Hati-hati Saat Pergi ke Toko Wajib di Hainan

Haikou old street

Hari ini saya mendapat undangan Hainan Tourism, tapi saya tidak bisa hadir. Dari undangan tersebut, rencananya pemerintah Hainan akan menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi Jawa Timur untuk saling mempromosikan.

Sayang, saya tidak bisa hadir. Tapi, sebelum kalian tertarik dengan hasil kerja sama itu, ada beberapa hal yang perlu kalian waspadai jika memang akan pergi ke Hainan.

Hainan adalah salah satu provinsi di China bagian Selatan. Sekarang, sedang sangat getol menjalin kerja sama dengan Indonesia. Namun, penerbangan menuju dan dari Hainan hanya bisa ditempuh dari Surabaya dan Jakarta saja. Itu pun menggunakan pesawat charter. Dari Surabaya menggunakan Lion Air, dari Jakarta menggunakan Sriwijaya Air.

Artinya, penerbangan baru bisa berangkat jika pada satu rombongan tour and travel ada minimal enam orang. Kalau kurang dari itu, atau kalau kalian berencana pergi solo traveling, biaya pesawat one way saja mencapai 3 juta rupiah. Padahal kalau ikut paket wisata di tour and travel, all in mulai 3,9 juta rupiah. Murah!

Rombongan di Nanshan

Kerja sama antara Indonesia dan China, khususnya Hainan, terjalin dari tahun 2017 sampai 2020 nanti. Karena ada kerja sama itulah, penerbangan dan paket wisata menjadi sangat murah.

Sayang, paket wisata yang ditawarkan kebanyakan adalah paket wisata ke toko wajib. Misal, toko giok, toko bambu, toko lateks, herbal, fish oil, dan toko-toko yang bekerja sama dengan pemerintah China yang memproduksi produk asli China.

Ada siasat yang sangat perlu diwaspadai jika kalian memang berniat mau ke Hainan. Karena nggak satu-dua orang saja yang akhirnya kecewa dengan pola marketing di toko wajib lantaran mereka tergiur untuk membeli. Padahal, nggak penting-penting amat.

Saya mulai dari toko giok.

1. Toko Giok

Jiujin

Namanya Jiujin Art Center. Dari dalam bis, saya sudah ogah beli giok ataupun apa saja di dalamnya. Karena tampilan tokonya sangat classy. Bikin keder bagi saya yang hanya membawa bekal seribu Yuan. Harganya nggak masuk akal bagi masyarakat menengah yang nyari hidup dari promoan semacam saya. Saya yakin, satu rombongan tour juga mengamini.

Tapi, ketika kami dibawa ke satu ruang besar, di situlah akting mereka bekerja. Layaknya sinetron, salah satu pegawai bernama Alin, menerangkan ciri-ciri giok asli atau palsu. Dengan berbahasa Indonesia! Lancar? Alhamdulillah sangat lancar.

Di tengah penjelasan Alin, seorang laki-laki perlente tiba-tiba datang. Pakaiannya klimis, tampangnya seperti bos. Dan ternyata benar. Andi, namanya, adalah arsitek yang merangkap sebagai marketing di toko tadi. Katanya, dia tidak paham giok, dan hanya meneruskan usaha keluarga.

Alin, cantik dan pintar bersandiwara

Andi tergesa-gesa menyapa kami. Katanya mau bertemu dengan pemerintah. Tapi, akhirnya nimbrung juga.

Dia bertanya asal kami, pekerjaan kami, dan bercerita kalau mau ikut pameran ke Shangri-La Surabaya. Huwow! Saya yang satu-dua kali meliput acara pameran perhiasan yang dimaksud Andi pun seketika takjub. Wah, gila! Ini keren.

Lalu, Andi pun memberi kami bandul giok gratis. Kami percaya saja kalau itu giok beneran walaupun tak sampai mengetuk-ngetuk di meja. Warnanya putih. Kami histeris karena diberi gratisan!

Andi pun tertawa lebar... Mangsa akan segera kena! 🤭

Lalu tak sampai lama, Andi menggiring kami untuk masuk ke sebuah ruangan. Di situ, dia memberikan promo besar-besaran. Saya yang sudah pasang badan, jadi ikut tergiur.

Anggap ini giok Burma kualitas tinggi 🤣

Bayangpun, gelang giok seharga 380 Yuan (setara dengan 760ribu rupiah) dibanderol jadi hanya 100 Yuan (atau 200ribu rupiah saja!). Lalu yang seharga 7600 Yuan, hanya menjadi 1000 Yuan. Duh, gila! Saya kalap, teman-teman kalap, kami semua kalap!

Saya menelepon ibu dan adik, begitu juga teman yang lain. Sungguh ingin membelikan oleh-oleh yang oke tapi murah.

Saya membeli tiga gelang giok seharga total 300 Yuan. Teman saya membeli giok dan Rubi sampai habis 1300 Yuan. Senang bukan kepalang.

Tapi di dalam hati kecil saya mulai berbisik karena ingat himbauan pada kertas yang dibagikan oleh tour leader. "Dimohon waspada dan membeli barang dengan teliti. Karena kami kerap mendapatkan komplain dan keluhan karena rombongan kurang hati-hati dalam membeli."

DEG!

2. Toko Bambu

Toko bambu jualan sandal kesehatan 🤭

Karena dari toko giok saya merasa ada yang janggal, maka di toko wajib pun saya menabahkan hati. Saya yakin, apa yang mereka tawarkan tidak saya butuhkan seumur hidup!

Saya setel kenceng karena uang saku tinggal 700 Yuan. Padahal belum beli apa-apa.

Nah, di toko bambu ini, kalian akan diajak mendengarkan petugas berdemonstrasi alat-alat turunan bambu. Mulai dari sandal, baju, handuk, sampai pembersih kaca mobil. Sungguh, saya nggak butuh semua itu.

Harganya? Jelas mahal bagi saya. Tapi apakah menjamin bakalan bikin badan sehat dan masuk surga tanpa hisab? Ya jelas enggak! Huh! Pokoknya saya nggak mau tertipu lagi walaupun petugas memberikan potongan harga!

3. Toko minyak ikan

Minyak ikan

Drama toko wajib akan tetap berlanjut karena di situlah ada siasat dagang kampret yang harus diwaspadai.

Di toko minyak ikan, dua petugas mempresentasikan keunggulan minyak ikan. Khasiatnya, kandungannya, semua dipresentasikan layaknya kuliah. Lalu di akhir sesi, kami diminta untuk cek darah. Untuk melihat jenis penyakit apa yang kami derita.

Sejujurnya, ini nggak penting banget. Kami memang nggak ngerti ciri darah merah sehat, segar, atau yang mengandung sampah. Sampai ada vonis penyakit ginjal dan waktu hidup tinggal beberapa tahun saja. Sungguh nggak masuk akal. Dokter butuh general check up buat memastikan jenis penyakit yang diidap seseorang. Masa petugas fish oil yang dipanggil profesor, cuma modal gambaran sel darah merah cukup menyebutkan jenis penyakit yang diderita?

Di sini saya cuma bilang, MPREEEET.

4. Toko herbal

Nggedabrus 😭

Di fish oil saja saya sudah skeptis dan jenuh melihat presentasi profesor-profesoran. Apalagi di toko herbal. Semua dipanggil dokter dan profesor. Padahal modal jas putih doang. Itu, sih, saya juga punya zaman kuliah dulu.

Di sini, petugas akan meminta kami untuk dipijat kaki menggunakan mesin khusus. Katanya kalau sudah merasa hangat, berarti keseimbangan hormon tubuh sudah tercapai.

Selepasnya, kami diajak bertatap muka di ruang yang lebih kecil. Satu orang "profesor" dua orang pasien. Pergelangan tangan disentuh sedikit, lalu dia mulai mendiagnosa.

Sehat...

Saya didiagnosa terkena rahim dingin. Makanya mudah pusing. Sementara ada teman saya didiagnosa otak mengecil, akan stroke, hingga hilang ingatan. Logikanya, masa cuma pegang pergelangan tangan bisa menyimpulkan penyakit yang sulit dicerna pikiran itu?

Hah! Sungguh ini trip yang sangat embuh buat saya. Untung gratisan. Walaupun modal kena gendam di toko giok setidaknya saya berhasil tabah di tiga toko wajib lainnya 🤣

Oh yaa, saya menulis ini bukan berdasarkan pengalaman sendiri saja ya. Tapi, beberapa teman yang pernah ke Hainan juga bercerita hal yang sama! Ternyata semua yang dipaparkan di toko wajib hanyalah skenario belaka.......

Jadi, silakan ke Hainan, asalkan tidak tergoda untuk membeli barang-barang kurang penting di toko wajib. Be logic! 

Sehat itu begini...

Comments

thyas said…
Iya benar sekali. Dari semua toko wajib, saya cuma belanja di toko bambu, yg menurut saya masih masuk akal lah. Belanja lain, saya belanja suvenir2 kecil2 macam magnet kulkas, dll. Sama di desa Bali saya beli kopi santan. Sudah itu aja.

Waktu di toko obat, yg ada alat pijat kakinya, kami masuk ke dalam "ruang periksa"
"dokternya" entah dokter beneran apa bukan, jutek sekali. Saya katanya dibilang rahim saya gak bersih, dan disuruh beli obat angkum seharga 800 yuan. Dalam hati, uang bekal saya cuma segitu segitunya wkwkwkw. Saya bilang saya gak bisa beli, dan saya dipaksa bisa pake kartu kredit, saya bilang saya gak bawa kartu kredit, dipaksa lagi pinjem kartu kredit TL nya, saya bilang saya gak mau merepotkan TL nya. Terahir, yaudah 200 yuan saja. Ya saya bilang saya gak bisa. Hehehehe...bener bener ngedabrus ni orang.
Atiqoh Hasan said…
Tuh, kaaan! Emang Hainan ini menjebak kok kalau udah dibawa ke toko wajib. Kayaknya memang terstruktur buat mengkamuflase barang yang dijual ehehehee. Yang penting hati2 🤣🤪

Popular posts from this blog

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Berburu Jajanan Murah di Bugis Street