Ketika Ibuku Positif Covid-19


Perawat juga berjemur

Sudah lebih dari enam bulan pandemi berlangsung. Tidak ada tanda-tanda kasus menuju puncak klasemen. Apalagi kurva berbelok. Semuanya masih semu. Ditambah kebijakan pemerintah yang tewur membuat masyarakat menganggap Covid-19 telah lenyap. Kehidupan berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. Meski tak sepenuhnya normal. 

Namun, percayalah, sesungguhnya petaka itu justru kian dekat. Melekat pada denyut nadi kehidupan sehari-hari.

Covid-19 itu nyata.

Berhenti menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Sampai kalian, teman, atau keluarga kalian yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kalau kalian saat ini merasa sehat tanpa masker, tanpa menjaga jarak, tanpa peduli mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, itu bukanlah karena beruntung. Tapi justru karena belum. Tunggu waktunya saja.

Sudah sejak awal pandemi saya mengantisipasi keluarga untuk mentaati protokol kesehatan. Saya membelikan masker kain dan masker medis untuk kedua orang tua yang sama-sama rentan. Serta melarang keras keduanya keluar rumah apalagi untuk keperluan yang nggak perlu. Saat pelarangan ibadah di masjid, ayah taat ibadah di rumah. Kami sekeluarga juga lebaran di rumah saja. Seketat itu bukan tanpa alasan. Karena kami paham keduanya memiliki komorbid. Ayah komorbid jantung sedangkan ibu komorbid DM.

Selain karena kedua orang tua yang punya komorbid, keganasan virus corona saya ketahui dari hasil liputan sehari-hari. Kebetulan, pos liputan saya ada di bidang kesehatan dan pendidikan. Jadi, bisa dikatakan apa yang saya liput, saya terapkan pada keluarga. Sebisa mungkin saya mematuhi aturan-aturan yang bisa menghindari kami dari terpapar Covid-19. Apalagi saya punya anak kecil.

Istilahnya, kalau saya mengabarkan info terkini terkait Covid-19 untuk masyarakat melalui berita yang saya tulis dan shoot, masa keluarga nggak saya jelaskan? Bodo amat dengan keluarga lain, teman, tetangga, saudara yang sangat berani "menantang maut" di tengah pandemi yang makin nggak jelas kondisinya. Berkerumun, tanpa masker, liburan ke mall/ luar kota, pergi ke playground, tentu saja bersembunyi di balik kata-kata "patuh pada protokol kesehatan".

Saya tidak pernah pedulikan mereka-mereka yang senekat itu. Apalagi yang menganggap jika orang sakit masuk RS, maka akan dianggap Covid-19. Hey, jangan lupa, Covid-19 adalah penyakit seribu wajah. Tergantung organ tubuh mana yang lemah di situlah dia menyerang. Karena masing-masing pasien menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Bahkan, sangat bisa tanpa gejala. Ngono positif tanpa gejala, merasa sehat, trus traveling dengan modal rapid test yang nggak akurat hasilnya, opo gak egois jenenge?

Cuma satu yang ada di pikiran saya, jangan sampai saya tolol ikut melakukan itu semua. Karena sejak awal, saya sudah memposisikan siapa saja lawan bicara di manapun, adalah pembawa virus corona. Termasuk saya dan keluarga. Saya memang pernah khilaf menyepelekan Covid-19 saat nekat ke Penang awal kasus Covid-19 ditemukan di Jakarta. Setelahnya, ampun, saya mending di rumah aja daripada jalan-jalan tapi ternyata OTG. Atau pulang jalan-jalan malah terpapar. Naudzubillah.

I really don't care people are talking about conspiracy. But, I do need stop stupidity around by my own way.

Cukup rutin saya paparkan fakta terbaru tentang Covid-19 ke orang tua yang awalnya menganggap gara-gara Covid-19 itu ribet. Saya ajari bagaimana mensterilkan permukaan perkakas rumah dengan konsentrasi disinfektan yang sesuai. Walaupun ujung-ujungnya cuma patuh di dua-tiga minggu awal. Karena saya pun sempat sesak gegara rutin menyemprot permukaan dengan disinfektan. Pun ayah saya. Langsung konsul ke SpJP. Ya, aturan bersih-bersih pakai disinfektan bukan dengan menyemprot lalu dilap, tapi lap dibasahi dengan disinfektan baru digunakan untuk membersihkan.

Setelah empat bulan berjuang keras taat protokol kesehatan, sampai akhirnya awal Juli, ibu saya demam delapan hari. Suhunya berkisar di antara 37,5° ke atas. Diajak ke puskesmas enggak mau, apalagi ke rumah sakit. Alasannya karena takut. Akhirnya, setelah dibujuk, mau juga pergi ke puskesmas.

Tapi apa yang didapat? Cuma dikasih vitamin.

Lah, memang apa yang diharapkan? Saya tuh berharap ibu saya minimal dirapid-test (karena saat itu didengung-dengungkan oleh siapa saja, bilang wajib rapid blabla...) walaupun pemeriksaan rapid test tidak berguna, karena cuma mendeteksi antibodi, bukan virusnya. Tapi toh nyatanya dicek tensi dan gula darah aja enggak. Saya jadi sewot dan menganggap skrining di puskesmas tidak efektif.

Tercatat dari bulan Juni sampai 10 Agustus, ibu saya rapid test massal dua kali sesuai perintah Dinas Pendidikan Surabaya. Hasilnya nonreaktif semua. Lalu pada tanggal 18 Agustus, ibu ikut swab test massal di Puskesmas A. Hasilnya baru turun empat hari kemudian, 22 Agustus. Tapi ibu saya baru dapat informasinya pada 26 Agustus.

Sumpaaah, ini prosedur macam apa, hah? Hasil swab turun delapan hari setelahnya! Dan anehnya, dari Puskesmas A ternyata datanya tidak disampaikan ke Puskesmas B, wilayah kelurahan kami. Apalagi ke tingkat RT/RW. Sebab, Puskesmas B baru tau dan menghubungi ibu saya pada 2 September, saat ibu sudah lima hari isolasi di RS. Ketua RT pun baru menggalakkan tetangga agar memakai masker. Sebelumnya? Boro-boroooo. RT-nya aja menggelar resepsi pernikahan keponakannya tanpa wajib pakai masker! Parah!

Well, begitu tau positif, saya sangat bersyukur karena selama menunggu hasil, ibu sudah isolasi mandiri. Meski hati saya sebenarnya hancur. Sebegitu ketatnya kami menjaga kesehatan, masih kena juga. Rasanya campur aduk. Kenapa bukan orang-orang yang nggak taat itu? Awalnya memang saya denial. Tapi berangsur menerima. Mungkin ibu saat di sekolah tidak begitu ketat menjaga protokol kesehatan. Apalagi kasus klaster di sekolah Surabaya sudah sangat tinggi. Akhirnya, saya menerima dan pasrah.

Saya bersyukur saat isolasi mandiri Elif nggak pernah main ke rumah Ummah. Saya juga hanya sesekali ke rumah depan, numpang video callan dengan narasumber. Pokoknya ibu nggak kemana-mana blas. Di rumah juga sudah ada pembagian ruangan agar nggak bareng sama ayah dan si Bungsu, Tita.

Kebetulan waktu saya ke rumah Ummah narasumber yang saya telepon di teras adalah dokter SpP dengan topik happy hypoxia. Aturan ibu dengar semua hasil percakapan saya dengan narasumber karena posisi beliau ada di ruang tamu. Jadi setidaknya saat itu ibu paham apa itu happy hypoxia yang ditemukan lebih dulu kasusnya di luar negeri.

Tapi satu hal yang saya ingat begitu ibu dinyatakan positif adalah: respon suami. Saya tidak akan pernah lupa ketika mengabarkan kondisi ibu yang terkonfirmasi positif. Responnya, "Waduh, ibu pake acara kirim makanan ke sini pula. Gimana, sih?"

Sumpah, rasanya detik itu juga saya menyesal kenapa harus ditakdirkan menikah sama dia! Saya berjanji, saya masih sangat bisa hidup tanpa dia. Hancur rasanya hati ini. Memang pada masa isolasi mandiri sebelum hasil diketahui, ibu sempat ke depan pagar rumah saya mengantarkan makanan. Sebatas pagar sekira dua kali. Jarak rumah saya dan ibu tak sampai sepuluh meter. Dan kalaupun ngobrol jaraknya dua meter di luar rumah dan pakai masker. Makanan yang dikirim juga buat Elif dan suami. Tapi sebagai menantu apa ya pantes ngomong begitu di saat saya sangat butuh dukungan moral?

Ini juga yang bikin saya nangis berhari-hari karena harus merawat ibu yang terkonfirmasi positif. Sendirian. Nggak mungkin ayah juga ikut merawat karena resiko tinggi. Tita apalagi. Kalau ingat gimana galau dan hancurnya perasaan kala itu, saya selalu nangis. Seumur hidup rasanya baru kali ini ayah berkeluh kesah, khawatir, sedih, campur takut. Ya Allah, saya nggak kuat...

:(((

Sedih, tapi harus semangat dan menyemangati ayah atau ibu. Harus kuat padahal hati remuk. Jadi begini rasanya punya hati hancur dan tidak punya dukungan. Pikiran saya lebih ke keluarga inti, masih punya ayah dan adik yang perlu dijaga kesehatannya. Kalau keduanya kena, saya hanya punya Allah tempat untuk menangis dan menguatkan. Karena kakak saya dan adik pertama ada di Jakarta. Jadi keduanya hanya bisa urun saran (dan duit) dari jauh. Saya cuma punya Allah.

Isolasi mandiri tidak efektif.

Saya sepakat dengan ucapan pakar epidemiologi yang menyebutkan kemungkinan terjadinya klaster rumah tangga akibat isolasi mandiri tidak efektif. Pemerintah mengumumkan isolasi mandiri bagi orang yang tidak bergejala dengan di rumah saja. Padahal, isolasi mandiri di rumah justru menciptakan klaster rumah tangga yang lebih besar.

Tengok keluarga di Depok (kasus nomor 1-2-3) atau katakanlah keluarga Novel Baswedan. Itu karena isolasi mandiri. Kecil kemungkinan dengan isolasi mandiri di rumah tidak menularkan virus corona ke keluarga. Karena apa? Karena kadang penderita Covid-19 di rumah masih kurang disiplin. Apalagi yang rumahnya cuma sepetak?

Maka, saya pikir, ibu nggak bisa dirawat di rumah. Apalagi karena punya komorbid DM. Kalau kenapa-napa, saya nggak bisa membayangkan. Saya dan saudara pun sepakat mengajak ibu untuk foto thorax dan cek darah lengkap di RSI Jemursari. Tujuannya cuma satu, benar-benar memastikan ada indikasi pneumonia atau tidak. Karena kalau langsung isolasi di RS ibu jelas nggak mau. Keukeuh menyebut dirinya sehat walafiat.

Kamis pagi, 27 Agustus, saya kontak beberapa kenalan dokter. Saya curhat tentang kondisi ibu. Di antaranya menyarankan untuk kontak ke RS Lapangan Indrapura. Tapi sedari awal saya sudah pesimis. Karena RS Lapangan hanya untuk OTG dan bergejala ringan atau sedang. Tidak ada ventilator, tidak ada penyakit penyerta, dan saturasi oksigen harus di atas 90%. Dan begitu saya kontak, memang ibu tidak masuk kriteria untuk dirawat di sana.

Lalu saya kontak Dirut RSI Jemursari dan RSI Ayani. Saya jelaskan kondisi ibu. Dirut RSI Ayani, dr Samsul Arifin, dengan tangan terbuka menyiapkan kamar untuk ibu. Padahal posisi ibu nggak mau isolasi. Sedangkan Dirut RSI Jemursari, Prof Romdhoni, menjawab untuk pemeriksaan foto thorax dan darah lengkap bisa dilakukan di IGD khusus Covid-19. Well served, terima kasih, Dok.

Keputusan sementara, ibu mau ke RSI Jemursari hanya untuk foto thorax dan cek darah lengkap, keesokan harinya, Jumat, 28 Agustus. Oke, gapapa, pelan-pelan kami memaklumi.

Hasil foto thorax ibu mengindikasikan adanya infeksi paru-paru dan pembengkakan jantung. Allah... asli rasanya saya harus memaksa ibu untuk ke RS. Tapi kalau dipaksa takutnya malah ngedrop imunnya. Pelan-pelan saya jelaskan kondisi tersebut ke saudara saya, juga ke ayah. Saya konsultasikan juga ke dr Samsul Arifin. Beliau mengkhawatirkan kalau ternyata ibu terkena happy hypoxia. Sebab, hasil lab darah lengkap buruk, hasil thorax apalagi. Tapi ibu mengaku tidak ada keluhan sama sekali. Jeng jeng jeng......

Ambil darah di RSI Jemursari

Di hari yang sama, ayah dan Tita swab mandiri di RS PHC, Alhamdulillah hasilnya negatif. 

Sehari pascafoto thorax, ibu keukeuh di rumah saja. Sampai akhirnya saya jelaskan kemungkinan-kemungkinan terburuk ke ayah kalau ibu tidak segera diisolasi. Saya tunjukkan whatsapp saya dengan dr Samsul. Berbekal doa, Sabtu pagi, 29 Agustus ibu mau diisolasi!

Saya langsung tancap gas kontak dr Samsul. Saya menyatakan kesediaan ibu untuk diisolasi di RSI Ayani. Saya dan ibu naik motor, sedangkan ayah dan Tita naik mobil membawa perlengkapan yang dibutuhkan ibu selama diisolasi.

Saya dan ibu langsung menuju IGD. Saya sebutkan jika ibu positif Covid-19 dan sudah mendapatkan kamar atas izin dr Samsul. Di sinilah kecurigaan saya jika ibu menutupi keluhannya akibat Covid-19 selama isolasi mandiri terbukti. Saat didiagnosa perawat dan dokter, ibu menyebut kalau sering demam, sesak, pusing, dan pilek. Ya Allah, segitu banyak keluhannya ditutupi di depan keluarga. Cirembay hati ini... 

Sedih...

Bahkan, keesokan harinya, saya mendapatkan informasi jika ibu mengalami hipoksemia berat. Kadar oksigennya 55%! Lalu darahnya sangat kental. Aturan normal kekentalan darah di bawah 500, tapi D-dimer ibu 1183. Ini yang bikin tiap malam ibu harus disuntik difiti di perut yang rasanya nyeri sebadan. Ya Allah... ini kalau telat dikit aja udah nggak ngerti saya harus gimana :(((((.

Memang, saya nggak tega saat harus mengantar ibu ke RS untuk isolasi. Wajahnya sedih terkesan kayak mau menangis tapi dikuatkan. Dalam hati saya juga ingin nangis nggak kuat lihat ekspresi ibu. Tapi seriously, saya makin nggak tega kalau ibu tetap di rumah untuk isolasi mandiri. Saya dan keluarga nggak ngerti cara menanganinya gimana. Ada komorbid, ada sesak, ada keluhan macem-macem, beneran ke RS adalah jalan terbaik, meskipun terlambat.

Begitu masuk ruang isolasi, ibu langsung diberi oksigen dan infus setelah sebelumnya dicek darah, saturasi oksigen, dan diswab ulang. Jujur saya lega begitu ibu masuk ruang isolasi. Tapi saya jadi ikut menangis melihat ibu menangis saat ditelpon adik saya, Ilma. Saya takut ibu menyalahkan karena saya yang mendorong untuk segera diisolasi. Saya takut ibu marah karena seolah-olah saya yang memaksa. Tapi kami sekeluarga begini tak lain dan tak bukan hanya karena sayang pada ibu. Hanya ingin melihat ibu yang lincah, suka ngomel, dan ceria, berada di tengah-tengah keluarga. Nggak muluk. Bukan karena tidak mampu merawat di rumah.

Dua hari pasca ibu diisolasi, saya tes swab di PHC. Alhamdulillah negatif. 

Video call penyemangat

Oh ya, kenapa saya pilih RSI Ayani? Kedekatan personal, jarak rumah tak sampai 3 km, dan saya tau pasti nyaman. Saya tau kondisi perawatan ruang isolasi di RSI Ayani pasti tidak menyeramkan dibandingkan dengan ruang isolasi di RS lain. Saya pernah meliput dalamnya ruang isolasi RSUA dan RSUD dr Soetomo. Bener-bener ruang isolasi yang tertutup dan nggak kelihatan apa-apa. Berbeda jauh sama RSI Ayani yang menyulap gedung lamanya menjadi ruang isolasi seluruhnya! Sekira ada 80 bed dari enam atau tujuh tipe kamar semuanya disulap jadi ruang isolasi.

Di RSI Ayani gedung lama, dulu saya dan ketiga saudara dilahirkan. Di sini juga ayah menjalani operasi hernia. Ibu sakit asam lambung juga dirawat di sini. Sampai saya ada keluhan saat hamil dirawat di sini juga. Pun saat Elif panas tinggi di usianya ke-12 bulan. Maka ketika ada tawaran untuk isolasi di RSI Ayani, meski sulit dan alot, ibu saya mau. Karena apa? Selain dekat di hati, di RSI Ayani ruang isolasinya berbeda. Pasien bisa jalan-jalan keluar kamar melihat taman, berjemur, bahkan bisa dibesuk! Masyaallah pelayanannya prima. Bayangan ruangan isolasi yang cuma sebatas tembok menjadi sirnah.

Kepala Perawat Ruang Mina Bu Aulia yang saya temui saat ibu sudah masuk ruang isolasi menjelaskan dengan sangat detail aturan-aturan yang ada di sana. Termasuk tata cara mencuci baju yang pernah dipakai ibu. Di sana, ibu bisa jalan-jalan, pembesuk bisa sehari dua kali membawakan kebutuhan dan makanan kesukaan pasien, mengambil baju kotornya, bahkan saya juga bisa membesuk dengan hazmat biaya pribadi tentunya. Tapi yang terakhir tidak saya lakukan karena hampir setiap hari saya bisa melihat ibu langsung dari luar kamarnya. 

Senang bisa keliatan ibu makin sehat

Yaaa, sedekat itu. Ruang isolasi Mina bertekanan negatif dan dilapisi dua pintu kaca. Pembesuk bisa melihat langsung kondisi keluarga. Ya Allah, ini jauh dari kata menyeramkan, sesuai dengan kata-kata saya saat merayu ibu agar mau diisolasi di RS. Yang paling bikin menenangkan hati adalah di RSI Ayani ada bagian doa yang setiap pagi datang untuk berdoa sama-sama, memberikan energi positif agar tetap semangat selama menjalani isolasi.

Sesuai kesepakatan, saya yang bertugas riwa-riwi untuk mengantarkan keperluan ibu. Sehari dua kali, pagi dan sore. Sepulang dari RS, setor baju kotor untuk dicuci bareng ayah dan Tita. Sulit? Jelas. Karena kami takut terpapar. Tapi insyaallah sudah sesuai dengan tata cara yang diajarkan Bu Aulia. 

Tata cara mencuci pakaian pasien Covid-19


Hari-hari ibu diwarnai dengan kondisi naik turun. Gula darahnya apalagi. Sekali waktu 245, lalu terjun bebas ke 67. Tensinya pun sering naik, kadang turun. Dada sesak, kadang pusing, ditambah bibir pecah, tenggorokan kering. Tangan bengkak bolak-balik ganti infus. Rasanya makin banyak keluhan setelah masuk isolasi. Oksigen jarang dilepas. Makan menu RS mulai rewel dan minta menu apa saja yang menjadi favoritnya. Jamu, madu, probiotik, air doa, jus buah, semua kami bawakan, dengan harapan, bisa sedikit bekerja di samping pengaruh obat. Semua berupaya. Ikhtiar. Doa. Tawakkal. Kapan lagi berbakti pada orang tua? Rasanya, saya cuma punya waktu saat ini saja untuk berbakti. Maka uring-uringan sama suami selama seminggu lebih pun saya biarkan. Saya tidak peduli jika berdosa pada suami karena uring-uringan begini. Yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya saya bisa membalas ibu selama 31 tahun hidup di dunia ini. Kalau nggak sekarang? Mau kapan? Keburu telat lalu menyesal. Naudzubillah...

14 hari dirawat di RSI Ayani dengan kondisi naik turun, 11 September akhirnya ibu dinyatakan negatif. Alhamdulillah... saat itu juga kami berkemas. Berencana harus bagaimana memperlakukan ibu selama di rumah. 

Alhamdulillah pulang...

Ibu lanjut isolasi mandiri selama dua minggu ke depan. Kamar tidur dan kamar mandi dipisah, peralatan makan dibedakan, semua orang di rumah wajib memakai masker, rajin cuci tangan, dan dilarang keras ngobrol berdekatan, semuanya dibuat seolah-olah ibu masih membawa virus.

Demi kesehatan bersama, begitulah jalan yang harus dilalui. Semoga kita semua sehat selalu.

Ucapan terima kasih tak terhingga saya berikan kepada Dirut RSI Ayani, dr Samsul Arifin dan para nakes di sana. Utamanya Bu Aulia Kepala Perawat di Ruang Mina. Rasanya, kalau tanpa dorongan dan semangatnya, kami tidak sanggup melewati 14 hari yang berat ini. Beliau pun dengan tulus meminta doa agar diberikan kesehatan dalam melayani pasien Covid-19 yang entah kapan berakhir.

Tetap gunakan masker, jangan berkerumun, dan rajin cuci tangan. Kesehatan adalah utama. Tunda keluar rumah tanpa alasan jelas apalagi traveling dan bersembunyi di balik label "sesuai protokol kesehatan." Pikirkan, kalau egois sekarang, nanti kalian kalau sakit, mau dirawat siapa, sedangkan nakes overwhelmed? 

Sehat-sehat Para Nakes...






Comments

Popular posts from this blog

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Kuliner: Lontong Kupang