Posts

Mancal Kulineran: Nasi Cumi Pasar Atum Ibu Atun

Image
Mancal amatiran Delapan bulan pandemi dan saya masih di Surabaya. Luar biasa. Jarang-jarang saya bisa betah goleran di rumah aja dalam kurun waktu selama itu. Kalau nggak karena pandemi, yaa nggak bakalan betah di rumah aja, wkwk. Karena saya sudah mulai sangat bosan di rumah aja, maka saya berinisiatif untuk melakukan hal berbeda. Ya kali delapan bulan pandemi hidup saya nggak ada manfaatnya sama sekali selain goleran dan males-malesan. Maka, ketika suami membelikan sepeda bekas dan smartband, saya pun mengajak untuk mancal bareng-bareng. Sementara Elif dititipin Ummah bentar. Kami pacaran dulu 😚. Pacaran tipis-tipis Rute mancal yang saya rencanakan adalah Jalan Gula, kawasan kota lama Surabaya gitulah. Niatnya memang cuma mau mejeng sepeda lalu jepret di tembok legendarisnya Jalan Gula. Habis itu bablas. Tapi, karena jam sudah menunjukkan waktunya saya makan, akhirnya kami melipir. Melipirnya sebenernya mau ke Nasi Cumi kaki lima yang buanyak ditemukan di sekitar Pasar Atum

Ketika Ibuku Positif Covid-19

Image
Perawat juga berjemur Sudah lebih dari enam bulan pandemi berlangsung. Tidak ada tanda-tanda kasus menuju puncak klasemen. Apalagi kurva berbelok. Semuanya masih semu. Ditambah kebijakan pemerintah yang tewur membuat masyarakat menganggap Covid-19 telah lenyap. Kehidupan berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. Meski tak sepenuhnya normal.  Namun, percayalah, sesungguhnya petaka itu justru kian dekat. Melekat pada denyut nadi kehidupan sehari-hari. Covid-19 itu nyata. Berhenti menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Sampai kalian, teman, atau keluarga kalian yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kalau kalian saat ini merasa sehat tanpa masker, tanpa menjaga jarak, tanpa peduli mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, itu bukanlah karena beruntung. Tapi justru karena belum. Tunggu waktunya saja. Sudah sejak awal pandemi saya mengantisipasi keluarga untuk mentaati protokol kesehatan. Saya membelikan masker kain dan masker medis untuk kedua orang tua yang sama-sama rentan.

Berkah Pandemi: Berhasil Menyapih dengan Cinta dan Toilet Training

Image
My baby grow up fast   Sudah dua bulan lebih pandemi tak kunjung reda. Tapi saya yakin, every single thing has a reason. Pandemi tak melulu soal aktivitas kita yang menjadi terbatas. Tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang ada di tengah pandemi. Dua hal yang sangat saya syukuri selama pandemi adalah: Elif berhasil toilet training dan menyapih. Alhamdulillaah, tanpa kesulitan sama sekali, dua hal yang sebelumnya saya kira sangat sulit dilakukan, malah menjadi sangat mudah dikerjakan. Main terus   sama ibu Memang, selama pandemi saya lebih banyak di rumah. Otomatis perhatian saya jadi lebih banyak ke Elif. Saya pun bertekad untuk mencoba mengajak Elif agar siap tanpa popok. Sebenarnya, afirmasi terkait lepas popok sudah saya lakukan sejak Elif belum genap umur dua tahun. Saya sampaikan, kalau dia sudah besar, mandiri, dan bukan bayi lagi. Tapi kala itu saya belum serius niat lepas popoknya Elif. Baru benar-benar niat saat pandemi. Hanya butuh waktu tiga hari bagi Eli