Ye Tian Gu Zhai: Desa Suku Minoritas Li dan Miao di Hainan

Ye Tian Gu Zhai 

Berkunjung ke Hainan nggak melulu semua tempat wisata saya suka. Nggak melulu sebel juga gegara random check 🤪. Tapi ada yang paling saya suka. Yaitu di Ye Tian Gu Zhai atau Ye Tian Minority Village. Sebuah tempat wisata yang menghadirkan eksotisme suku minoritas yang ada di Hainan.

The mooost I loved selama di China ya di sini. Suka, deh, ketemu sama Suku Li dan Miao buat tahu keseharian mereka.

Suku Li

Jadi, Suku Li dan Miao adalah dua dari lima puluh enam suku yang ada di Hainan. Suku Li dan Miao ini suku minoritas. Nggak banyak turunan dari kedua suku tersebut. Lupa, deh, suku terbanyak apa namanya. Suku Han? Entahlah.

Foto keluarga 🤪

Masuk ke Desa Minoritas Suku Li dan Miao ini seru sekali. Pengunjung diharuskan untuk bernyanyi terlebih dahulu sebagai salam pembuka. Jika pemilik rumah berkenan, mereka akan ikut bertepuk tangan dan berdendang.

Nyanyi bareng

Nggak cuma itu, pengunjung juga akan dijewer telinganya sebagai bentuk penyambutan dari pemilik rumah.

Dijewer 

Setelah disambut, pengunjung diajak melihat keseharian dari penduduk kedua suku. Keseharian dari kedua Suku Li dan Miao ini bisa dikatakan 11-12 sama yang ada di Indonesia. Mulai membuat pola kain tenun, bercocok tanam, membuat pahatan atau kerajinan berbahan dasar pohon kelapa, pandai besi, berlayar, sampai bermain musik dengan cara yang tidak biasa.

Bayangpun meniup seruling dengan hidung, Cuy!

Seruling dan hidung

Untuk motif tenun yang dibuat saya nggak begitu paham. Tapi antara Li dan Miao, bisa dibedakan dari corak warnanya. Kalau Li cenderung gelap, sedangkan Miao berwarna-warni.

Dari segi bahasa, kedua suku tersebut punya bahasa sendiri. Bukan Mandarin seperti pada umumnya. Apalagi dialeknya. Sudah beda jauh jika didengarkan. Makanya, nggak semua orang China tahu dan paham sama bahasa dari kedua suku tersebut. Termasuk guide saya yang dari Shenzhen. Blas nggak paham sama bahasa Suku Li dan Miao.

Di sini juga disediakan arak China sebagai jamuan khas. Nggak wajib mencoba karena nggak mungkin semua pengunjung bisa mencicipi arak 🤪.

Arak China

Yang paling seru, melihat ibu-ibu Suku Li dan Miao yang menenun, membuat pola di kain strimin. Weh, sungguh jadi inget jaman SD menjahit di kain strimin.

Ibu-ibu yang menenun kain strimin ini lucuuu banget dan ramah. Mereka bisa banget diajak bercanda walaupun kami sama-sama nggak ngerti mau ngomong apa. Yang jelas, di sini mereka bahkan rela merekam suara kami untuk belajar berhitung dalam Bahasa Jawa.

Menenun kain butuh waktu 2 bulan

Gunanya apa? Untuk menyapa orang Jawa yang berkunjung ke Desa Minoritas dong. Keren ya, mereka bahkan terbuka untuk belajar bahasa asing demi bisa menyapa tamu 🙂.

Belajar berhitung 

Oh yaa, mereka bukanlah suku Li dan Miao yang tinggal di situ. Jadi, bisa dikatakan mereka dipekerjakan di sana untuk mengenalkan Suku Li dan Miao. Setiap pukul 4-5 sore mereka pulang layaknya karyawan pada umumnya.

Ye Tian Ghu Zai hanyalah miniatur atau tempat wisata yang sengaja didesain apik menyerupai kondisi pemukiman kedua suku tersebut. Lengkap dengan pohon kelapa yang berjejer dan menjadi produk olahan unggulan mereka.

Rindang kelapa

Kue kelapa, es degan, atau apapun berbahan kelapa di sini dijual. Tapi menurut saya harganya terlalu mahal meskipun memang enak, sih, kuenya wkwkwk.

Jadi gimana? Tertarik buat mampir ke Ye Tian Gu Zhai? tunggu apalagi buruan main ke Hainan dan mampir ke Ye Tian Minority Village supaya kenal sama suku di sana. Eits, jangan lupa buat antisipasi selama perjalanan di Hainan ya!  Apalagi di Ye Tian penjualnya ngeroyok banget. Jadi, waspada dan pinter-pinter ngeles aja.

Suku Miao

Comments

Popular posts from this blog

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Kuliner: Lontong Kupang