Monday, July 22, 2019

MPASI Sudah Benar, Kok Elif Tetap Terapi Okupasi?

Cintaku :*

Cerita sebelumnya di sini...

Jauh sebelum Elif MPASI, saya sudah memutuskan akan menggunakan MPASI fortifikasi. Selain praktis, higienis, ekonomis, dan tentu kaya gizi. Tapi bukan berarti saya menafikan MPASI buatan sendiri. Karena saya tahu, tekstur MPASI fortifikasi terlalu lembut bahkan ketika anak sudah berusia 12 bulan.

Saya tetap memasak untuk Elif ketika saya sempat memasak. Saya berikan menu sesuai anjuran dokter. Karbohidrat, protein hewani, nabati, vitamin, lengkap. Teksturnya saya sesuaikan menggunakan chopper. Kadang saya blender lalu disaring.

Tapi, ketika saya tak sempat, saya hanya mampu membelikan Elif bubur tepi jalan seharga tiga ribu rupiah. Ini yang kemudian saya sesali karena kasus diare terbanyak pada bayi disebabkan oleh bubur tepi jalan. Pemiliknya kaya raya, sementara konsumennya sakit.

Kok bisa? Bubur tepi jalan tidak diketahui cara memasaknya, apa saja bahan-bahannya. Higienis-kah? Karena setiap saat mereka membuka tutup panci, memungkinkan debu jalanan mengkontaminasi makanan. Belum kalau ada lalat yang hinggap di makanan. Mereka mengklaim menjadi bubur organik yang sehat dan kaya gizi. Tapi di belakang layar, siapa yang tahu? Imunitas bayi sangat rentan makanya untuk proses penyediaan MPASI/ sufor harus bersih.

Ndrenges

Saat awal MPASI prosentase saya menyiapkan menu MPASI, 65% fortifikasi, 30% buatan, 5% beli di tepi jalan.

Menetapkan prosentase ini ternyata membuat saya dibully netizen, wkwk. Katanya, saya wartawan sok sibuk nggak sayang anak sampai-sampai anak saya diberi MPASI fortifikasi yang instan banget. Yaelah, beda cara pengasuhan diolok-olok, kayak yang paling bener aja. Kayak yang bakal jadi penghuni surga satu-satunya aja :p.

Btw, dengan komposisi tersebut, in my logic opinion, seharusnya Elif baik-baik saja. Enggak pakai acara kena ADB atau ISK ya. Karena kandungan gizinya sudah banyak tercukupi dari komposisi MPASI. Tapi toh, Wallahu 'alam. Elif kena ADB dan ISK.

Dua hal itu sebenarnya bikin saya berpikir dan mencurigai saya sendiri kena anemia sejak masa kehamilan dan menyusui.

Memang saat hamil saya rutin mengkonsumsi suplemen zat besi. Tapi, tidak saat menyusui. Masih ingat, kan, kalau kandungan zat besi (Fe) ASI akan semakin menipis pada usia di atas enam bulan?

Nyemil tahu saat tumbuh gigi

Apakah ASI tak lagi berguna?

Bukan begitu. Fe pada ASI memang berkurang saat anak berusia di atas enam bulan. Sedangkan lemak atau sumber energi dan vitamin yang ada pada ASI masih tetap jauh lebih banyak komposisinya dibandingkan susu formula. Meskipun, pada prinsipnya, mengkonsumsi ASI saja tidak cukup jika anak sudah memasuki masa MPASI.

ASI pada bayi usia 6-8 bulan 70% masih menunjang pertumbuhannya. Lalu turun menjadi 50% pada 9-12 bulan. Di atas setahun, ASI hanya mampu mencukupi kebutuhan harian bayi sebesar 30%. Sisanya harus dicukupi dari MPASI.

Makanya, MPASI yang sehat sangat diperlukan oleh bayi. Kebayang nggak kalau anak nggak mau makan di seribu hari pertama kelahirannya (sampai usia 2 tahun) lalu diabaikan oleh orang tuanya?

Pingin cokelat tapi gak boleh :))


Biasanya, orang tua berdalih, anaknya susah makan. Maunya makan kerupuk, chiki, buah, sayur, atau hanya mau minum susu formula aja.

Coba, deh, kalau yang dikonsumsi terus-terusan hanya satu dari yang saya sebut di atas, apa yang terjadi pada pertumbuhan anak tersebut? Anak tidak akan bisa menggunakan fungsi rahang dengan baik. Kandungan gizi yang dikonsumsi juga minim. Yang seharusnya belajar mengunyah, malah dikasih minum susu terus. Yang seharusnya makan nasi, dikasih kerupuk terus. Kapan sehatnya?

Ngemil es grem

Sejujurnya, status gizi Elif baik. Elif tidak stunted atau kerdil. Berat badan dan tinggi badannya proporsional sesuai dengan usianya. Pertumbuhan kognitif dan motorik juga sesuai. Kok bisa kena ADB dan ISK? Kok bisa harus pakai acara terapi okupasi padahal makannya lahap? Hehe, lagi-lagi, Wallahu'alam.

Setelah cek lab dan dinyatakan positif ADB dan ISK, serta fungsi rahang kurang kuat menyebabkan Elif sulit mengunyah dan menelan. Bahkan, hasilnya -2. Butuh terapi okupasi agar Elif bisa mengunyah dan menelan. Dengan begitu, menu makanan apa saja bisa masuk dan kecukupan gizinya bisa terpenuhi.

Ngemil terus~


*Ulasan tentang terapi okupasi menyusul ya ges. Nunggu longgar waktunya:)))

Friday, July 19, 2019

Awal Mula Elif Harus Terapi Okupasi

Elif :*

Tepat 20 Januari lalu, Elif berusia setahun. Saat itu juga dia mulai menunjukkan tanda-tanda kurang doyan makan. Padahal, saat usia 6-12 bulan MPASI doi doyan makan apa aja. Hm, pasti ada yang aneh...

Seminggu, dua minggu, kok masih ngemut juga. Dikasih makan apa aja, sampai menunya ganti bolak-balik, sudah menyesuaikan jadwal, duduk tenang di kursi, tetep aja ngemut. Saat itulah insting saya sebagai ibu yang merangkap sebagai wartawan, guru, dan pedagang pempek, bekerja.

Elif harus ke dokter.

Alasannya?

Banyak. Anak nggak doyan makan itu pasti ada alasannya. Jangan kita, sebagai orang tua justru membiarkan anak yang lagi males makan itu. Mungkin dia lagi sakit? Tumbuh gigi? Atau memang lagi males makan alias Gerakan Tutup Mulut (GTM)?

Boleh. Tapi dibatesin dua minggu aja ya. Lebih dari itu, tolong segera dibawa ke dokter anak.

Baaa~

Ada pasien yang ngobrol sama saya, katanya BB anaknya turun terus setiap bulan. Nggak mau makan juga. Pas dibawa ke dokter, ketahuan kena tuberkulosis. Ada juga yang ternyata kena hipotiroid. Jadi, waspada ya kalau anak susah makan lebih dari dua minggu. Bisa jadi BB seret sampai di bawah -2 SD selama beberapa bulan. Karena kalau dibiarkan berturut-turut bisa kena stunting alias kerdil.

Kalau Elif, dua minggu lebih nggak doyan makan langsung saya bawa ke dokter anak subspesialis nutrisi dan metabolik. Kebetulan saya ke RS Husada Utama. Di sana ada dr. Nur Aisyah Widjaja, Sp. A(K) atau biasa dipanggil dr. Nuril. Sebenarnya pingin ke Mbak Meta (dr. Meta Hanindita, Sp. A(K) di RS Manyar Medical Centre, tapi antrinya bikin mlz bgtz :))))

Sebelumnya, saya ke Prof. Boerhan Hidayat, Sp. A(K) tapi kurang cocok karena dikit-dikit diresepin susu formula. Bukan saya anti sufor, tapi tolong dong, dicek dulu apakah kondisi Elif betul-betul membutuhkan sufor?

Prof. Boerhan dan dr. Nuril ini sama-sama dosennya dr. Meta, jadi apa-apa yang saya khawatirkan pasti 11-12 sama solusinya.

Santai

Periksa ke dr. Nuril bulan Februari awal. Kala itu, beliau meminta Elif untuk melakukan kultur urin dan ferritin. Alasannya, anak yang nggak doyan makan bisa jadi karena ada infeksi saluran kemih. Atau, karena anemia yang bikin nafsu makannya berkurang.

Kenapa ferritin? Beliau curiga Elif kena Anemia Defisiensi Besi (ADB). ADB adalah kondisi dimana tubuh, khususnya otak mengalami kekurangan zat besi (Fe) dalam jumlah banyak. Otak membutuhkan Fe untuk perkembangan sel syaraf juga membantu penguatan otot. Otak yang kekurangan Fe berakibat buruk pada perilaku anak. Kekurangan Fe dalam jumlah banyak bisa membuat anak lemas, tak nafsu makan, mengalami gangguan kognitif, dan motorik. Cukup kebayang, kan, fungsi dari Fe ini?

Nah, Fe bisa tercukupi dari ASI hanya pada enam bulan pertama kelahiran. Karena, ada sisa asupan Fe yang disalurkan dari plasenta saat masa kehamilan. Selebihnya, Fe harus didapatkan dari MPASI atau susu formula kaya gizi.

Diagram kecukupan Fe pada bayi

Makanan kaya Fe banyak didapatkan dari protein hewani, seperti daging ayam, daging sapi, hati ayam, hati sapi. Juga telur. Sedangkan bayam, atau protein nabati, kandungan Fe-nya tak sebanyak dibandingkan dari protein hewani.

Jadi, saat memberi MPASI usahakan mengandung banyak Fe. Salah satu bahan MPASI yang banyak mengandung Fe ada di MPASI fortifikasi alias MPASI instan (produk pabrikan yang dijual bebas di pasaran seperti Promina, Milna, SUN). Karena pada MPASI fortifikasi ditambahkan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sayangnya, MPASI fortifikasi ini kurang mendukung dalam peningkatan tekstur. Cek deh, MPASI fortifikasi untuk bayi 6-8 bulan, lalu bandingkan untuk 9-12 bulan. Pasti nggak jauh beda teksturnya. Padahal tekstur ini sangat penting untuk melatih oromotor anak sebelum mengkonsumsi makanan keluarga di usia 12 bulan.

Lalu, apa kabar dengan MPASI buatan sendiri? Selain kaya rasa dan tekstur bisa disesuaikan, membuat MPASI sendiri itu ribet bagi sebagian orang kayak saya, hahaha (tolong, bully aku plurker netizen :p). Yang perlu diperhatikan, MPASI buatan sendiri kandungan zat gizinya juga harus dihitung. Ini untuk mencegah adanya ADB atau malnutrisi lainnya.

Makan spaghetti 

Naaaah, setelah penjelasan ala kadarnya di atas tadi, apa hubungannya dengan Elif?

Elif ternyata positif ADB karena Fe-nya 7,7 (normalnya 14) dan hasil kultur urin menunjukkan dia positif ISK. Hanya saja, jumlahnya kurang dari 100.000, menyebabkan dia tak perlu menjalani terapi Ab. Jadi, Elif hanya dikasih suplemen Fe untuk meningkatkan nilai Fe.

Banyak yang tanya, kok bisa anak segendut Elif, selucu, dan seginuk-ginuk itu ternyata makannya bermasalah? Wallahu 'alam. Yang penting saya segera berusaha untuk mencegah adanya kemungkinan yang lebih menakutkan, semampu saya dan suami.


Doyan makan

Lalu, setelah dinyatakan positif ADB, dr. Nuril mengecek kekuatan rahang atas dan bawah Elif. Di situ ketahuan rahang Elif kurang kuat. Ini yang jadi cikal bakal Elif nantinya harus diterapi okupasi selama 1 siklus (13 kali terapi). Terapi okupasi bisa membantu meningkatkan penguatan otot rahang Elif sehingga bisa mengunyah dan nggak ngemut makanan lagi.

Lebih lanjut tentang terapi okupasi, akan saya jelaskan nanti ya. Karena postingan ini sudah terlalu panjang dan menjemukan untuk dibaca :)). Semoga terbuka pikiran orang tua untuk memahami kondisi anak! :)

Btw, I know, every parent have their own way for keeping their baby grows health. Nggak usah sok bener jadi orang tua sampai nge-judge orang lain yang menerapkan metode pengasuhan berbeda tampak salah. They have their own style. Mohon jadi orang tua terbuka dan cuek menanggapi nyinyiran orang tua lain, apapun profesinya, wkwk.

Monday, July 15, 2019

Bermain di Gurun Pasir Putih Pulau Bintan

Onta di gurun pasir putih

Apa jadinya kalau Indonesia punya gurun pasir?

Ya, biasa aja. Karena secara geografis tidak memungkinkan ada gurun pasir di Indonesia, hehe.

Tapi, kalau kamu pingin tahu gurun pasir lebih dekat, bisa banget datang ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Di sana, ada bekas galian tambang yang menghasilkan gundukan pasir. Saking luasnya, sampai menyerupai gurun pasir.

Mirip padang pasir

Lokasinya mudah ditemukan karena berada di tepi jalan. Yakni di daerah Seri Kuala Lobam, Busung. Sayang, saya kurang tahu persisnya karena enggak tahu rute jalan, wkwk. Jadi, monmaap ya, nggak tahu ancer-ancernya (:

Di gurun pasir itu, ada beberapa pernik yang dibuat menyerupai gurun pasir. Ada onta, perahu laksana di negeri Sinbad, dan pernik pepohonan dua dimensi.

Kapal milik Sinbad

Oh yaa, lokasi ini Instagrammable buat yang suka fotografi. Tapi, karena saat saya ke sana hujan rintik-rintik, maka jadilah pasir yang diinjak agak basah. Matahari bersinar malu-malu.

Padang pasir putih

Kalau mau mampir, boleh banget. Soalnya, beberapa travel planner kalau ke Tanjungpinang pasti memasukkan gurun pasir putih ke dalam bagian dari itinerary.

Jadi, kapan kamu ke Tanjungpinang buat main bareng di gurun pasir? Atau pingin main-main di tempat lain di Tanjungpinang? Cek di sini yaa...

Boleh begini...

Thursday, June 27, 2019

Ribetnya Jalan-jalan Bareng Bayi Tumbuh Gigi

Kalo gini ceria ;))

Sekira lima hari sebelum lebaran, Elif mulai mogok makan. Yang biasanya doyan makan apa aja, sekarang jadi kumat. Ngemut apa aja yang masuk ke mulut. Tapi, kadang-kadang dia mau juga kalau disuapin makanan. Paling pas lagi bener-bener lapar.

Saat mudik, Elif nggak begitu keliatan mogok makannya. Tapiii pas diajak main ke Batu, kumat luar biasa. Semuanya nggak cuma diemut, juga dilepeh. Ganti menu? Sama aja! Saya yang semula semangaaat ngajak renang ke Selecta jadi senewen. Mangkel, kzl zbl luar biasa. Mood liburan langsung lebur.

Ya gimana dong? Nggak ada makanan blas yang masuk, termasuk cemilan.

Kalo gini seneng 🙃

Ternyata, usut punya usut, besoknya saya iseng nyuruh Elif buka mulut. Di situ baru keliatan kalau gigi gerahamnya tumbuh. Sebiji. Pantesan rewel.

Sehari-dua, nafsu makan Elif kembali. Lalu menginjak hari ketiga kambuh lagi. Yaelah, emak-emak panikan langsung mere-mere dong. Cek-cek gigi, e, ada dua biji gigi geraham dan satu gigi susu tumbuh. Barengan!

Seneng? Alhamdulillah

Ya Allah... Panteslah anak awak rewel sekali. Hati dan pikiran udah nyalahin jadwal terapi okupasi yang nggak konsisten. Ndilalah pas tau tumbuh gigi jadi lega. Apa kabar urusan makan?

Wes sak karepmu. Mau makan, Alhamdulillah. Enggak, ya sudahlah biar. Namanya juga tumbuh gigi. Nggak maksa tapi tetep nawarin.


Wes sak karepmu, Dek 🙃

Di sini sungguh saya baru menyadari kalau semua hal yang saya kerjakan pasti selalu berhubungan erat dengan Elif. Mau bekerja, jalan-jalan, makan, tidur, pasti ada aja kaitannya sama Elif. Saya yang dulunya enggak jago-jago amat ngatur itinerary, sekarang kudu lebih jago ngaturnya, disesuaikan dengan kebutuhan Elif. Itinerary berantakan? Ya nggak masalah. Yang penting jangan sampai mengganggu waktu untuk keluarga. Karena itinerary hanyalah buatan manusia. Selanjutnya serahkan pada Allah 🙃.

Jadi, kalau disuruh menyimpulkan, emang enak ngajak bayi jalan-jalan? Enak dong! Apalagi pas tumbuh gigi. Bisa memacu adrenalin dan belajar mengatur kewarasan di tengah kondisi yang kurang stabil 🙃

Semangat! ðŸĪŠ

Thursday, February 21, 2019

Main ke Air Terjun Jagir Banyuwangi Bareng Bayi

Jagir!

Banyuwangi! Akhirnya, saya punya kesempatan untuk main ke Banyuwangi lagi setelah selama ini hanya jadi wacana antara saya dan suami.

Sebenarnya ini bukan acara pribadi. Soalnya saya ikut rombongan gathering kampus. Suami dan anak sengaja diajak dengan skenario menginap di hotel lain sementara saya ikut program kampus. Lalu kami jalan-jalan sendiri saat rombongan sudah selesai.

Segar


Tapi, ternyata rencana tersebut ditolak oleh pihak kampus. Maka jadilah saya sekeluarga ikutan jalan-jalan bareng rombongan dong! Plus, dirasani oleh beberapa teman (tentunya!!) sampai dibelain rasan-rasan di restorasi. Alhamdulillah yaa, penghapus dosa:)).

Salah satu tujuan acara jalan-jalan bareng rombongan adalah ke Air Terjun Jagir. Saya dan suami sudah pernah ke sini sekira tiga tahun lalu. Cek di sini yes! ;)) 


Mandi boleh

Bedanya, kali kedua kami datang bersama bayi. Jelas berbeda. Trek naik turun yang sudah disemen rapi saya serahkan ke suami buat gendong bayi. Saya sudah kapok gendong bayi naik turun begitu. Pengalaman pas ke Bali dulu, badan berasa remuk redam encok semua. Usia boleh muda, tapi badan nggak bisa menipu ternyata:)).

Air Terjun Jagir merupakan air terjun pertama bagi Elif. Makanya pas begitu lihat air yang turun dari sumbernya, Elif antusias. Saya pun mengajak Elif untuk main air. Mencicipi segarnya air yang mengalir. Mungkin terasa lebih dingin bagi Elif, sampai-sampai dia agak teriak-teriak nggak mau nyentuh air, wkwk.

Elif main air

Yowes gapapa yang penting udah pernah nyicip air terjun.

Oh ya! Elif antusias banget lihat air terjun gegara di kolam ada anak-anak seusia SD yang nyemplung main air. Dia ngerasa menemukan temannya kali kok bisa berani nyemplung air nggak kedinginan.

Tapi yang jelas, main ke air terjun sambil bawa bayi sah-sah saja kok. Yang penting bapak-ibunya kuat, sehat walafiat, nggak ngeluh encok. Perlu komunikasi buat bonda-bandi siapa yang gendong bayi biar nggak salah paham, wkwk.

PS; cek link ini untuk tau lebih detail serunya Air Terjun Jagir!


Senang!

Wednesday, January 23, 2019

Serunya Staycation di Harris Hotel Surabaya

Lobi hotel

Sudah cukup lama saya absen dari dunia blogging. Ada rindu tapi mau nulis nggak pernah sempet #pret. Maka saya putuskan postingan tentang staycation ke-sekian kalinya sama Elif menjadi postingan pertama tahun ini:))

Well, saya sebenarnya punya banyak sekali rencana--yang otomatis menjadi wacana karena nggak terealisasi. Seperti ngajak main Elif ke Penang seketika batal gegara saya harus ikut ujian SKB CPNS di Malang. Sedih? Kecewa? Iya! Apalagi nggak keterima! Udah batal ke Malaysia, gagal jadi abdi negara, plus HP ilang pula. Sakno meeeen uripku:))))

Gapapa pasti ada hikmahnya *tabahkan hatiku Ya Allah*

View dari kamar

Lalu, ketika semua rencana batal, maka satu rencana untuk merayakan hari jadi Elif harus terealisasi dong. Saya memang nggak mau hura-hura pakai perayaan karena bukan budaya bangeeet. Tapi saya maunya staycation di hotel! Minimal bintang empat. Titik!

Ya, mumpung punya gift voucher gopek dari tiket.com sayang kalau dilewatkan, kan?

Baru check in

Harris Hotel Gubeng saya pilih karena ada kolam renang dan kids cornernya. Mayan buat Elif main-main.

Kids corner

Rencananya, sepulang kerja, siang pukul dua teng! Kami early check in. Tapiiii berhubung hujan dari pagi sampai malam deres parah, seketika rencana kami batal. Buyar semuanya. Mau renang sore-sore jelas batal. Dahlah mager goleran di rumah.


Kamar

Check in pun jadinya jam delapan malam seperti yang sudah-sudah. Kami kalau check in hotel mesti jam segitu. Malah pas nurutin SKB CPNS baru sempat check in jam 12 malam. Ya Allah...

But well, gapapa pasti ada hikmahnya yaaa:)).

First impression datang ke Harris Hotel saya langsung senang. Ada welcome drink jus semangka dan kukis cokelat. Lalu dapat kamar di lantai delapan. Luas dan nyaman. Saya syuka syekali.


Perlengkapan mandi

Paginya, kami langsung sarapan setelah bersih diri. Sayang bangeeet, pas momen makan gini saya gagal fokus. Niatnya mau ambil porsi makan yang ada sikik-sikik malah batal. Fokusnya ganti ke Elif gegara makannya rewel. Sekalipun sudah dialihkan ke kids corner dan dijagain suami, saya tetep nggak fokus makan. Ya nasib akhirnya ikutan main bareng di kids corner sampai Elif ngantuk lalu tidur ke kamar.

Seru wallpapernya

Mari makaan!

Sejam sebelum check out, Elif bangun. Bapaknya Elif ngeyel pingin nyemplung kolam gegara udah terlanjur mompa pelampung. Baiquelaaah. Jadilah mereka berdua turun dulu sementara saya beberes barang biar bisa langsung diangkut pas check out.

Berendam

Makaaa, ketika saya meninggalkan Harris Hotel Surabaya, saya jadi pingin balik lagi. Memang, sih, bangunannya nggak seluas Harris Hotel Riverside Malang. Tapi pelayanannya enak dan seru banget. Jadi kalau ditawarin nginep di sana lagi, pasti mau banget!:))

Mau lagii