Friday, July 19, 2019

Awal Mula Elif Harus Terapi Okupasi

Elif :*

Tepat 20 Januari lalu, Elif berusia setahun. Saat itu juga dia mulai menunjukkan tanda-tanda kurang doyan makan. Padahal, saat usia 6-12 bulan MPASI doi doyan makan apa aja. Hm, pasti ada yang aneh...

Seminggu, dua minggu, kok masih ngemut juga. Dikasih makan apa aja, sampai menunya ganti bolak-balik, sudah menyesuaikan jadwal, duduk tenang di kursi, tetep aja ngemut. Saat itulah insting saya sebagai ibu yang merangkap sebagai wartawan, guru, dan pedagang pempek, bekerja.

Elif harus ke dokter.

Alasannya?

Banyak. Anak nggak doyan makan itu pasti ada alasannya. Jangan kita, sebagai orang tua justru membiarkan anak yang lagi males makan itu. Mungkin dia lagi sakit? Tumbuh gigi? Atau memang lagi males makan alias Gerakan Tutup Mulut (GTM)?

Boleh. Tapi dibatesin dua minggu aja ya. Lebih dari itu, tolong segera dibawa ke dokter anak.

Baaa~

Ada pasien yang ngobrol sama saya, katanya BB anaknya turun terus setiap bulan. Nggak mau makan juga. Pas dibawa ke dokter, ketahuan kena tuberkulosis. Ada juga yang ternyata kena hipotiroid. Jadi, waspada ya kalau anak susah makan lebih dari dua minggu. Bisa jadi BB seret sampai di bawah -2 SD selama beberapa bulan. Karena kalau dibiarkan berturut-turut bisa kena stunting alias kerdil.

Kalau Elif, dua minggu lebih nggak doyan makan langsung saya bawa ke dokter anak subspesialis nutrisi dan metabolik. Kebetulan saya ke RS Husada Utama. Di sana ada dr. Nur Aisyah Widjaja, Sp. A(K) atau biasa dipanggil dr. Nuril. Sebenarnya pingin ke Mbak Meta (dr. Meta Hanindita, Sp. A(K) di RS Manyar Medical Centre, tapi antrinya bikin mlz bgtz :))))

Sebelumnya, saya ke Prof. Boerhan Hidayat, Sp. A(K) tapi kurang cocok karena dikit-dikit diresepin susu formula. Bukan saya anti sufor, tapi tolong dong, dicek dulu apakah kondisi Elif betul-betul membutuhkan sufor?

Prof. Boerhan dan dr. Nuril ini sama-sama dosennya dr. Meta, jadi apa-apa yang saya khawatirkan pasti 11-12 sama solusinya.

Santai

Periksa ke dr. Nuril bulan Februari awal. Kala itu, beliau meminta Elif untuk melakukan kultur urin dan ferritin. Alasannya, anak yang nggak doyan makan bisa jadi karena ada infeksi saluran kemih. Atau, karena anemia yang bikin nafsu makannya berkurang.

Kenapa ferritin? Beliau curiga Elif kena Anemia Defisiensi Besi (ADB). ADB adalah kondisi dimana tubuh, khususnya otak mengalami kekurangan zat besi (Fe) dalam jumlah banyak. Otak membutuhkan Fe untuk perkembangan sel syaraf juga membantu penguatan otot. Otak yang kekurangan Fe berakibat buruk pada perilaku anak. Kekurangan Fe dalam jumlah banyak bisa membuat anak lemas, tak nafsu makan, mengalami gangguan kognitif, dan motorik. Cukup kebayang, kan, fungsi dari Fe ini?

Nah, Fe bisa tercukupi dari ASI hanya pada enam bulan pertama kelahiran. Karena, ada sisa asupan Fe yang disalurkan dari plasenta saat masa kehamilan. Selebihnya, Fe harus didapatkan dari MPASI atau susu formula kaya gizi.

Diagram kecukupan Fe pada bayi

Makanan kaya Fe banyak didapatkan dari protein hewani, seperti daging ayam, daging sapi, hati ayam, hati sapi. Juga telur. Sedangkan bayam, atau protein nabati, kandungan Fe-nya tak sebanyak dibandingkan dari protein hewani.

Jadi, saat memberi MPASI usahakan mengandung banyak Fe. Salah satu bahan MPASI yang banyak mengandung Fe ada di MPASI fortifikasi alias MPASI instan (produk pabrikan yang dijual bebas di pasaran seperti Promina, Milna, SUN). Karena pada MPASI fortifikasi ditambahkan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sayangnya, MPASI fortifikasi ini kurang mendukung dalam peningkatan tekstur. Cek deh, MPASI fortifikasi untuk bayi 6-8 bulan, lalu bandingkan untuk 9-12 bulan. Pasti nggak jauh beda teksturnya. Padahal tekstur ini sangat penting untuk melatih oromotor anak sebelum mengkonsumsi makanan keluarga di usia 12 bulan.

Lalu, apa kabar dengan MPASI buatan sendiri? Selain kaya rasa dan tekstur bisa disesuaikan, membuat MPASI sendiri itu ribet bagi sebagian orang kayak saya, hahaha (tolong, bully aku plurker netizen :p). Yang perlu diperhatikan, MPASI buatan sendiri kandungan zat gizinya juga harus dihitung. Ini untuk mencegah adanya ADB atau malnutrisi lainnya.

Makan spaghetti 

Naaaah, setelah penjelasan ala kadarnya di atas tadi, apa hubungannya dengan Elif?

Elif ternyata positif ADB karena Fe-nya 7,7 (normalnya 14) dan hasil kultur urin menunjukkan dia positif ISK. Hanya saja, jumlahnya kurang dari 100.000, menyebabkan dia tak perlu menjalani terapi Ab. Jadi, Elif hanya dikasih suplemen Fe untuk meningkatkan nilai Fe.

Banyak yang tanya, kok bisa anak segendut Elif, selucu, dan seginuk-ginuk itu ternyata makannya bermasalah? Wallahu 'alam. Yang penting saya segera berusaha untuk mencegah adanya kemungkinan yang lebih menakutkan, semampu saya dan suami.


Doyan makan

Lalu, setelah dinyatakan positif ADB, dr. Nuril mengecek kekuatan rahang atas dan bawah Elif. Di situ ketahuan rahang Elif kurang kuat. Ini yang jadi cikal bakal Elif nantinya harus diterapi okupasi selama 1 siklus (13 kali terapi). Terapi okupasi bisa membantu meningkatkan penguatan otot rahang Elif sehingga bisa mengunyah dan nggak ngemut makanan lagi.

Lebih lanjut tentang terapi okupasi, akan saya jelaskan nanti ya. Karena postingan ini sudah terlalu panjang dan menjemukan untuk dibaca :)). Semoga terbuka pikiran orang tua untuk memahami kondisi anak! :)

Btw, I know, every parent have their own way for keeping their baby grows health. Nggak usah sok bener jadi orang tua sampai nge-judge orang lain yang menerapkan metode pengasuhan berbeda tampak salah. They have their own style. Mohon jadi orang tua terbuka dan cuek menanggapi nyinyiran orang tua lain, apapun profesinya, wkwk.

4 comments:

Mechanical Engineering said...

Semoga segera doyan makan lagi Elif :)

Atiqoh Hasan said...

Alhamdulillah, sudah doyan makan, karena terapinya sudah selesai :)

Ayu Suroyya said...

Habibah anak sy dlu jg pernah kena isk, krn efek penggunaan pampers bunda

Atiqoh Hasan said...

Sampai terapi Ab, Bun? Elif hasil kultur urin 50.000 gak sampai terapi Ab. Pampersnya langsung saya ganti perdua jam, tapi setelah itu gak cek lab lagi *mayan menguras kantong, wkwk*