Oase itu Bernama Air Terjun Oenesu

Oase oenesu

Minggu pagi di Kupang amat sepi. Banyak jalan dialihkan lantaran hampir di tiap jalan ada peribadatan Minggu. Gereja semua berbenah. Jemaat satu persatu keluar rumah berjalan kaki atau berkendara menuju gereja.

Bagi saya, pemandangan itu amat syahdu. Sesyahdu melihat umat muslim berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan ibadah salat.

Karena tak ikut peribadatan, maka Minggu pagi saya gunakan untuk keliling Kupang. Pagi-pagi sekali sebelum sarapan, saya dan suami sudah tancap gas menuju Air Terjun Oenesu. Letaknya dekat saja dari penginapan kami yang ada di Oesapa Selatan. Sekira 45 menit perjalanan menggunakan motor atau setara 31 kilometer.

Selamat datang di Air Terjun Oenesu

Masalahnya, meskipun jalanan lengang dan lancar, tapi tak semua jalan dibuka. Banyak yang dialihkan dan itu membuat kami cukup semrawut memilih jalan. Estimasi waktu yang semula tampak sebentar jelas molor. Apalagi nggak ada warung makan buka untuk sekadar sarapan sambil bersantai sejenak. Dahlah, Kupang yang panasnya menyengat ditambah perut lapar dan jalan nyasar-nyasar terus bikin saya males ngelanjutin perjalanan.

Tapi dasar emang pikiran liar, masa iya jauh-jauh dari Surabaya udah nyampe Kupang terus mutung tengah jalan gegara nggak nemu jalan?

Jalan setapak di Air Terjun Oenesu

Akhirnya perjalanan pun dilanjutkan. Super sepi. Begitulah kesan sepanjang perjalanan menuju air terjun ini. Papan penunjuk jalan memang seadanya. Itu membuktikan tempat ini memang menjadi jujukan wisata warga lokal maupun pendatang. Syukurlah.

Tapi tapi tapi, begitu sampai di lokasi air terjun, jalanan yang semula halus menjadi tak rata. Ditambah lagi kesan mistis karena, astaga, kami benar-benar sendirian. Orang berlalu-lalang pun tada. Sama kayak di Oesosole, sih, tapi entah kenapa kok kerasanya lebih aneh aja. Apalagi ketika sampai di lokasi air terjun.

Dari sisi lain

Ini beneran, nih? Kok rusak dimana-mana begini. Loket nggak keurus, tulisan selamat datang ala kadarnya. Banyak dedaunan kering berserakan.

Kurang terawat

Asli, saya langsung underestimate sama tempat ini. Memang, sih, gemericiknya bikin penasaran. Tapi kok kesan awalnya gitu? Bukannya semua hal dilihat dari first impression ya? Sama kayak nemu jodoh gitu #hadeh :)))

Ya sudahlah. Toh, saya dan suami pada akhirnya turun ke air terjun juga. Berhubung musim kemarau, debit airnya nggak cukup kencang. Tapi pesonanya paslah untuk memanjakan mata ini. Segerrr.

Seger, kan?

Well, Kupang memang panas, tapi Air Terjun Oenesu bisa menjadi oase di teriknya matahari. Gemericik yang menentramkan hati dipadukan dengan rimbunan pohon cukuplah membuat saya betah berlama-lama di sana.

Aduhai

Sayang, karena kami pengunjung pertama, kami benar-benar kehabisan akal mau ngapain aja. Bayangpun, loket belum buka, lokasi masih pagi, aturan mau turun nyemplungin kaki jadi keder. Boleh nggak, nih, nyemplung sini? Ntar hanyut nggak ada yang nolong :))) eh, ternyata di foto-foto banyak yang renang, di sini. Tapi, kan, rame-rame yaa.

Di loket pembayaran tertera harga tiket hanya dua ribu rupiah perorang. Cukup murah untuk ukuran wisata alam. Mungkin wisata air terjun ini memang populer. Sayang kalau nggak dikelola dengan baik.

Mejeng

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba