Thursday, July 25, 2019

Saat Elif Mulai Terapi Okupasi

Awal MPASI

Sebelum saya meneruskan cerita tentang terapi okupasi, saya cuma mau ingetin, jangan jadi orang tua yang denial sama kondisi anak. Misalnya, kalian sebagai orang tua tahu kalau berat badan anak segitu-gitu aja setiap bulannya, BB seret dalam dua bulan berturut-turut. Tapi keukeuh menganggap anak sehat. Yang penting aktif, doyan makan. Sampai dipamerin ke sosmed. Adaaaa! #EH

Logikanya, anak doyan makan, aktif, pasti lah yaaa… berat badannya naik. Kalau nggak naik? Ya berarti ada apa-apa. Jangan denial. Kenaikan BB tidak sesuai dengan usianya, pasti juga ada apa-apa.

Contohnya saya, nih. Elif kurang aktif apa, sih. Kurang doyan makan gimana lagi, yaa kena juga ADB dan ISK *diulang aja sejuta kali biar kalian ngeh, wkwk*

Anak teman saya, aktifnya kebangetan, kalau makan muntah. Eh, kena hipotiroid.

Ada pasien yang bilang kalau anaknya sudah imunisasi BCG tapi susah makan lalu kena TBC. Imunisasi itu hanya mengcover 85% imunitas tubuh. Imunisasi saja bisa sakit, apalagi yang nggak mau imunisasi? Alasannya kasihan anaknya kalau habis imunisasi jadi demam. Demam 2-3 hari masih mending daripada sakit lebih parah. Ya nggak?

Masih banyak contoh orang di sekeliling saya yang Alhamdulillah diberi hidayah untuk segera menghadap ke dokter anak (baik itu subspesialis nutrisi dan metabolic atau bukan).

Jadi, jangan denial sama kondisi anak, please… kasihan anaknya.

Cintaku sayangku :*

Sebenarnya, garda terdepan untuk tahu kondisi anak kita sehat atu kurang gizi adalah posyandu. Tapi, saya pikir nggak semua kader posyandu tahu arti dari berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala yang harus diukur setiap bulan itu. Mereka hanya menjalankan tugas mengukur. Bukan mengedukasi. Karena toh hampir setiap bulan Elif ikut Posyandu cuma diukur beratnya aja. Sementara ketika saya minta ukur tinggi dan lingkar kepala katanya nggak perlu.

Sekadar mengingatkan, pertumbuhan BB anak di atas setahun minimal 2 kilogram pertahun.

Ok, well, saya lanjutkan ke terapi okupasi ya.

Setelah baca di sini dan di sini, sudah tahu, kan, kalau Elif kena ADB dan ISK. Lalu apa kaitannya sama terapi okupasi?

Makan dulu, shay!

Elif ADB bikin dia kurang nafsu makan. Makannya ngemut di usianya ke-12 bulan. Elif terapi suplemen Fe sejak usia 12-14 bulan. Dari ferritinnya 7,7 naik jadi 11, lalu 21. Oh ya, Elif anemia dari umur empat bulan. Di saat yang sama, kebetulan saya medical check up di kantor. Dan, saya positif anemia. Kebayang kan, kalau Fe di ASI yang hanya mencukupi selama enam bulan kehidupan ternyata sumbernya mengalami defisit Fe? Pada waktu yang sama, Elif juga mendapatkan suplemen Fe dari dokter anak langganan tapi cuma sepuluh tetes perhari.

Padahal, kalau sama dr. Nuril dikasih 2 X 2 ml perhari. Karena malas makan alias ngemut, fungsi rahang Elif terganggu. Kalau dibiarkan berkelanjutan, bisa jadi mengganggu fungsi wicara. Gampangnya, mangap aja emoh, gimana mau ngomong? Bisa dipahami, kan, ya? Anak ngemut bukan sekadar ngemut, tapi efek jangka panjangnya banyak. Termasuk ke perkembangan otaknya juga. Daaan, tentu saja bisa stunting.

Elif ISK. ISK membuat fungsi saluran cerna terganggu karena ada kuman/ bakteri yang menutupi saluran cerna. Makanya dia males banget makan. Harus diterapi Ab kalau positif 10x105alias 100.000. Tapi Elif nggak harus terapi.

Kok bisa kena ISK? Saya curiga karena pemakaian clodi. Iya, sih, murah meriah karena hemat kantong, tapi nyucinya itu loh. Ribet. Beruntung yang bagian nyuci clodi adalah Bapak Suami yang kucinta, jadi… sambatnya nggak kebangetan, wkwkwk.

Pemakaian clodi memang hemat. Cinta lingkungan. Tapi pencuciannya harus benar. Setelah ketahuan ISK, saya dan suami rutin mengganti clodi Elif perdua jam sekali. Baik itu pee atau enggak. Tapi kalau malam akhirnya ganti pakai pospak. Gagal niat hati pakai clodi full, wkwk. Gpp, daripada ISK dan harus terapi?

I'm sexy and I know it :))

Elif terapi di Rumah Terapi Nameera. Hal yang paling saya syukuri ketika harus mengantarkan Elif terapi adalah tempatnya sangat dekat dengan rumah. Cuma sepelemparan beha. Bahkan, satu kelurahan. Alhamdulillah, saya bisa mengantarkan Elif terapi di tengah jam kerja.

Masuk ke Nameera, beberapa pasien menanyakan kondisi Elif yang… gemuk masa pakai acara terapi? Hehe. Tapi beneran saya bersyukur kondisi Elif masih bisa ditangani dokter lebih cepat.

Lalu terapinya ngapain aja? Terapi okupasi tampaknya sangat remeh. Karena bisa saya lakukan di rumah. Yaitu pemijatan di area rahang dalam membentuk huruf C (buccal massage). Selain itu, untuk mengukur kekuatan rahang dilakukan jaw grinding yakni menekan area geraham atas bawah, kanan kiri selama beberapa saat serta dipijat area pipi.

Jangan sesumbar karena bisa self service di rumah. Karena ternyata rangkaian pijatnya panjang sodara-sodara. Ada bagian leher, punggung, dada, mulut depan, area sinus maksilaris, dan banyak titik lainnya. Untuk itulah saya percayakan ke terapis okupasi.

Elif dapat jatah terapi satu siklus (1 assesment + 13 terapi + 1 evaluasi). Setiap minggu Elif diterapi setidaknya tiga kali masing-masing lima puluh menit. Terapinya seru banget karena dipijat sambil bermain. Kalau Elif lagi ngantuk, jelas lebih banyak mainnya daripada pijatnya. Pokoknya yang penting anak senang dan nggak tertekan saat dipijat.

Hasil dari terapi ini nyata syekali, pemirsa. Elif langsung mau makan lahap. Lagi dan lagi. BB-nya juga naik. Alhamdulillah. Nggak usah khawatir buat yang mau periksa, karena ada BPJS. Memang tidak semuanya ditanggung. Tapi setidaknya kita sebagai orang tua mengupayakan yang terbaik untuk anak.

Lulus evaluasi, Alhamdulillah

Kalau sudah begitu, pasti angka stunting di Indonesia bakal turun. Korelasinya begini. Anak nggak mau makan, BB seret, TB nggak naik, pertumbuhan terganggu. Karena BB-TB nggak naik, perkembangan otak ikut terganggu. Nah, jadilah udah stunting, IQ rendah, nggak bisa diperbaiki, kebayang ya bahayanya mengabaikan hak makan anak?

Please, jangan bully aku netizen, wakakakak. Soalnya, sudah kebal banget dibully sana-sini gegara cerita beginian. I just share what I have to tell you even you never want to know it. Balik lagi setiap orang tua punya cara untuk memperlakukan anak masing-masing.

Semoga dengan tulisan ini kalian semua aware sama hak anak untuk tumbuh sehat.

Biar jadi anak tumbuh sehat

No comments: