Wednesday, May 24, 2017

Mengintip Budidaya Terumbu Karang di Pantai Bangsring Banyuwangi



Sudah ketiga kalinya saya datang ke Pantai Bangsring Banyuwangi. Namun baru kali ini bisa melihat sekaligus merasakan langsung bagaimana caranya menanam terumbu karang. Pasti kalian sudah tau kalau ekosistem laut sangat bergantung dengan terumbu karang. Itulah sebabnya, merawat terumbu karang yang telah rusak penting dilakukan untuk memperhatikan keberlangsungan kehidupan laut di masa mendatang.

Nah, Pantai Bangsring di Banyuwangi ini adalah satu dari sekian banyak wilayah di Indonesia yang mengalami kerusakan terumbu karang cukup parah. Hasil ngobrol dengan Pak Sukir, wakil ketua asosiasi kelompok nelayan, cukup membuat saya takjub. Sebab selama ini, kurangnya kesadaran nelayan dan penduduk sekitar akan pentingnya menjaga ekosistem laut membuat terumbu karang di perairan dekat pemukiman warga ini rusak. Tentu saja ini membuat pendapatan nelayan menurun drastis karena tak ada ikan yang bisa ditangkap. Terlebih, akibat rusaknya wilayah perairan sekitar mereka menyebabkan rute melaut beralih ke Indonesia Timur. Semakin jauh dan semakin mengancam keselamatan jiwa.



Dari latar belakang itulah yang membuat nelayan Bangsring sadar. Tahun 2009 mereka mulai menginisiasi gerakan penyelamatan terumbu karang di perairan Pantai Bangsring dengan melakukan penanaman bibit terumbu. Sifat terumbu karang yang sulit tumbuh, hanya 1 centimeter pertahun, membuat nelayan sadar jika merawat ekosistem laut amat sulit.

Delapan tahun berjalan, terumbu karang mulai tumbuh dan menjadi habitat bagi ikan-ikan hias. Yang paling penting, kehadiran ekosistem laut meningkatkan potensi ekonomi bagi nelayan sekitar. Jika dulunya nelayan hanya mampu menghasilkan uang sebesar 50 ribu rupiah perhari dari hasil menjual ikan, kini bisa mencapai jutaan rupiah. Kok bisa?



Soalnya, mereka juga membuka wisata laut yang kini bisa dinikmati banyak orang. Dari terumbu karang, wisatawan pasti tertarik untuk snorkling, melihat-lihat terumbu karang dikelilingi ikan hias. Mau yang berbeda? Bisa ikut dalam gerakan menanam terumbu karang seperti yang saya lakukan. Biasanya, yang bisa ikut menanam adalah kelompok atau komunitas. Jadi, kalau perorangan belum bisa dilakukan.



Di situ, kalian akan diajarkan bagaimana cara menanam terumbu karang pada pipa paralon, mengikatnya menggunakan, tali dan memastikan terumbu tetap dalam kondisi basah. Secara morfologi, ciri terumbu karang yang masih hidup adalaha licin seperti ada lumut. Terumbu yang masih hidup ini hanya mampu bertahan dalam kondisi tanpa air kurang dari satu menit. Makanya, harus cepat-cepat mengikatnya.



Suasana menanam terumbu karang ini seru sekali. Saya menyukainya. Apalagi saya dan rombongan Bank Indonesia diwajibkan untuk melakukan penanaman minimal satu karang. Setidaknya, biar pernah tahu rasanya menanam terumbu karang. Progres penanaman ini akan dilaporkan secara berkala oleh kelompok nelayan Bangsring.



Nah, gimana? Tertarik juga buat ikut gerakan menanam terumbu karang? Segitu susahnya menunggu terumbu karang tumbuh, semoga membuat kita selalu sadar dan konsisten dalam menjaga ekosistem laut.