Pengobatan Anak Alergi: Skin Prick Test dan Imunoterapi

cr: depositphotos

Jauh sebelum menikah, saya meyakini bahwa akan menurunkan bakat alergi pada anak jika suatu saat menikah dan punya anak. Ya, tentu saja, karena saya memiliki riwayat alergi. Apalagi ternyata, suami pun juga memiliki riwayat alergi yang sama dengan saya. Sama-sama alergi dingin dan debu. Jadi kebayang nggak, di dalam rumah tangga yang tiap pagi selalu nggebres-nggebres bersin dan hidung buntu tiap pagi? :)))

Menurut artikel dan beberapa catatan yang pernah saya baca (dan sedikit pelajaran di zaman kuliah), alergi tidak selalu diturunkan oleh orang tua. Tapi peluangnya menjadi lebih besar jika kedua orang tua memiliki bakat alergi. Jadi, setiap anak memang ada bakat alergi walaupun kedua orang tuanya tidak punya riwayat alergi. Apalagi kalau orang tuanya ada alergi.

Saya kutip dari laman bebeclub. Persentase risiko anak menderita alergi adalah sebagai berikut:

• 60-80% jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi dengan manifestasi sama.

• 40-60% jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi.

• 25-35% jika saudara kandung memiliki riwayat alergi.

• 20-30% jika salah satu orang tua memiliki riwayat alergi.

• 5-15% jika orang tua tidak memiliki riwayat alergi.


Saat usia Elif 18 bulan dan tuntas menjalani terapi oromotor, dr Nur Aisyah, Sp.A(K) atau dr Nuril menyarankan untuk tes alergi karena tahu jika saya dan suami memiliki bakat alergi. Khawatirnya, Elif yang baru saja lahap makan dan bisa ngoceh, makannya jadi terkendala lagi karena ada bakat alergi.

Waktu itu, Elif dirujuk ke dr Zahra Hikmah, Sp.A(K) subspesialis alergi dan imunologi di RSI Jemursari. Kata beliau, Elif nggak perlu tes alergi, cuma eliminasi makanan saja sudah cukup. Karena tes alergi juga tidak menjamin anak untuk bisa sembuh dari alergi.

Waktu itu saya cuma mikir, disuruh eliminasi makan tapi nggak dikasih tau gimana caranya? Oh, mungkin karena saya nggak tanya. Mungkin juga karena saya kurang baca sebelum konsultasi. Duh, ini, sih, kesalahan banget ya. Karena mestinya sebelum konsultasi ya kudu baca-baca dulu!

Monmaap, pengalaman ke dr Nuril, saya buanyak bangettt baca-baca buku, jurnal, dan artikel sebelum menghadap kali pertama. Kenapa? Karena kesan dr Nuril galak banget astaga. Jadi saya nggak mau disemprot gara-gara kurang info saat konsultasi :))))


Lil gurl


Long story short, Elif lancar jaya makannya. BB dan TB nya pun naik banget sesuai usia. Ini, sih, yang bikin saya makin seneng dan PD karena usaha mengantarkan Elif terapi nggak sia-sia. Ya bayangin, waktu dan uang yang dikeluarkan nggak sedikit jeh, masa iya harus berakhir sia-sia. OGAH! :))))

Tapi semua menjadi berbeda ketika saya menemukan badan Elif bintik-bintik merah disertai gatal saat usianya 3 tahun. Waktu itu saya nggak ngeh kalau itu karena alergi. Makan semua jenis makanan pun masih jalan terus. Sampai saya menyadari satu hal: kok kakinya Elif jadi jelek banget kulitnya, Ya Allah...

Banyak bekas bintik merah yang menghitam disertai dengan kulit kering. Saya kurang suka lihatnya karena pasti ini nggak wajar.

Tapi kata suami, "Alah, paling juga nanti sembuh sendiri."

Hah! Monmaap, nggak bisa gitu ya, sama saya. Saya langsung kasih alasan kalau Elif pasti keluar alerginya karena ayah ibunya punya bakat alergi. Tidak lupa ngomongnya pakai ngegas ya biar kerasa kalau ini tuh nggak bisa disepelekan ðŸĪŠ

Ya udah lah ya... saya pun ke RSI Jemursari dan konsul ke dr Zahra Hikmah, SpA(K). Konsul sama beliau, saya diarahkan untuk terapi di rumahnya saja karena jaraknya superrr dekat dengan rumah saya. Alhamdulillah lagi-lagi saya merasa beruntung. Dulu di Nameera juga begitu. Jaraknya dekettt banget di rumah, sekarang pun.


Di awal sudah ditekankan kalau skin prick test dan imunoterapi tidak akan membuat alergi anak hilang. Karena skin prick test bersifat untuk mendeteksi jenis alergi yang diderita. Sedangkan imunoterapi berperan untuk menekan risiko keparahan akibat reaksi alergi.

Baiklah, kami bersalaman tanda sepakat.

Elif akhirnya diskin prick test, tes alergi dengan memasukkan alergen ke dalam kulit tangan. Caranya, lengan tangan ditusuk sampai ada sedikit goresan, lalu ditetesi beberapa jenis alergen. Mulai tomat, telur, debu, ayam, cokelat, susu, dan lain sebagainya, pokoknya yang sering memicu reaksi alergi.

Dua puluh menit berselang, hasil menunjukkan jika seluruh kulit Elif yang ditetesi alergen bentol-bentol dan merah-merah. Artinya fix, Elif alergi. Alerginya dominan mengarah pada alergi makanan dan diagnosa utamanya dermatitis atopi, alergi yang reaksinya banyak mengarah pada masalah kulit. 

Dari hasil tersebut, saya ditanya kembali, apakah fix mau imunoterapi? Biayanya 200 ribu sekali suntik (harga jika suntik di rumah dr Zahra. Kalau di RSI Jemursari 300 ribu) dan Elif butuh 26x suntik selama setahun. Saya tersenyum kecut di dalam hati membayangkan biaya yang harus dikeluarkan. Apalagi kalau pas imunoterapi ternyata butuh resep tambahan, jadi ya beda lagi harganya. Tapi saya pikir, pengalaman terapi oromotor yang habis delapan-sembilan jutaan pernah dijabanin, sekarang imunoterapi ya mau nggak mau dijabanin juga. Nanggung jeh udah nyampe sini ðŸ™ƒ


Bentol semua

Oh ya, biaya skin prick test 1 juta rupiah. Itu tesnya di rumah praktek dr Zahra. Kalau di RSI Jemursari tentu saja pasti harganya berbeda ðŸ‘Œ

Sebelum menjalani imunoterapi, Elif diwajibkan eliminasi makanan selama tiga minggu. Dalam eliminasi makanan, Elif hanya diperbolehkan makan tahu, tempe, dan daging sapi atau kambing. Sayuran terbatas wortel, buncis, kentang, bayam, dan kangkung. Untuk snack, Elif hanya boleh makan kue lapis, bikang, dan kue mangkok. Susu, produk turunan susu, telur, daging ayam, seafood, ikan air tawar, dan yang lain disebutkan di atas, tidak boleh.

Saya makin kecut saat membaca list menu makanan yang diperbolehkan. Kasihan bangetlah. Elif yang biasanya makan bisa sampai 4x sehari, sekarang makan harus dibatasi. Minum susu pun harus soya. Jelas masa-masa eliminasi awal ini menggerus berat badannya.

But, it's okay. Namanya juga ikhtiar.

Setelah tiga minggu, imunoterapi pun dilakukan. Selama 14 minggu awal, setiap Sabtu Elif disuntik. Baru selanjutnya suntik dilakukan pertiga minggu sekali selama 12x. Tapi sayang, baru jalan 3x suntik, kami sekeluarga kena covid, PPKM diberlakukan, jadwal imunoterapi pun harus diulang dari awal.


RSI Jemursari

Imunoterapi diulang dari awal sambil pelan-pelan mencoba makanan yang sempat dieliminasi. Cara mencobanya tidak sembarangan. Karena satu jenis makanan, dicoba selama seminggu. Tapi kalau baru nyoba sudah timbul alergi, maka coba-coba makanan pun distop. Baru boleh nyoba lagi kalau reaksi alergi sudah hilang.

Jadi misal, tanggal 1 April Elif nyoba telur. Aturan nyoba sampai tanggal 7 tapi ternyata di tanggal 3 April sudah ada reaksi alergi berupa gatal dan bentol-bentol. Jadi di hari ketiga itulah Elif stop makan telur. Kapan boleh nyoba lagi? Nanti setelah berselang tiga bulan berikutnya. Nyoba-nyoba makanan juga tidak diperbolehkan kalau Elif pas batuk, pilek, diare, atau pas lagi sakit apa aja.

Agak tricky memang ini ya. Jujur, kadang saya udah males banget sama proses imunoterapi ini karena prosesnya lamaaa banget. Beda sama oromotor yang total hanya 4 bulan aja. Ini hampir setahun dan Elif baru lolos susu sapi dan produk turunannya ðŸ™ƒ

Apalagi ketika saya menemukan fakta baru kalau Elif sekarang ikut bersin-bersin dan pilek kadang buntu kalau kedinginan kena AC. Begitu saya tanyakan dr Zahra, apakah alergi bisa bertambah? Jawabnya iya. Saya langsung "HADEEEEHHH" di dalam hati ðŸ˜Đ

Asli bikin jenuh ikut rangkaian imunoterapi ini. Memang ada hasilnya karena jadi lebih selektif kalau benar-benar nurut dokter. Tapi setahun banget Ya Allah...

Saya tahu Elif memang masih semangat buat disuntik imunoterapi. Karena dia merasa perlu agar bisa kembali makan apa aja seperti dulu. Yaa, kalau Elif aja semangat, masa iya saya mesti mutung tengah jalan? Nanggung banget udah tinggal 6x suntik dan entah ada proses apalagi setelahnya. Jadi yaa, mari bekerja lebih keras lagi ðŸ’ŠðŸ―

                                                                     Imunoterapi

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pengalaman Menginap di Bandara Changi Singapura

Makanan Khas Negara ASEAN Ini Jangan Sampai Kamu Lewatkan