Posts

Belajar Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

Image
Gedung RSKI khusus pasien Covid-19 Sembilan bulan berlalu. Pandemi bak sembilu. Ditunggu segera berlalu. Namun justru mirip benalu. Pilu.  Jujur, pandemi membuat saya banyak belajar hal baru. Entah tentang keikhlasan, kesabaran, atau mencoba sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.  Teringat di awal tahun menyambut hari dengan penuh optimisme. Merancang banyak momen kebersamaan. Perlahan surut menjadi sebuah ketakutan, keputusasaan. Namun belajar untuk bertahan menjadi keniscayaan.  Awal Maret Covid 19 kali pertama diumumkan pemerintah. Pengumuman yang terlambat karena sebuah kecerobohan. Penanganan pandemi yang tak logis membuat seluruhnya tampak main-main. Namun gelombang pemutusan hubungan kerja terus menghantam.  Ingat sekali mimpi buruk itu menerjang di malam-malam panjang. Ketika kali pertama diumumkan gaji bulanan akan dipangkas. Menyusul sejumlah rekan yang dirumahkan. Gemetar. Khawatir. Terseret hingga alam bawah sadar. Makan tak selera. Emosi menjadi labil.  Saya tak s

Mancal Kulineran: Nasi Cumi Pasar Atum Ibu Atun

Image
Mancal amatiran Delapan bulan pandemi dan saya masih di Surabaya. Luar biasa. Jarang-jarang saya bisa betah goleran di rumah aja dalam kurun waktu selama itu. Kalau nggak karena pandemi, yaa nggak bakalan betah di rumah aja, wkwk. Karena saya sudah mulai sangat bosan di rumah aja, maka saya berinisiatif untuk melakukan hal berbeda. Ya kali delapan bulan pandemi hidup saya nggak ada manfaatnya sama sekali selain goleran dan males-malesan. Maka, ketika suami membelikan sepeda bekas dan smartband, saya pun mengajak untuk mancal bareng-bareng. Sementara Elif dititipin Ummah bentar. Kami pacaran dulu 😚. Pacaran tipis-tipis Rute mancal yang saya rencanakan adalah Jalan Gula, kawasan kota lama Surabaya gitulah. Niatnya memang cuma mau mejeng sepeda lalu jepret di tembok legendarisnya Jalan Gula. Habis itu bablas. Tapi, karena jam sudah menunjukkan waktunya saya makan, akhirnya kami melipir. Melipirnya sebenernya mau ke Nasi Cumi kaki lima yang buanyak ditemukan di sekitar Pasar Atum

Ketika Ibuku Positif Covid-19

Image
Perawat juga berjemur Sudah lebih dari enam bulan pandemi berlangsung. Tidak ada tanda-tanda kasus menuju puncak klasemen. Apalagi kurva berbelok. Semuanya masih semu. Ditambah kebijakan pemerintah yang tewur membuat masyarakat menganggap Covid-19 telah lenyap. Kehidupan berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. Meski tak sepenuhnya normal.  Namun, percayalah, sesungguhnya petaka itu justru kian dekat. Melekat pada denyut nadi kehidupan sehari-hari. Covid-19 itu nyata. Berhenti menganggap Covid-19 adalah konspirasi. Sampai kalian, teman, atau keluarga kalian yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kalau kalian saat ini merasa sehat tanpa masker, tanpa menjaga jarak, tanpa peduli mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, itu bukanlah karena beruntung. Tapi justru karena belum. Tunggu waktunya saja. Sudah sejak awal pandemi saya mengantisipasi keluarga untuk mentaati protokol kesehatan. Saya membelikan masker kain dan masker medis untuk kedua orang tua yang sama-sama rentan.