Hell-O! 2022, Hope For the Better Ones

Life is full of jumpalitan

2021 sudah berakhir. Rasanya campur aduk sekali setahun belakangan ini. Tapi bersyukur banget saya dan keluarga sempat merasakan liburan di saat angka covid sedang landai.

Percaya nggak percaya, dibandingkan dengan 2020, bagi saya 2021 adalah puncak stres alias burn out bagi saya dan suami. Saya pernah mendapatkan survey, apakah pandemi membuat keadaan keluarga memburuk atau justru semakin terjalin bonding?

Jujur saja, 2020 saya belum merasakannya. Tapi memasuki pertengahan 2021, masyaallah rasanya burn out dari segala sisi. Mulai finansial sampai emosional. Makanya saya nggak nyangka bisa melewati 2021 dengan melet bahagia pada akhirnya.

Flash back 2021, saya mendatangi seorang psikolog keluarga karena saya mulai jenuh dengan kondisi keluarga. Saya jadi gampang marah pada Elif walaupun masalahnya sekecil upil dan menjadi sangat jenuh dengan rutinitas. Hadeeeh...

Ternyata, kata psikolog, saya yang dibesarkan dengan pola pengasuhan salah (selalu dibandingkan dengan saudara atau anak teman ibu dan sangat jarang diapresiasi) membuat saya melampiaskan kemarahan pada Elif dan menjadi kurang bersyukur. Kok bisa?

Ya bisa saja. Karena dulu saya merasa diperlakukan tidak adil, membuat saya tidak nyaman, jadilah ketika saya punya anak, kenangan buruk itu menyeruak. Otomatis menuntut saya untuk "membalas dendam" pada anak.

Orang tua yang tidak menyadari siklus kesalahan pengasuhan ini pasti berpendapat biasa saja. Menganggap saya lebay atau kemenyek. Ya wajar. Kan, mereka nggak ikut merasakan jadi saya :)

Semangat hidup waras!


Jujur, sejak menjadi orang tua, saya bersumpah tidak akan mau membandingkan anak saya dengan anak siapapun. Karena setiap orang tua pasti punya drama masing-masing dan saya nggak mau tahu dengan pola pengasuhan orang lain. Pengalaman dibandingkan dengan orang lain (yang memang waktu itu jauuuuh lebih pintar dari saya, walaupun sekarang kenyataannya mereka umumnya pengangguran. But hey! Menjadi pengangguran adalah pilihan, so, I don't really care!) membuat saya kapok dan mewanti-wanti. I must be focus on my child. Harus!

Makanya, saya total banget buat ngurus tumbuh kembangnya Elif. Elif bermasalah dengan pola makannya? Langsung ke dokter subspesialis nutrisi dan metabolik buat terapi oromotor. Saya kejar BB dan TB agar sesuai dengan usianya dan tidak berdampak pada penurunan kecerdasan di masa mendatang. Elif alergi (karena saya dan suami punya riwayat alergi), ya saya bawa ke dokter subspesialis alergi, agar tidak semakin parah reaksinya. Elif sakit gigi? Ya saya bawa ke dokter gigi anak. Saya siapkan dana pendidikan Elif yang maksimal agar nantinya bisa masuk ke sekolah yang berkualitas. Semuanya saya dan suami pikir dan pertimbangkan. Demi Elif.

Tapi, di luar itu saya mikir. Masa iya, sih, tujuan hidup saya untuk memberikan hidup keluarga yang berkualitas, tapi saya mengabaikan kualitas hidup saya sendiri?

Jadi, di 2022 ini saya bertekad untuk bisa lebih waras dan fokus pada tujuan. Membawa visi misi keluarga kecil mencapai tujuan hidup yang lebih berkualitas dan waras. I really don't care what people say about me. Yang saya perlukan hanya fokus pada tujuan agar hidup menjadi lebih nyaman untuk dilalui 👌

Selamat Tahun Baru 2022 🥳 Semoga PR untuk berkomunikasi asertif dan penuh empati bisa pelan-pelan saya terapkan demi hidup berkelanjutan 😉




Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan