Tenang dan Senang Naik Pesawat Bareng Bayi

Menjemput fajar

Hal yang paling saya khawatirkan saat akan mengajak Elif terbang dengan durasi lebih panjang dari sebelumnya adalah... Rewel. Beberapa kali terbang bertemu anak-anak tantrum saat take off dan landing, membuat saya parno sendiri. Untungnya, Elif sepertinya sudah paham kalau akan naik pesawat dan rasanya pasti berbeda dengan naik transportasi lain.

Seminggu sebelum hari keberangkatan, saya berkali-kali menyelipkan kalimat, "Elif, kita mau naik pesawat lagi, nih. Nanti Elif mungkin agak sakit telinganya. Tapi gapapa, ada ayah sama ibu. Elif main atau minum susu aja ya."

Jawaban Elif seperti biasa, mengangguk dan menaik-turunkan tangannya, senang.

Begitu terus saya ulang sampai benar-benar sudah duduk di bangku pesawat. Saya juga ceritakan kalau dulu saat masih di dalam perut, dia sudah pernah diajak naik pesawat. Begitu juga saat usianya sembilan bulan. Jadi, nggak perlu takut atau sakit.

Dan, Alhamdulillah, Elif enggak rewel sama sekali. Baik saat take off atau pun landing. Elif malah heran pas ada bayi yang jerit-jerit nangis sepanjang penerbangan. Alhamdulillah... Kalau gini bisa diajak ngetrip sering-sering, wkwk.

Numpang mandi di bandara

Penerbangan Surabaya-Kuala Lumpur tidak sesingkat Surabaya-Bali, tentu saja. Apalagi, penerbangan yang kami pilih ternyata mengubah rute perjalanan. Dari direct SUB-KUL jadi SUB-CGK-KUL. Nggak cuman rutenya jadi indirect, jam keberangkatan juga pagi banget jadi jam 5.45. Kebayang dong saya harus gendong Elif saat tidur jam 4 pagi.

Oh ya, malam sebelum tidur, Elif udah ganti baju. Biar kalau nyampe bandara bajunya agak pantes dilihat walaupun wajahnya kusut, hehe.

Penerbangan indirect alias pakai acara transit di Cengkareng selama empat jam membuat saya putar otak. Kira-kira ngapain aja biar Elif bisa tetap happy dan enggak rewel saat penerbangan CGK-KUL.

Tapi lagi-lagi Alhamdulillah. Waktu transit empat jam bisa terbunuh dengan sempurna. Mulai pindah terminal, nyari shower room di Terminal 2 buat Elif mandi (btw, shower room ada di deretan gedung perkantoran Terminal 2D ya), lalu sarapan di resto kesayangan kita semua--Solaria, ngopi Kopi Kenangan, dan mainan kereta panda dorong. Elif senang sekali, Alhamdulillah. Makanya begitu naik pesawat CGK-KUL, dia sudah langsung tidur bahkan sebelum take off sampai lepas mengurus imigrasi di Kuala Lumpur. Alhamdulillah anak pinter.

Main kereta panda

Jadi nggak cuma penerbangan saat berangkat, Alhamdulillah Elif juga pinter banget pas mau pulang. Walaupun ada insiden ketinggalan pesawat dan diare karena kurang cocok sama makanan Malaysia. But, I know, she knows what I feel. Kalau saya tenang, pasti Elif ikutan tenang.

So far, di usianya ke-18 bulan, Elif sudah naik pesawat enam kali *baru enam kali doang udah songong bikin tips, cuy! Wakakakak*. Insyaallah, jika ada rezeki lebih, saya dan suami akan tetap mengajak Elif jalan-jalan. Baik itu dengan pesawat atau pun armada lain. Hitung-hitung investasi pengalaman dan meningkatkan imunitas tubuhnya.

Jadi, apakah naik pesawat dengan bayi itu menyenangkan? Alhamdulillah, iya dan bikin nagih.

Setelah perjalanan panjang...


TIPS NAIK PESAWAT DENGAN BAYI:
1. Bawa mainan kesayangan. Terus terang, Elif lagi seneng banget meronce dan menjepit pompom. Dia juga suka baca buku walaupun cuma dibolak-balik halamannya. Jadi, saya bawa tali sepatu dan manik-manik, pompom dan penjepit, dan tentu saja buki cerita. Tapi selama di pesawat, ini semua tidak berguna. Soalnya Elif maunya makaaan terus atau tidur, wkwk.

Bangun tidur langsung meronce

2. Minum susu. Baik ASI atau sufor, bebaaas. Saat take off dan landing tekanan udara di pesawat akan sedikit berbeda. Sebagai orang dewasa, saya merasakan perbedaan itu. Makanya, saya maklum banget kalau sewaktu-waktu Elif rewel kesakitan. Tapi, Alhamdulillah ternyata Elif anteng.

3. Makan. Makan atau mengunyah permen karet bagi orang dewasa bisa mengurangi perbedaan tekanan udara saat take off dan landing. Gerakan naik turun rahang membuat perbedaan tekanan udara menipis. Begitu juga pada bayi. Nggak heran, waktu mau take off saya langsung kasih cemilan biar Elif mengunyah. Tapi kok malah tidur? Wkwk.

4. Opsional, penutup telinga. Ini opsional ya. Tapi beberapa dokter menyarankan bayi menggunakan penutup telinga saat akan terbang. Gunanya, mengurangi tekanan udara.

5. Pakaian nyaman, baju, kaos kaki, dan jaket. Kaitannya sebenarnya lebih pada memberikan kenyamanan bagi bayi. Nggak lebih. Tapi, kalau bayi nyaman tentu saja rewel akan terminimalisir.

6. Jangan biarkan tidur di bandara. Sebisa mungkin pastikan bayi Anda bangun dan ajak main sampai capek. Tujuannya, memudahkan dia tidur di pesawat. Kalau udah tidur, aman semua dunia persilatan.

Selanjutnya... Silakan dimodifikasi ya!

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba