Gowes Keliling Gili Air sambil Gendong Bayi

Gowes di Gili Air sepi

Gili Air masih pagi. Waktu setempat menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Udara di luar amat sejuk. Menguar bersama aroma ikan, laut, dan pasir berbisik. Berbaur dengan debur ombak. Menjadikan pagi itu amat menyenangkan.

Pagi itu kami sudah bangun dan salat Subuh. Belum ada tanda-tanda kehidupan di luar resort. Kecuali pekerja hotel yang beberapa di antaranya mulai sibuk menata resto.

Gili Air masih sangat pagi. Sepi. Dan fasilitas sepeda gratis masih utuh. That's what we need. Dari semalam kami berniat gowes berkeliling untuk sekadar melihat kondisi pulau tapi batal. Sebabnya fasilitas sepeda gratis sudah habis. Tidak ada sepeda yang tersedia. Dan kami malas untuk menyewa. Kalau ada yang gratis ngapain sewa? Kalau tidak bisa gowes malam hari, kenapa tidak saat pagi?

Prinsip berhemat harus dijunjung tinggi :)).

Siap-siap gowes

Karena masih pagi, air laut belum pasang. Tampak deburan ombak sangat jauh dari pandangan mata.

Kami bersiap untuk gowes sedangkan Elif tetap ada di gendongan. Sebab nggak mungkin jika harus duduk di jok belakang. Saya belum pernah mengajak Elif bersepeda. Jadi sama sekali belum pernah membrief keselamatan saat gowes.

Gowes dimulai dari Mola2 Resort, tempat kami menginap. Lanjut ke perkampungan yang ternyata banyak sekali warung dan penginapan murah. Saya tak tahu kehidupan malam di perkampungan Gili Air. Apakah gemerlap seperti Kuta, Legian, dan sekitarnya? Atau sepi namun tetap berirama hentakan musik?

Tapi yang jelas, peraturan setempat melarang siapapun untuk menggunakan bikini di sekitar perkampungan karena dianggap mengganggu pemandangan warga yang dominan memeluk Islam.

Sepiiii

Yang sangat saya suka dari pagi hari berkeliling Gili Air ini adalah mengenal keseharian warga. Meski sekilas, setidaknya saya tahu kalau warga setempat laiknya warga daerah kebanyakan. Menyapu halaman, berbelanja, menyiapkan menu masakan lokal untuk dijual, dan menyiapkan kuda sebelum diajak mencari nafkah.

Ya, selain menyewakan kamar, sepeda, membuka toko, kebanyakan warga lokal juga menjajakan jasa cidomo, biasa disebut cikar atau dokar. Sebab, di tiga Gili termasuk Gili Air, sangat dilarang menggunakan kendaraan bermotor. Alasannya agar lingkungan di sana tetap asri.

Dimana-mana sepi

Well, gowes pagi-pagi keliling Gili Air sangat menyenangkan. Selain sepi, udara segar, sejuk karena belum panas, juga bebas mau balapan.

Saya lupa kalau punya suami seorang atlet sepeda--ala-ala. Makanya, pas balapan jelas kalah jauhhh padahal doi lagi gendong Elif, haha.

Saya kurang tahu kalau mau gowes di Gili Air dikenakan biaya sewa sepeda berapa. Tapi yang jelas, asyik banget gowes keliling pulau tanpa polusi ini. Apalagi kalau pagi-pagi. Seruuu!

Mau coba?

Balapan gowes

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Berburu Jajanan Murah di Bugis Street