Berkah Pandemi: Berhasil Menyapih dengan Cinta dan Toilet Training

My baby grow up fast 

Sudah dua bulan lebih pandemi tak kunjung reda. Tapi saya yakin, every single thing has a reason.

Pandemi tak melulu soal aktivitas kita yang menjadi terbatas. Tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang ada di tengah pandemi.

Dua hal yang sangat saya syukuri selama pandemi adalah: Elif berhasil toilet training dan menyapih. Alhamdulillaah, tanpa kesulitan sama sekali, dua hal yang sebelumnya saya kira sangat sulit dilakukan, malah menjadi sangat mudah dikerjakan.

Main terus sama ibu

Memang, selama pandemi saya lebih banyak di rumah. Otomatis perhatian saya jadi lebih banyak ke Elif. Saya pun bertekad untuk mencoba mengajak Elif agar siap tanpa popok.

Sebenarnya, afirmasi terkait lepas popok sudah saya lakukan sejak Elif belum genap umur dua tahun. Saya sampaikan, kalau dia sudah besar, mandiri, dan bukan bayi lagi. Tapi kala itu saya belum serius niat lepas popoknya Elif. Baru benar-benar niat saat pandemi.

Hanya butuh waktu tiga hari bagi Elif untuk belajar tanpa popok. Selama tiga hari itu pula setiap malam saya coba pasang popok, hasilnya justru popoknya kering, indikator popok pun tidak berubah sama sekali. Itu berarti di pikirannya sudah tertanam kalau BAK atau BAB ya di kamar mandi.

Elif benar-benar tidak lagi tergantung pada popok. Memang sesekali ngompol, tapi saya pikir itu masih wajar dibandingkan dengan pakai popok sehari-hari. Elif berhasil toilet training di usia ke-26 bulan.

Oh ya, ketika seorang anak berhasil melewati fase toilet training, itu berarti kemampuan untuk mengontrol diri dan kemauan sudah terlatih. Hal ini penting bagi perkembangan anak di masa mendatang.


Ngebet sekolah

Selain berhasil toilet training, Elif akhirnya bisa disapih! Masyaallaaah. Saya senang luar biasa, akhirnya berhasil menyapih Elif dengan tanpa disengaja. Nggak ribet drama yang sampai dikasih lipstik--atau apalah itu--di payudara. Bener-bener cuma butuh waktu dua hari, Ya Allah, Elif udah bisa lepas ASI.

Jadi ceritanya sejam sebelum tidur, Elif sudah minum susu 150 ml. Otomatis, perut pasti masih kenyang. Saat di tempat tidur saya bilang, "Elif barusan minum susu, kan, pasti masih kenyang. Minum susu ibu dikit aja ya. Dikiiit aja."

Elif setuju. Di pikirannya, minum susu ibu sedikiiit aja itu adalah... hanya menjilat puting, hahahaha! Saya seketika kaget begitu habis nutul puting, berdoa, Elif langsung tidur. Loh, ajaib!


Bwa!

Besok siangnya, saya coba lagi. "Elif minumnya sedikit aja ya. Takut kekenyangan nanti nggak nyenyak tidurnya." Masyaallah dia nurut dan langsung tidur. Emak langsung cirembay 😭😭😭 karena sejujurnya yang belum siap menyapih adalah saya 😭😭😭.

Memang, sejak berhasil weaning with love, Elif nggak pernah sama sekali minta ASI. Sempat iseng saya tawari payudara, dia menolak tegas, "Gak mau!"

Ya Allah, nggak nyangka karena nggak sengaja malah bisa berhasil nyapih di usianya ke-26 bulan.

Tapi btw, sejak disapih, lepas ASI, sebagai gantinya tiap mau tidur Elif minta peluk atau sayang. "Sayang Ibuk..." atau nggak, "Ibuk peluk Elif."

Duh, kalau urusan anak minta peluk, sih, siapa yang nolak ya?

Sleep tight

Comments

Popular posts from this blog

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Berburu Jajanan Murah di Bugis Street