Yang Perlu Dilakukan Saat Ada Gejala Covid-19

 

SC: ayosemarang.com


Persebaran varian Delta makin masif. Seolah-olah kita dipaksa menunggu waktu untuk terpapar. Mau sekencang apapun, kalau Allah sudah berkehendak, mau apa? Menyangkal? Menolak? Atau menyepelekan?

Sebagai makhluk berakal, saya memutuskan untuk tidak berpikir demikian. Saya lebih memilih menerima sambil tetap berdoa dan berusaha.

Maka ketika suami menunjukkan gejala pada Minggu, 27 Juni dan bertahap makin banyak gejalanya, saya langsung minta dia untuk tes PCR.

1. Tes antigen dan PCR
Selasa, 29 Juni suami tes antigen. Tes antigennya positif langsung lanjut tes PCR. Hasil PCR keluar Rabu, 30 Juni positif dengan CT 18.

Saya dan Elif swab PCR pada Kamis, 30 Juni. Sengaja saya beri spare time untuk waktu inkubasi virus. Saya sengaja tidak ke puskesmas karena yakin kalau pelayanannya tidak secepat yang saya inginkan.

Hasil keluar pada Jumat, 1 Juli, CT saya 15, CT Elif 23. Berapa biaya untuk tes secara mandiri di Maspion Square?

Tes antigen 110.000 dan tes PCR 700.000 perorang. Hasil tes antigen satu jam, hasil tes PCR satu hari. Total kerusakan kantong 2,2 juta 🙃.

PCR test


2. Konsultasi online
Begitu diagnosa suami tegak, saya kontak narasumber, dr Alfian Nur Rosjid, SpP (semoga Allah merahmati njenengan sekeluarga, Dok). Saya diberi resep dan langsung saya tebus secara online. Monmaap, resep tidak saya tulis di sini karena gejala masing-masing orang berbeda. Jadi mending kontak dokter ya!

Saya kembali konsultasi online pada Jumat siang, 1 Juli ke dr Arimbi, SpP (karena kondisi suami yang tiba-tiba drop Kamis malam). Di situ saya diberi resep lagi dan diminta menyiapkan oksigen untuk kondisi sewaktu-waktu jika drop dan sesak.

Total kerusakan kantong untuk konsul online dan obat-obatan mencapai kurang lebih 2-2,5 juta (bertiga ya), hahahaha. Bokek! 🤪

Tanya narsum


3. Lapor puskesmas
Saya letakkan lapor puskesmas di bagian ketiga sebagai upaya jaga-jaga. Lapor puskesmas menjadi penting buat kalian yang isoman atau ingin mendapatkan perawatan dan tetap dalam pantauan.

Meski saya nggak ngerti fungsi pastinya selain 3T, tapi saya pikir lapor puskesmas tetap penting. Saat saya masuk Asrama Haji ada empat orang dari Puskesmas Sidosermo yang menghubungi saya mau tracing. Jujur, ganggu banget. Apalagi personil yang menghubungi saya beda-beda tapi pertanyaannya sama.

Saya merasa terganggu karena mereka nggak bisa kirim WhatsApp aja gitu. Mesti ada yang telepon. Padahal untuk angkat telepon saya perlu mood dan melihat kondisi pusing atau enggak. Ingat ya, tracing itu berarti banyak menjawab pertanyaan. Bikin makin pusing tau 🤪.

Setelah saya menjawab pertanyaan tracing, saya lapor juga saat sudah keluar dari Asrama Haji. Saya yang sudah lapor dan menyertakan surat keterangan keluar dari Asrama Haji pun tidak tahu apakah peran puskesmas memang hanya sekadar dilapori aja tanpa melakukan pemeriksaan atau pemantauan lagi. Karena memang nggak ada tindakan apapun.

Yang juga nggak saya pahami, tracing di Puskesmas tuh agak gimana ya. Logikanya, pihak Puskesmas sudah tau posisi saya sekeluarga terkonfirmasi, gituuu saya masih disuruh datang ke Puskesmas tgl 2 Juli. Nggak ngerti, deh, buat apa. Kalau sekadar buat ditanya-tanya kenapa nggak via WhatsApp aja? Ini saya positif dengan CT 15, loh. Infeksius banget, ya kali disuruh datang ke Puskesmas sekaligus sebar-sebar virus gitu maksudnya di sepanjang perjalanan? Untung saya nggak nurut.

Saya juga tanyakan hasil tes PCR ayah, ibu, dan adik yang sejak tanggal 3 Juli sampai hari ini belum keluar. Risiko tes gratis memang begini ya. Luwamaaaa. Kebayang, kan, butuh berapa lama lagi untuk isoman ketika diagnosa sudah tegak nantinya.

Jadi sejak tanggal 3 Juli, orang tua dan adik saya sudah isoman, tapi sampai hari ini (sudah 9 hari) belum ada tanda-tanda hasil tes keluar. Lalu apakah ada pemantauan dari Puskesmas sejak tanggal 3 Juli? Nggak ada. So, marilah kita berpositive thinking, mungkin kerjaan puskesmas maupun labkesda sedang sangat overload. Mungkin hasil tes pun baru bisa kelar 10 hari. Semoga sampelnya nggak banyak yang rusak.

Memang kalau mau dapat penanganan yang cepat dan tepat ya bagus perawatan mandiri. Tetap aja privilege juga sangat berperan penting dalam hal ini.

Surat keterangan


4. Sediakan oxymeter, termometer, tensimeter, dan tabung oksigen
Kalau memang konfirm, kalian harus menyediakan peralatan dasar oxymeter, termometer, tensimeter, dan tabung oksigen. Tujuannya ya untuk mengecek kesehatan selama isoman di rumah. Kalau ada pada kondisi drop, bisa langsung kontak puskesmas untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Oxymeter sangat penting untuk melihat kecukupan oksigen dalam darah. Waspada jika saturasi oksigen mencapai kurang dari 95 (sekarang sudah ada penelitian yang bilang kalau waspada di bawah 92 ya). Kalau sudah begitu, tabung oksigen yang perlu dikerahkan. Tabung oksigen ini belum sempat saya atau suami saya gunakan karena keburu ke Asrama Haji.

Biayanya? Saya nggak beli lagi karena pakai sisa pas ibu konfirm dulu. Jadi kalau mau beli keempat alat tersebut mungkin total sekitar sejuta ke atas ya.

Btw, kalau nggak ada tabung oksigen di saat kalian butuh banget oksigen bisa diterapkan dengan sering-sering tengkurap dengan bantal di dada, duduk 45°, atau duduk di tepi tempat tidur sambil tarik napas dalam-dalam dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut. 

Selain itu bisa juga melakukan pijat di sekitar rongga dada. Alhamdulillah ini bermanfaat banget buat meningkatkan kinerja paru-paru.

Tabung oksigen, termometer, oxymeter


5. Makan bergizi
Ini sebenarnya tanpa perlu menunggu sakit kudu makan makanan bergizi ya. Apalagi kalau sakit. Buah-buahan, madu, sayur, susu, protein, gempur semuanya. Kesampingkan dulu makan makanan yang memicu gejala sakit lainnya. Seperti makanan pedas menyebabkan diare, minuman dingin bikin batuk, telat makan bikin maag. Karena Covid-19 ini gejalanya, kan, macem-macem. Jadi usahakan seminimal mungkin gejalanya biar nggak susah perawatannya ☹️

Rasane campur baur 🤣


6. Obat-obatan dasar
Obat-obatan dasar sangat penting saat mulai menunjukkan bergejala. Misal mulai bergejala panas atau pusing bisa kasih parasetamol, batuk pakai obat batuk, agak mampet pakai minyak aromaterapi. You know what's the best for you asalkan nggak kemakan HOAX! Sumpah ya, saya yang kena, tapi orang tua masih nyodorin broadcast WhatsApp 😫. Jalan satu-satunya ya cuma satu; nggak usah nurut. Ya kali saya tahu broadcast WhatsApp itu HOAX tapi nurut-nurut aja 😅

Peralatan tempur


7. Pilah-pilah WhatsApp
Wah, asli ini penting banget. Nggak semua WhatsApp perlu untuk dijawab. Karena percayalah, ada sebagian dari teman kita yang cuma sekadar kepo. Nggak yang betul-betul peduli, heheheeee.

Kalau sudah begitu saya pasti cuma baca dan skip untuk membalas. Monmaap ya, saya perlu menjaga kewarasan bukan bermaksud sombong 🙏

Jadi, saya memang cuma membalas pesan teman yang isinya mendoakan kesembuhan. Kalau banyak tanya otomatis skip 🤣

8. Dana darurat
Punya dana darurat sangat berperan penting dalam kondisi krisis begini. Saya nggak nyangka kalau uang yang saya sisihkan tiap bulan untuk sekadar jaga-jaga sangat berguna di saat kena seperti ini. Saya nggak terlalu khawatir tabungan jebol karena uang yang dikeluarkan untuk perawatan, pengobatan memang uang yang disisakan untuk hal-hal darurat. Alhamdulillah banget ya Allah 😭

9. Jaga kewarasan dan kesehatan
The most important thing! Berjemur, minum suplemen, makan bergizi, berlatih napas dengan benar (tarik napas panjang lewat hidung keluarkan lewat mulut), olahraga, what else?

Hal-hal yang bikin stres jangan ditanggapi sama sekali. Apalagi mikir kerjaan. Buat apaaaa? Dikasih sakit ya fokus aja sama perawatan biar sembuh. Biar kalau kerja lagi bisa fokus. Bukan pas sakit mikir kerjaan. Enjoy takdir Allah yang memang harus begini. Nggak perlu menyalahkan Allah karena jalannya sudah begini. Ayok saling menyemangati biar imun tetap terjaga 💪

Air hangat madu dan lemon


10. Segera vaksinasi
Last but not least. Jika sudah dinyatakan sembuh, segera vaksinasi pakai jenis vaksin apapun yang tersedia! Nggak usah pilih-pilih vaksin, apalagi antivaks. Percayalah, vaksin sangat ngefek buat pandemi ini. Contohnya aja saya sudah vaksinasi lengkap, tetap kena Covid-19 tapi gejalanya lebih ringan dibandingkan suami saya yang belum dapat vaksinasi. 

Ingat ya! Vaksin bukan obat. Tapi tindakan preventif untuk meminimalisir tingkat penularan, gejala, hingga potensi kematian akibat virus Corona. 

Asli gedeg banget kalau ada teman yang masih tanya, "Buat apa vaksinasi kalau masih kena? Nggak efektif dong berarti?" 

Ya, menurut ngana, buat apa pakai helm kalau masih bisa gegar otak gara-gara kecelakaan? Intinya, helm dan vaksin adalah bagian dari ikhtiar. Tentu beda dong yang kecelakaan pakai helm dan nggak pakai helm? 

Semoga yang antivaks dan masih pilih-pilih vaksin segera 'bertaubat' demi kemaslahatan kita bersama 😁

SC: kompas.com


Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Kuliner: Lontong Kupang

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura