura, dapat wifi dan colokan listrik, dengan perasaan kacau dan pegel ngos-ngosan :))).

Urusan penerbangan di Singapura sebenarnya bikin was-was. Soalnya, imigrasi negara singa ini sering banget random check wisatawa…