Berproses untuk Tumbuh dan Berkembang Bersama

Parenting is not easy

Pernah nggak, sih, kalian menyadari apa yang menjadi bagian tersulit dalam mengasuh anak?


Kalau saya, bagian tersulit dalam mendidik anak adalah memastikan anak tumbuh dan berkembang tanpa intervensi, sesuai dengan fitrahnya. Jujur, ini sangat sulit diterapkan. Karena bagaimanapun, inner child, pengalaman pengasuhan di masa kecil sangat berpengaruh dalam mendidik anak kita.

Trauma pengasuhan saat kecil akibat sering dibentak, dilarang, dibandingkan, tidak dihargai, pasti berpengaruh dalam proses mendidik anak. Karena bagaimanapun, kenangan buruk itu memaksa, dalam hal ini saya, untuk merewind kejadian itu dan tidak sengaja melakukannya pada Elif.

Triwulan kedua tahun lalu saya mendatangi psikolog keluarga untuk berkonsultasi masalah kejiwaan. Karena saya menjadi sangat emosional dan tidak menerima jika Elif tidak menurut apa yang saya minta. Padahal, kalau dilihat lebih jernih lagi, Elif bukan saya, dia berhak menolak apa yang saya minta.

Kata psikolog, trauma pengasuhan membuat saya menerapkan perasaan yang dulu saya rasakan dan menurunkannya pada Elif. Padahal, inner child ini, trauma ini, tidak seharusnya diwariskan dan harus diputus rantainya!

Saya tidak mau punya anak yang menurunkan sifat keras kepala seperti saya. Maka saya berusaha menggali, apa yang salah dalam diri saya? Saya pasti bisa berubah menjadi pribadi yang lebih santai dalam menghadapi masalah. Pribadi yang lebih disukai oleh Elif sampai dia merasa perlu menjadi teman dekat saya. Saya tidak ingin jadi orang tua otoriter, karena saya sudah merasakan diintervensi itu tidak nyaman. Karena itulah, saya memasang target dan cita-cita untuk menjadi ibu yang nyaman bagi keberadaan Elif sampai kapanpun.

Tapi tahu? Kata psikolog, saya justru kurang bonding dengan Elif!

What are you talking about, hah?

Saya nangis waktu dibilang begitu. Saya pikir, saya yang selama ini di tengah liputan menyempatkan pulang, bermain dengan Elif, sudah cukup akrab dan lekat dengannya. Tapi kok malah dibilang kurang bonding?

Katanya, selama ini bukan jiwa saya yang dekat. Tapi hanya fisik. Dekat secara fisik berbeda dengan secara batin.

Ya Allah, saya betul-betul nangis. Karena, ya rasanya kayak sia-sia aja gitu. Saya sempatkan pulang, pergi ke taman saat akhir pekan atau sore hari, masih dibilang kurang bonding?

Astaghfirullah 😭😭😭

Saya dibilang, terlalu fokus untuk memperbaiki rumah, tapi melupakan nadinya. Mengabaikan kebutuhan batin suami dan anak, sehingga jika ada yang menyenggol, otomatis senggol bacok mode ON.

Saya tidak terima dibilang begitu. Maka saya berjanji segera memperbaiki kualitas hubungan dengan suami dan Elif. Saya ajak main tanpa gadget, ngobrol santai, dan apapun yang memang bikin Elif merasa bahagia.

Senang, loh, waktu tahu Elif merasa bahagia dan happy banyak main sama saya. Rasanya, datang psikolog untuk minta bantuan ada hasilnya. Sebelumnya, saya beberapa kali menemukan Elif melamun dan tidak mau saya peluk. Ternyata ketika saya tanya kenapa begitu? Dia bilang takut sama saya karena sering ngamuk. Dia tidak bahagia. Dan penyebabnya karena saya 😭

Bayangkan, saya pikir, saya kerja keras untuk hidup yang lebih baik dan berkualitas, tapi ternyata Elif tidak butuh hasil usaha saya. Dia hanya butuh waktu bermain bersama saya. Rasanya hancur tahu fakta itu 😭

Sejak dari psikolog, memang sesekali saya masih ngomel masalah kecil. Elif pun menempatkan saya pada posisi apa-apa harus saya. I'm fun with it.

Tapi, semua kembali berubah saat ada hal yang sangat sensitif disenggol oleh keluarga. Ketika saya dan suami berusaha memperbaiki kondisi di dalam rumah tangga, orang tua dan saudara saya malah menjatuhkan harga diri saya. Hancur lebur rasanya 😭😭😭

Saya kembali uring-uringan karena merasa tidak dihargai. Sangat tidak dihargai. Dilecehkan. Dan saya sangat merasa butuh bantuan.

Awal tahun ini saya kembali ke psikolog. Saya ceritakan apa yang saya alami. Apa yang membuat saya marah besar, tidak nyaman, stres berkepanjangan, dan banyak hal. Saya ceritakan upaya saya dalam proses self control, self healing, mulai journaling, mencatat semua perasaan yang saya alami setiap hari. Membatasi gadget dan lebih tidak peduli pada sekitar.

Tapi belum mempan.

Tumbuh bersama


Psikolog pun meminta saya untuk self healing di lokasi. Menulis surat untuk Elif, suami, ayah dan ibu, serta diri saya sendiri. Saya diminta menulis semua unek-unek yang saya rasakan. Yang ingin saya perbaiki demi keberlangsungan keluarga yang harmonis.

Prosesnya sangat lama. Hampir tiga jam saya berkeluh kesah dan pulang dengan kepala berat saking pusingnya kebanyakan menangis.

Surat yang saya tulis untuk suami saya berikan ketika mulai tenang. Saat membacanya, suami menangis. Begitu pula ketika saya membacakan surat yang saya tulis untuk Elif. Saya menangis dan Elif hanya diam memeluk saya 😔

Tapi satu hal yang saya percaya, kini saya bisa sedikit menjadi lebih fokus pada keluarga kecil. Saya menjadi lebih percaya dan menghargai dengan semua hal yang dilakukan Elif dan suami. Sedikit demi sedikit saya mencoba mengubah persepsi. Dari semula harus memiliki kontrol penuh atas keluarga, kini menjadi sedikit woles. Dari semula ikut tantrum saat Elif tantrum, sekarang menjadi lebih biasa saja. Karena kuncinya, sebelum memegang anak tantrum, ngamuk, rewel and so on, saya harus waras lebih dulu.

Kalau Elif mulai tantrum, saya hanya duduk diam di depannya bersimpati. Saya tawarkan pelukan. Jika menolak dan tetap jerit-jerit, ya saya biarkan. Saya mencoba memahami perasaannya yang tidak nyaman. Yang mungkin tidak bisa dia ungkapkan.

Kadang butuh 45 menit bagi Elif untuk tenang setelah nangis meraung-raung, teriak-teriak, tidak mau dipeluk. Kadang 30 menit. Kadang hampir satu jam. Terserah dia kuatnya berapa lama 🥴

Tapi kini setidaknya saya bisa lebih memahami perasaannya. Ketika dia sudah mau dipeluk dan mulai tenang saya tanya, "Elif sedih ya? Marah? Perasaannya nggak nyaman? Ibu tahu rasanya memang nggak enak. Kita tarik napas dulu ya, biar tenang."

Jujur, setiap saya membantu Elif untuk memvalidasi perasaannya, ada rasa haru yang saya rasakan. Karena wow! Saya bisa melakukannya! Saya bisa mengapresiasi tindakan ini. Dan itu membuat perasaan saya lebih lega.

Dulu? Boro-borooo ngomong begitu. Saya pasti ikut geregetan lihat Elif tantrum. Membentak? Sering. Mengancam? Sering juga. Yang paling sering bilang, "Diam nggak? Diam dulu!"

Padahal, kenapa siiiih, anak tantrum nggak dibolehin? Kenapa, siiih, dia nggak dibolehin mengenal perasaannya? Kenapa, siiih, anak tantrum harus segera ditenangkan?

Ya, karena orang tua kita kebanyakan mengajarkan begitu. Dan saya tidak mau begitu 🙂

Bukan berarti orang tua saya gagal mendidik anak-anaknya ya. Saya tetap sangat bersyukur menjadi anak dari orang tua saya. Dididik dengan pendidikan berkualitas, makanan bergizi, bernutrisi, dan tentu saja halal. Diberi pengetahuan yang luas. Pendidikan agama yang mumpuni. Nilai-nilai kehidupan dan kejujuran yang membuat saya tidak tertarik untuk memakan hak orang lain. Betapa mungkin jika orang tua saya bukan ayah ibu, saya tidak akan diberi kekayaan nilai dan moral seperti itu. Tapi ada satu dua hal yang kurang cocok dalam pengasuhan, rasanya tidak masalah ya. Every parent have their own style 🙂

Tau nggak, sih, sejak saya berproses ini, Elif menjadi sangat apa-apa ke saya? Saya senang karena dibutuhkan dan menjadi orang yang paling dicari oleh Elif. Apalagi ketika Elif bilang, "Kenapa, sih, ibuk tahu semuanya?" Atau "Ibuk kok bisa semuanya ya?"

Ya Allah, rasanya dihargai itu seperti ini. Bahagia luar biasa. Walaupun mungkin, apa yang saya ajarkan adalah hal remeh, tapi saya tahu, Elif percaya pada saya. Elif menaruh kepercayaan penuh pada saya dan suami. Itulah mengapa, menjadi orang tua yang baik itu sulit. Karena, apa yang kita lakukan, kita katakan, selalu dipercaya anak. Perkataan buruk, labeling, juga pasti dipercaya. That's why, berkata baiklah atau diam.

Saya masih terus berproses. Dan menjadi lebih baik itu memang prosesnya panjang 🙃



*ps mendidik anak lebih mudah tanpa campur tangan orang ketiga even orang tua sendiri. Apalagi bagi orang tua yang masih berproses seperti saya 🙂



 Berproses dan bertumbuh bersama

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan