Alhamdulillah, Kena Covid-19 Sekeluarga



Berjemur

Pernah nggak, sih, kalian sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang baik, tapi pada akhirnya takdir Allah justru memberikan hasil yang menurut kalian itu buruk, padahal amat baik bagi-Nya?


Ya. Itulah kondisi saya saat ini.

Saya yakin betul, sejak pandemi datang, Maret 2020 lalu, sudah sangat taat pada protokol kesehatan. Memakai masker, mencuci tangan sesering mungkin (sampai jari-jari tangan berkali-kali luka🙃), sangat jarang jalan-jalan apalagi nongkrong bareng teman.

Tapi toh, setelah ibu saya kena Covid-19 Agustus lalu, kini gantian saya dan keluarga yang kena. Lengkap suami dan Elif.

Betapa sehebat apapun upaya saya dalam mencegah agar tidak terpapar Covid-19, tidak sebanding dengan kehebatan Yang Maha Besar.

Suami saya menunjukkan gejala lebih dulu pada Minggu 27 Juni lalu. Diawali dengan badan pegal-pegal. Kemudian secara berkala kondisinya semakin drop. Mulai badan linu, anosmia, flu berat, pusing, demam, lengkap semuanya. Saya langsung memutuskan untuk tidur terpisah mulai beda kamar sampai beda lantai sejak Senin.

Pisah ranjang, literally 
 

Selasa 29 Juni Elif mulai demam. Saya masih berusaha positif thinking kalau itu demam biasa. Saya belikan tempra, bye-bye fever, transpulmin, dan pure kids. Alhamdulillah Rabu siang sudah membaik. Nafsu makan pun tidak terganggu.

Tapi, kondisi suami saya makin menjadi-jadi pada Kamis malam, 1 Juli.

Kala itu saya mengecek kondisi suami, saturasinya 89, badan menggigil hebat, rasa ingin muntah, tiba-tiba kaki tidak bisa jalan, mata berkunang-kunang tidak bisa melihat. Saya stuck. Bingung mau ngapain karena posisi saya Kamis pagi baru swab PCR, hasil diagnosa baru keluar besok pagi. Mau mendekat jelas nggak mungkin. Mau ngajak ke RS jelas penuh dan sangat mungkin poli sudah tutup, nggak mungkin juga karena Elif pasti sendirian di rumah. Ya Allah nggak bisa mikir!

Lalu suami tiba-tiba minta dibuatkan teh manis hangat. Saya turun buatkan segelas teh panas. Dua gelas. Badan suami langsung berkeringat hebat. Serasa mandi. Dia bilang, "Aku mau sembuh ya?"

Saya cuma gigit bibir. Bingung. Itu pertanyaan atau pertanda? Pelan-pelan saya mengangguk. "Iya."

Makan buat suami dikirim di tangga


Sambil turun ke dapur saya menangis. Ya Allah ini baru permulaan, kayaknya kok bakal ada babak berikutnya yang lebih berat.

Tes PCR 700rb di Maspion


Esoknya, Jumat 2 Juli, hasil tes PCR saya menunjukkan positif dengan CT 15. Masyaallah, infeksius banget! Saya udah mikir pasti Elif positif juga (hasil PCR Elif baru keluar siang menuju sore). Secara kemana-mana bareng. Tidur, mandi, makan, main, rasanya lengket terus.

Baru ketika itu, Jumat siang saya mulai menunjukkan gejala-gejala. Flu berat, pusing, campur anosmia. Tapi saya tanggapi biasa aja karena merasa sudah vaksinasi lengkap pasti gejalanya nggak terlalu berat. Walaupun mata mulai berkunang-kunang, saya anggap flu biasa. Sampai akhirnya makin malam saya ngerasa nggak kuat kalau suami kambuh lagi di saat saya juga butuh pertolongan barengan sama Elif.

Saya kontak teman, barangkali ada koneksi ke RS Lapangan Indrapura (RSLI) atau ke Asrama Haji karena koneksi yang saya punya hanya rumah sakit--yang jelas nggak memungkinkan buat kami bertiga karena sudah sangat overload.

Alhamdulillah, nggak nyampe sejam kami udah dapat akses ke Asrama Haji dan ke Grand Park berkat dua teman. Data-data saya memang sudah saya obral mulai KK, KTP, dan hasil PCR. Wes bebas. Pokoknya saya bisa dapat perawatan. Saya memilih untuk menjalani perawatan di Asrama Haji yang baru diresmikan 25 Juni lalu.

Rumah Isolasi OTG


Kami nyampe Asrama Haji dengan motoran jam 21 tet! Nunggu sejam buat bisa masuk kamar bareng tiga orang yang datang lebih dulu. Sambil menunggu, saya ditelpon drg Vitria Dewi dari Dinkes Jatim. Saya kenal beliau karena beberapa kali wawancara.

Di situ saya ditanya kondisi kesehatan, suami, dan anak. Saya jelaskan kondisi suami sempat drop malam sebelumnya. Di situlah kemudian saya diputuskan harus mendapatkan perawatan ke RSLI. Tapi hari sudah malam, Elif udah ngantuk banget karena saya yakin banget kalau diboyong ke RSLI pasti butuh waktu lebih lama buat menunggu. Apalagiii, teman saya yang kontak RSLI tau banget kondisi RSLI Jumat malam sedang penuh. Baru kosong 45 bed Sabtu sore.

Bisa nyuci sendiri


"Kalau malam ini saya tidur di sini dulu gimana, Dok? Sambil besok dicek lagi kesehatannya?"

Drg Vitri setuju. Alhamdulillah banget kami bisa dapat kamar buat bertiga walaupun seharusnya kamar laki-laki dan perempuan dipisah.

Paginya saya mulai repot. Repot menjawab telepon, WhatsApp, dan kondisi badan yang mulai ngedrop. Saya mulai pilah-pilah WhatsApp yang perlu dibalas dan tidak. Karena sungguh balas WhatsApp itu pegel, Bund.

Apalagi kalau ditanya, "Gejalanya apa?" "Kok bisa kena?" "Dirawat habis berapa?" "Kok bisa dapat kuota Asrama Haji?" "Obatnya Pake apa aja?".

Pertanyaan-pertanyaan itu kalau dibalas, pasti menghabiskan energi. Padahal saya sedang butuh banyak energi untuk hal-hal yang lebih berfaedah. Konsen menjernihkan pikiran, misalnya.

TIPS: jangan banyak tanya kondisi teman yang konfirm. Usahakan kirim pesan berupa doa dan dukungan moril aja karena itu lebih dari cukup.


Aktivitas di RIO


Dari hasil pemeriksaan perawat yang datang ke kamar Sabtu pagi, kondisi kami tidak layak untuk dibawa ke RSLI karena dianggap sehat (saturasi, tensi, dan suhu). Drg Vitri menelepon.

"Mbak, kondisi sehat begini nggak bisa dirujuk ke RSLI ya. Jadi kemungkinan mbak dirujuk ke RS Darurat di Suramadu, karena di Rumah Isolasi OTG (RIO) hanya khusus PMI yang OTG. Nanti PMI akan semakin banyak, jadi mbak yang harus dipindah."

Di situlah saya kemudian makin drop. Saya kebayang gimana kondisi di Suramadu yang didirikan dadakan gegara kasus Bangkalan. Pusing saya makin menjadi-jadi.

Obatnya banyak

 
Asli ya Covid-19 ini bener-bener nyerang mental. Mental jadi acak-acakan banget. Apalagi pas anak bangun tidur nangis kesakitan dan nggak mau makan. Sementara keluhan saya sesak, pusing, mulai terasa. Mau ninggal tidur tapi kok anak belum makan. Maka di situlah kemudian saya menangis sambil tengkurap.

Belum lagi kalau suami mulai lemes, saturasi rendah. Ya Allah, ini cobaan begini banget. Harus banget positif thinking? Hah, nggak semudah itu, Jubaedah!

Ya menurut ngana ngeliat elu kesakitan, suami lemes, anak aktif tapi nggak mau makan masih bisa mikir positif? Yang ada malah pingin tiduraaaaan aja. Kok bisa-bisanya saya yang harus tanggung jawab! 😔

Skuter, buku aktivitas, dan buku cerita saya bawakan untuk Elif. Meskipun di Asrama Haji ada beberapa anak kecil sepantaran Elif tetep aja saya nggak tenang dengan kondisi seperti ini.

Madu dan buah kiriman teman ekbis 🥰


Sabtu, Minggu, Senin, sampai Selasa tidak ada kabar kalau saya akan dipindah. Saya mulai merasa tenang. Kiriman makanan dari teman dan keluarga saya nikmati meski tanpa rasa. Tapi saya langsung kembali kumat pusingnya ketika Selasa swab PCR dan disuruh pulang keesokan harinya. Heh? Kok cepet bangeeet! Bukannya harusnya sepuluh hari?

Katanya, aturan terbaru, RIO akan dikhususkan untuk PMI yang konfirm. Warga lokal nggak di situ tempatnya. Makanya warga lokal di-PCR lebih cepat lalu disuruh melanjutkan isoman di rumah.

Oke baiklah. Saya nurut ajalah yang penting pikiran waras meskipun pusing saya astaga masih timbul tenggelam sampai malam ini, hari ke-8 sejak dinyatakan konfirm.

So far, isolasi di RIO memuaskan. Cocok buat anak kosan atau kalian yang sulit untuk isoman. Perawat bisa memeriksa dua kali sehari pagi dan malam. Kamar bersih tapi sampah sering numpuk, jadilah kadang penghuninya yang bersih-bersih ngumpulin sampah. Makanan dijamin tiga kali sehari. Sayangnyaaa, di dalam kamar nggak nangkap sinyal. Kebayang, kan, kalau mau telepon atau online kudu keluar kamar padahal posisi lagi mager. Oh ya, di sini juga agak berisik karena barengan sama panggilan mic untuk PMI.

Antre periksa


Malam ini, saya sudah kembali di rumah. Anosmia saya masih timbul tenggelam. Kadang sudah bisa mencium bau makanan atau sabun, kadang hilang. Sampai saya bela-belain beli berbagai makanan untuk menggairahkan indera penciuman, tapi toh tetep aja. Sudah beli topokki, boba, donat, apapuuun kesukaan saya, tetep aja timbul tenggelam. Kadang donat rasa cokelat bisa ada baunya. Nggak lama batagor jadi bau sabun. Wkwk, kacau.

Selain anosmia dan pusing yang timbul tenggelam, kadang saya juga masih ngos-ngosan buat jalan sebentar. Tapi ya saya nikmati saja takdir Allah yang begini. Toh, usaha saya juga tidak main-main. Pakai masker, jarang nongkrong, makan di resto bisa dihitung jari, cuci tangan, kalau pun kerja dan berkerumun saya pasti langsung pulang menyucikan diri (bahasanya, tolong! 🤭).

Oh ya, saya juga tidak pernah menyangkal sains, hasil penelitian para ilmuwan. Jadi, saya tidak pernah menganggap Covid-19 adalah bagian dari konspirasi alias dibuat-buat. Secara teori saya tau ilmunya walaupun nggak paham-paham banget pas matkul BioMol, RekGen, dsb. Secara keseharian meliput di pos kesehatan dan pendidikan juga udah bikin mata makin melek informasi. Makanya, kalau melihat ada yang masih bersebrangan pendapat soal Covid-19 ini yaa, nggak ngurus, Jeh 😃.


Makan sambil berjemur

Kondisi Elif Alhamdulillah stabil. Berbeda dengan kondisi suami yang tentu saja karena belum mendapatkan vaksinasi, gejalanya lebih berat. Masih lemes, gampang capek, dan ngos-ngosan. Kami masih lanjut isoman sampai lima hari ke depan. Doakan kami segera sehat ya! Kami doakan kalian juga sehat-sehat sekeluarga. Jangan lupa persiapkan apa yang bisa disiapkan lebih dulu di rumah.

Pandemi ini masih panjang, kalau tidak dilawan, jangan melawan. Tetap ikhtiar dan jangan sombong.

Fighting



Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Kuliner: Lontong Kupang

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura